Opini

Agama yang Mencerahkan

Jum'at, 6 October 2017 00:16 WIB Penulis: Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

thinkstock

IDEALNYA setiap agama selalu menjanjikan ketenangan, kedamaian, kearifan, keadilan, dan ketenteraman kepada pemeluknya. Namun, itu semua bisa terjadi jika agama diberi peran efektif untuk memberikan pencerahan terhadap umatnya. Persoalannya sekarang, siapa yang bertanggung jawab untuk mengaktualkan fungsi pencerahan agama di dalam masyarakat?

Efektif atau tidaknya sebuah agama mencerahkan dapat diukur bagaimana pemeluknya. Jika agama semakin menyatu dengan pemeluknya berarti pencerahan agama efektif. Akan tetapi, sebaliknya jika agama dan pemeluknya semakin berjarak, pertanda pencerahan agama itu tidak efektif. Fenomena dalam kehidupan masyarakat juga bisa diukur, yaitu apa kata agama dan apa yang dilakukan pemeluknya? Jika masih berseberangan, misalnya agama menyerukan ke kanan tetapi pemeluknya kebanyakan ke kiri, itu pertanda bahwa agama tersebut tidak lagi efektif melakukan pencerahan terhadap umatnya.

Kini sedang terjadi fenomena yang tidak menggembirakan, paling tidak terdapat fenomena yang kontradiktif, di dalam masyarakat kita, yakni hubungan antara agama dan pemeluknya. Memang sedang terjadi kesemarakan beragama, tetapi tidak diikuti dengan penghayatan dan kedalaman makna. Akibatnya sering kita menyaksikan fenomena kepribadian ganda (split personality) bagi umat beragama, khususnya umat Islam, di Indonesia.

Kalangan umat Islam sedang berada di persimpangan jalan. Dalam urusan agama seolah mereka mengesankan agama terlalu dogmatis, sedangkan realitas sosialnya begitu rasional. Agama dirasakannya lebih membatasi, sedangkan realitas kehidupannya begitu liberal. Agama dikesankan terlalu berorientasi masa lampau, sedangkan lingkungan profesinya sangat berorientasi masa depan. Pranata sosial keagamaan dirasakannya begitu konservatif, sedangkan lingkungan kerjanya sedemikian canggih. Norma-norma agama dirasakannya sedemikian statis dan terkesan kaku, sedangkan dunia kerjanya sedemikian dinamis dan mobile.

Suasana batin keagamaan dikesankan amat tradisional, sedangkan dunia pergaulan sehari-hari di tempat kerja dan lingkungannya sedemikian modern. Kajian-kajian keagamaan dirasakan terlalu tekstual, sedangkan kajian ilmu-ilmu umum sedemikian kontekstual. Pendekatan-pendekatan agama terkesan begitu kualitatif-deduktif, sedangkan pendekatan keilmuan sosial sedemikian kuantitatif-induktif.

Fenomena split personality ini, menurut Clifford Geertz, berpotensi melahirkan berbagai kemungkinan, antara lain reformasi sporadis atau gradual, reformasi radikal/liberal, revivalisme-puritanis, revivalisme-radikal, termasuk teroris, atau tidak tahu-menahu apa yang terjadi di luar sana. Yang penting dia bisa hidup dan menghidupi keluarganya. Mereka sudah kehilangan kepercayaan terhadap agama sebagai way of life meskipun masih tetap mencantumkan Islam dalam kolom KTP.

Apa yang terjadi jika agama tidak lagi mencerahkan di dalam masyarakat? Ini sebuah tantangan yang perlu dijawab kita semua.

Komentar