Jendela Buku

Permainan Takdir dan Penentuan

Sabtu, 7 October 2017 06:31 WIB Penulis: Hera Khaerani

Novelis Yusi Avianto Pareanom mengajak pembaca menyelam ke dalam palung-palung tergelap jiwa manusia, tempat asal-muasal seseorang sanggup melakukan apa saja.

ALFION adalah seorang buron yang sudah lama dicari polisi. Serentetan tindak kejahatan pernah dilakukannya, membuatnya bolak-balik harus berurusan dengan aparat dan jeruji besi.

Tiga bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-41, dia dan seorang kawannya membunuh seorang juragan karet di Sumatera Selatan, juga melukai dua pengawalnya. Tim buru sergap menewaskan kawan Alfion, sedangkan dia sendiri berhasil melarikan diri masuk Provinsi Bengkulu tanpa luka sedikit pun. Itu bukan pertama kalinya dia lolos dari situasi tembak-menembak dengan aparat. Di bulan sebelumnya, dia merampok seorang pelancong asal Taiwan di Blok M dengan menempelkan parang ke leher turis itu. Terjadi aksi tembak dengan beberapa anggota kepolisian, tetapi dia lolos tanpa luka.

Saat usianya 27 tahun, Alfion terbukti bersalah memukuli dan memeras pemilik restoran masakan Tiongkok di Gang Pinggir. Pemilik restoran itu tak lain pamannya sendiri. Karena perbuatannya, dia harus mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Mlaten selama tiga tahun.

Dia sebenarnya pernah bekerja sebagai makelar jual beli motor dan mobil. Namun, menghidupi istri dan keempat anaknya dengan penghasilan sebagai makelar sangat berat. Istrinya mulai sering mengomel, mengeluhkan kondisi ekonomi mereka. Makanya ketika kawan lamanya sesama bekas penghuni Penjara Mlaten mengajak jadi penagih utang, dia langsung bersedia. Begitu pun ketika orang yang sama mengajaknya merampok rentenir pemberi pekerjaan mereka, dia manut tanpa berpikir dua kali. Rentenir itu menjadi korban pertama yang tewas di tangan Alfion.

Kejahatan Alfion tidak hanya dilakukan di jalanan, tapi juga di rumahnya sendiri. Dia menjual perhiasan peninggalan almarhum ibunya. Hal itu membuat ayahnya murka, lantas mengusirnya dari rumah. Namun, pencurian pertamanya terjadi empat tahun sebelum dia diusir dari rumah. Kala itu, Alfion mengambil uang dari laci meja ayahnya, lalu minggat selama sebulan. Sebagian besar uang dihabiskannya hanya dalam sepekan pertama, di kompleks pelacuran. Ia terpaksa pulang karena lapar dan kantongnya kosong.

Kepulangannya disambut dengan kemarahan sang ayah yang menghajarnya habis-habisan. Mulanya dengan tangan kosong, lalu rotan, dan terakhir rantai sepeda. Meski ia sudah berdarah-darah, ayahnya belum puas. Ayahnya baru berhenti menghajar Alfian ketika ibunya, yang saat itu masih hidup, memohon ampun untuknya.

Kecondongan Alfion pada tindak kejahatan sudah tampak bahkan saat dia masih duduk di sekolah dasar. Saat senam kesegaran jasmani, dia suka menghantamkan bola kasti secara bengis ke anak-anak lain. Ada yang hanya meringis kesakitan saat terkena, tetapi ada juga yang sampai terjerembap. Karena kelakuannya, bocah itu sampai tiga kali tidak naik kelas.

Itulah sekelumit kisah yang diangkat Yusi Avianto Pareanom dalam cerita berjudul Alfion. Cerita itu menjadi salah satu dari 21 kisah yang dituangkan dalam buku terbarunya, Muslihat Musang Emas. Kisah hidup Alfion cukup menarik. Dengan menjabarkan serangkaian tindak kejahatan Alfion sepanjang hidupnya, Yusi mengajak pembaca untuk ikut geram pada karakter tersebut. Namun, secara mengejutkan, sebelas baris terakhir cerpen tersebut (hlm 106) akhirnya menjelaskan dengan ringkas mengapa dia sampai memiliki agresi yang sedemikian rupa.

Yusi mengingatkan bahwa segala hal pasti ada sebab musababnya, kejahatan manusia pun pasti ada awal mulanya. Meski tidak lantas membenarkan semua kejahatan yang telah dilakukan, mengetahui hal ini membuat pembaca mau tak mau sedikit bersimpati pada tokoh Alfion.

Ini berkebalikan dengan tulisan Pak Pendek Anggur Cap Orang Tua Terakhir di Dunia di saat tokoh utama Jarwo digambarkan sering menjadi bahan olok-olok orang. Dia terlahir cebol dan sejak usia 12 tahun, mengikuti ayahnya mencari kodok di sawah. Karena tubuhnya yang cebol dan pekerjaannya, panggilan Jarwo Kodok pun melekat di dirinya. Sebagian warga desa sepakat bahwa ayah Jarwo kualat pada ribuan kodok yang sudah ia tangkap dan siangi selama bertahun-tahun.

Membaca kisah Jarwo, sulit untuk tidak merasa kasihan sekaligus marah kepada orang-orang yang berbuat jahat kepadanya. Namun, bukan Yusi namanya kalau tidak memiliki kejutan dalam tulisannya. Lewat Jarwo, penulis yang meraih penghargaan sebagai prosa terbaik Kusala Sastra Khatulistiwa 2016 untuk novel Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi itu mengajak pembaca menyelam ke palung-palung tergelap jiwa manusia, tempat asal muasal seseorang sanggup melakukan apa saja.

Permainan alur

Setiap cerita yang ditulis dalam buku ini, baik yang terbilang panjang maupun pendek, menawarkan permainan alur yang khas. Hal itulah yang menjadikan karya Yusi Avianto sebagaimana karyanya yang lain, selalu layak dinantikan.

Selain soal kriminalitas, cinta, terorisme, takdir, pendidikan, dan keluarga, ada tulisan dalam buku ini yang bertema politik. Dari 21 cerita, hanya tiga yang ditulis Yusi pernah dimuat di media lain dalam kurun 2013-2016, yakni Muslihat Musang Emas, Pemuda Penyayang, dan Ia Pernah Membayangkan Ayahnya Adalah Hengky Tornado. Selebihnya ditulis pada 2017. Maka tidaklah mengherankan jika banyak ceritanya menggambarkan beberapa kondisi yang aktual.

Misalnya Nasihat Bagus yang mengangkat soal Roy yang mantan wartawan politik, lalu banting setir menjadi buzzer politik. Reputasinya terancam terjun bebas ketika seorang bos partai baru yang juga pengembang besar di Indonesia tiba-tiba menyatakan dukungannya kepada Presiden Jokowi. Padahal, sebelumnya, bos partai itu menggunakan jasanya sebagai buzzer untuk mengampanyekan hal-hal positif tentang bosnya dan sebaliknya menghajar Jokowi lewat berbagai media sosial.

Kebaruan tulisan Yusi juga sangat kentara ketika di salah satu ceritanya, dia menyinggung soal banyaknya orang yang patah hati ketika mengetahui kabar pertunangan penyanyi Raissa. Karena hal itu terjadi di tahun ini, dipastikan tulisan tersebut pun diselesaikannya tahun ini sembari menangkap fenomena-fenomena yang sedang berlangsung di sekelilingnya.

Menariknya, membaca buku terbaru Yusi kali ini, pembaca pasti akan menyadari sejumlah nama yang familier. Beberapa tokoh ceritanya memiliki nama yang cukup terkenal seperti Joko Pinurbo, kelompok musik Soneta, dan Arswendo Atmowiloto. Diakui penulis asal Semarang itu, sebagian kisah dalam buku tersebut dipungutnya dari pengalaman teman-temannya. 'Nama mereka pun saya pakai tanpa permisi. Untuk kemurahan hati mereka, saya sampaikan terima kasih sedalam-dalamnya', tulisnya di lembar terakhir bukunya. Maka wajar jika sembari membaca, kita tergelitik untuk menerka-nerka bagian mana dari kisahnya yang nyata dan bagian mana yang fiksi belaka.

Namun, di antara semuanya, hal yang paling patut diacungi jempol untuk kelihaian Yusi bermain kata-kata. Cerita berjudul b.u.d menjadi salah satu buktinya. Dikisahkan tentang Budi yang terkesima lantas jatuh hati pada palindrom, yakni kata, rangkaian kata, atau bilangan yang terbaca sama, baik dari depan maupun dari belakang. Radar, taat, iri, sinis, dan makam hanyalah beberapa kata sederhana yang tergolong palindrom. Atau ketika dalam bentuk kalimat, contohnya seperti Kuat pedes? Sedep, tauk!

Dihadapkan dengan berbagai konflik yang dijalani, kehidupan tokoh utama cerita itu diwarnai dengan kecintaannya pada palindrom. Maka jelaslah, tantangan terbesar bagi Yusi sebagai orang di balik ceritanya ialah untuk menemukan palindrom dan bermain dengan kata-kata.

Menutup buku teranyar Yusi Avianto Pareanom ini dan melihat betapa sebagian besar memang bisa terjadi dalam kehidupan nyata, membuat kita merenungkan ungkapan lama 'Manusia berencana, tetapi Tuhan yang menentukan'. Bukankah juga benar adanya bahwa justru ada saatnya ketika terjadi sebaliknya, Tuhan berencana, tapi manusia yang menentukan? (M-2)

Judul : Muslihat Musang Emas

Penulis : Yusi Avianto Pareanom

Penerbit: Banana

Terbit : September 2017

Tebal : 245 halaman

Komentar