Jendela Buku

Berkaca pada Negeri Sakura

Sabtu, 7 October 2017 06:21 WIB Penulis: Her/M-2

RIZA Perdana Kusuma berangkat dari keluarga yang sangat sederhana. Bapaknya seorang pegawai negeri dan sehari-hari menjadi guru mengaji. Sama seperti perekonomian mereka yang sederhana, mimpinya pun tidak pernah terlalu tinggi. Ketika masih kanak-kanak, dia hanya memimpikan agar suatu hari, keluarganya bisa menerapkan aturan melepas alas kaki di luar rumah, sebagaimana yang berlaku di rumah Bu Lik.

Akan tetapi, berbeda dengan rumah Bu Lik yang berlantai keramik, lantai rumah mereka berbahan semen kasar. Wajarlah jika seisi rumah itu mengenakan alas kaki bahkan ketika di dalam rumah. Suatu hari ketika sedang liburan sekolah, alih-alih bermain, Riza memilih tinggal di rumah. Dia menyapu seluruh lantai rumah dan mengepelnya dengan pembersih lantai. Sayangnya, mau bagaimanapun dipel, tetap tidak terlihat mengilap karena memang dibuat agar tidak perlu dipel.

Menyaksikan apa yang dilakukan Riza pada rumah mereka, juga melihat aturan melepas alas kaki yang dipasangnya di pintu, orangtuanya justru marah. "Sudah enggak usah neko-neko, ini rumah, bukan masjid, jadi enggak perlu dilepas," kata bapaknya. Bukannya tidak mau, kala itu mereka memang tidak mampu mengganti lantai rumah dengan keramik.

Mimpinya yang lain ialah agar sang ayah mau mendaftar ikut program transmigrasi. Harapannya itu muncul berkat cerita yang didapat dari Anik, seorang teman sepermainannya yang keluarganya bertransmigrasi. Sebelum pergi, Anik mengatakan dengan meyakinkan bahwa tempat baru akan jauh lebih menyenangkan daripada Kampung Sayidan, tempat mereka tinggal. Keluarga yang ikut program transmigrasi akan mendapat rumah, lahan pertanian yang luas, modal kerja, dan gratis jaminan hidup selama setahun dari pemerintah. "Aku juga akan naik kapal laut yang besar," kata Anik berseri, sukses membuat Riza iri. Namun, tak peduli seberapa sering Riza meminta ibu dan bapaknya mendaftar program transmigrasi, hal itu tidak pernah terwujud.

Maka siapa yang mengira bahwa takdir akan membawa seorang Riza Perdana Kusuma jauh mengelana. Bukan hanya bertransmigrasi ke beda pulau, dia justru berkesempatan naik pesawat terbang untuk bekerja di Jepang. Ini lelaki yang sama yang semasa bocah kerap membongkar sampah di aliran Kali Code, berharap menemukan rupiah yang kebetulan terselip di dalam barang yang dibuang pemiliknya.

Bukan sekadar pergi ke Jepang, Riza justru bertolak ke 'Negeri Sakura' untuk menjadi general manager, memimpin kantor cabang Garuda Indonesia di Nagoya. Dia ditugaskan membuka kembali rute penerbangan dari Indonesia ke kota tersebut setelah sempat ditutup dua kali.

Kisah hidupnya dituangkan dalam bentuk novel berjudul Cahaya di Tirai Sakura, resmi diluncurkan di Jakarta, Kamis (28/9).

Dalam peluncuran buku perdananya, Riza mengaku bahwa ada banyak ketakutan yang memenuhi pikirannya sebelum diberangkatkan ke Jepang lantaran mendengar cerita dari orang-orang yang pernah menginjakkan kaki ke sana. Termasuk di antaranya nomikai alias budaya minum-minum sake dan alkohol di Jepang yang biasa dilakukan demi melancarkan bisnis.

"Saya merasa hal ini bertentangan dengan prinsip dalam diri saya sebagai seorang Jawa yang sejak kecil telah dididik dengan nilai-nilai keislaman oleh orangtua saya," kata lelaki yang juga anak guru mengaji itu.

Nyatanya setibanya di Jepang, ada banyak budaya di negara itu yang membuatnya jatuh hati dan kini tanpa ragu dia akan mengakui 'Negeri Sakura' sebagai negara keduanya. Jika pandai membawa diri, akan selalu ada jalan tengah antara prinsip hidup dan kebiasaan yang berlaku di masyarakat yang berbeda.

Gaya komparatif

Sebagian besar buku ini ditulis dengan gaya komparatif, membenturkan pengalaman Riza di Jepang dengan di Indonesia yang memiliki benang merah serupa. Kalaupun ada kekurangan gaya komparatif ini adalah dalam menjembatani antarkisahnya. Di halaman 138 ketika bercerita soal gaya hidup sehat orang Jepang, misalnya, Riza tiba-tiba bercerita tentang Profesor Yamamoto yang selalu mengundangnya untuk hadir di konser terang bulan yang diadakan di rumahnya. Tidak dijelaskan sebelumnya bagaimana seorang general manager sepertinya bisa bersinggungan dengan seorang guru besar Jepang, jadi terkesan terlalu tiba-tiba. Hubungannya dengan profesor tersebut baru bisa dikira-kira pembaca justru ketika masuk halaman 193, ketika dia menceritakan berjejaring dengan perguruan tinggi termasuk di antara strateginya untuk mengembangkan bisnis perusahaan sekaligus promosi Indonesia di sana.

Terlepas dari kekurangan itu, penyajian kisah hidup Riza dalam bentuk novel yang berkisah membuat pembelajaran di dalamnya bisa dinikmati dengan sangat mudah. Apalagi, ada juga kisah-kisah yang mengundang tawa. Selain menceritakan berbagai gegar budaya yang dialami di sana, ada banyak pelajaran marketing, keterampilan negosiasi, kepemimpinan, pengembangan diri, juga etos kerja yang bisa dipelajari dari buku ini.

Judul : Cahaya di Tirai Sakura

Penulis : Riza Perdana Kusuma

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Terbit : September 2017

Tebal : 216 halaman

Komentar