Opini

McDonalization PT dan Integritas Akademik

Sabtu, 7 October 2017 02:31 WIB Penulis: Bagong Suyanto Guru Besar Sosiologi FISIP Universitas Airlang

PA

KEPUTUSAN Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Mohamad Nasir mencopot Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ternyata tak membuat gentar yang bersangkutan. Profesor Djaali, eks Rektor UNJ, bahkan kini menggugat balik Menristek Dikti di PTUN karena menganggap SK pencopotannya sebagai rektor tidak sah. Terlepas bagaimana nanti hasil dari proses hukum yang akan berjalan, dari hasil temuan tim evaluasi kinerja akademik (EKA), Profesor Djaali tidak hanya diduga terlibat pembiaran aksi plagiat disertasi yang dilakukan mantan Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam dan pejabat Sultra lainnya, tetapi juga ditengarai melakukan praktik kurang terpuji dengan menjadi promotor 118 mahasiswa program doktor hanya untuk 2016. Pada 2015, Profesor Djaali tercatat meluluskan 64 mahasiswa program doktor. Dalam kurun waktu empat tahun, Profesor Djaali tercatat menjadi promotor 327 mahasiswa.

Jika honorarium sebagai promotor tiap mahasiswa program doktor katakanlah Rp3,5 juta saja, paling tidak untuk 2013-2016, Prof Djaali mengantongi insentif sebagai promotor lebih dari Rp1 miliar sebuah angka yang fantastis. Padahal, Pasal 28 Peraturan Menristek Dikti 44/2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi menyebutkan beban tambahan maksimal bagi seorang dosen menjadi promotor disertasi hanya 10 mahasiswa. Dengan jumlah bimbingan sepuluh kali lipat lebih banyak dalam setahun, tentu wajar jika Rektor UNJ yang telah dicopot dari jabatannya itu dinilai banyak pihak melanggar asas kepatutan.

McDonalization PT
Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan tim EKA Kemenristek Dikti, selama ini ada sejumlah kebijakan yang dikeluarkan Prof Djaali ketika menjadi Rektor UNJ dinilai telah melanggar peraturan Menristek Dikti pengganti Peraturan Mendiknas No 17/2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi (PT). Sebagai rektor, Profesor Djaali bukannya mencegah kemungkinan terjadinya plagiarisme dalam penyusunan disertasi mahasiswa, dalam kenyataan justru terkesan membiarkan bahkan melindungi pelaku pragiarisme. Alih-alih ia mengedepankan integritas akademik pada kampus yang dipimpinnya, sejumlah pejabat daerah yang menjadi mahasiswa bimbingannya justru diduga memperoleh berbagai kemudahan yang kontraproduktif bagi nama baik institusi.

Dari hasil forensik digital yang dilakukan, telah terbukti bahwa ada banyak kejanggalan pada disertasi yang disusun mahasiswa bimbingannya karena terindikasi telah terjadi penyaduran terhadap karya disertasi milik orang lain di internet di luar batas wajar yang diperkenankan secara akademik. Sebagai pemimpin tertinggi di PT, rektor tentu idealnya menjadi suri teladan dan memberi contoh kepada para dosen lain bagaimana membimbing mahasiswa dengan benar. Akan tetapi, yang terjadi di UNJ justru sebaliknya. Ada kesan kuat, institusi kampus yang seharusnya dikelola secara terhormat, transparan, dan dilandasi roh kejujuran dan integritas akademik yang tinggi justru tunduk pada kekuasaan dan orang-orang yang mampu membeli layanan lembaga pendidikan tinggi.

Dalam praktik, lembaga pendidikan yang mestinya memiliki muruah yang idealis ini justru cenderung dikelola seperti perusahaan yang lebih berorientasi mencari keuntungan daripada mengedepankan kualitas. Beberapa kejanggalan ditemukan tim EKA Kemenristek Dikti di kampus yang berlokasi di Jakarta Timur itu, antara lain indikasi terjadinya manipulasi nomor induk, manipulasi absensi, waktu kuliah yang cepat dan cenderung dimampatkan. Jumlah bimbingan pun melebihi kepatutan hingga maraknya praktik plagiat di tugas akhir para mahasiswa.

Praktik penyelenggaraan program studi tidak patut yang mengorbankan mutu proses pembelajaran, penyelenggaraan program doktor yang terkesan abal-abal, dan produksi lulusan yang tak ubahnya seperti pabrik, diakui atau tidak, mengindikasikan telah terjadi apa yang disebut George Ritzer (1993) sebagai McDonalization dalam penyelenggaraan pendidikan PT. Artinya, proses penyelenggaraan pendidikan di PT yang seharusnya mengedepankan idealisme justru terjerumus dalam praktik seperti restoran cepat saji, yang hanya mengedepankan kuantitas produk lulusan, kecepatan memproduksi lulusan, efisiensi, dan lain sebagainya--yang ujung-ujungnya rawan mengorbankan muruah akademik yang seharusnya dijunjung tinggi insan kampus.

Krisis kepercayaan
Dunia PT yang terkontaminasi oleh pertimbangan komersial dan tunduk pada kekuasaan atau paling tidak silau pada figur publik yang menduduki jabatan politis sungguh merupakan sebuah aib. Institusi yang seharusnya menjadi salah satu benteng terakhir untuk menempatkan idealisme dan kejujuran di tempat yang tertinggi tentu memalukan ketika dalam kenyataan justru terkesan menjual kehormatan dan bahkan bersedia melayani kepentingan pihak-pihak yang berkuasa dan memiliki dana lebih yang kemudian mengorbankan integritas akademik yang seharusnya dijunjung tinggi.

Bisa dibayangkan betapa hal ini muskil terjadi, tetapi di UNJ justru menjadi salah satu temuan tim EKA: proses pembelajaran untuk 14 mata kuliah program doktor ternyata cukup diselesaikan mahasiswa hanya dalam hitungan 96 hari kerja. Dari hasil forensik digital juga diketahui bahwa proses penyusunan disertasi yang dilakukan secara plagiat hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari 10 hari. Semua hal yang muskil ini ternyata benar terjadi, yang bagi masyarakat tentu wajar jika menimbulkan banyak pertanyaan besar.

Di tengah banyak beredar gelar palsu, doktor abal-abal, dan sejenisnya, praktik janggal dalam proses pembelajaran di UNJ seperti terekspose oleh media massa belakangan ini bukan tidak mungkin akan memicu terjadinya krisis kepercayaan masyarakat terhadap integritas lembaga PT.

Ketika masyarakat sudah kehilangan kepercayaan pada reputasi lembaga wakil rakyat, lembaga peradilan, ulah eksekutif yang banyak tertangkap OTT, noda hitam yang mengotori dunia PT benar-benar membuat masyarakat seolah tidak lagi memiliki harapan pada siapa mereka berharap kejujuran dan integritas. Ibarat nila setitik rusak susu sebelanga, noda yang kini melumuri UNJ niscaya menjadi percikan yang akan menjadi bahan pertanyaan dan keraguan masyarakat terhadap integritas dunia kampus.

Komentar