Laporan Dari SJS 2017

Integrasi untuk Deradikalisasi

Senin, 2 October 2017 18:45 WIB Penulis: Usman Kansong

thinkstock

PEMUDA itu berasal dari keluarga kaya di Maroko. Tetapi psikologinya lemah. Ketika seorang temannya yang menganut aliran radikal membujuknya bergabung, ia terpengaruh. "Pemuda itu menyumbangkan harta orang tuanya sebagai bentuk purifikasi, pemurnian," tutur Zinab Ben Alla.

Zinab menceritakan sepenggal kisah pemuda itu kepada para jurnalis peserta 2017 Senior Journalists Seminar (2017 SJS) yang berdiskusi dengannya di Universitas International Rabat, Maroko, Rabu (27/9) pekan lalu. Zinab ialah pendiri Transnational Initiative Countering Violent Extremism.

Dengan menceritakan kisah pemuda yang bergabung dengan terorisme itu, Zinab hendak mengatakan salah satu penyebab ekstremisme ialah faktor individual yang rapuh secara psikologis.

Faktor lain ialah masyarakat. Masyarakat yang dikuasai kelompok yang disebut Zinab jihadis dan salafis, akan mudah terlibat dalam aksi terorisme.

Faktor lain lagi, menurut Zinab, ialah negara. Negara yang senantiasa dilanda konflik menjadi ladang subur persemaian terorisme. Marawi, Filipina Selatan, Somalia, dan beberapa negara Afrika lain yang senantiasa dilanda konflik menjadi contohnya.

Zinab aktif melakukan kegiatan kontrateorisme di sejumlah negara Afrika, seperti Mali, Nigeria, Somalia, dengan mendekati para ulama dan pemuka masyarakat. "Saya berbicara dari hati ke hati dengan para ulama supaya mereka mendidik umat dengan ajaran Islam yang damai," katanya.

Sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Eropa, Maroko menjadi negara persinggahan pelaku terorisme. Lebih dari itu, sebagai negara yang bertetangga dengan negara-negara Afrika yang dilanda konflik, Maroko menjadi target rekrutmen maupun aksi terorisme.

Pada Mei 2003, teroris melancarkan serangan di Casablanca, Maroko. Sebanyak 46 orang dilaporkan tewas dan belasan lainnya luka-luka.

Maroko telah menjadi ladang rekrutmen Islamic State yang menggoda bagi tetangganya Tunisia. Dikhawatirkan sekitar 1.600 orang berangkat berperang bersama IS di Suriah.

Dewasa ini, Maroko menahan sekitar 900 tersangka teroris. Sebanyak 400 di antaranya sudah menjalani persidangan dan menjalani hukuman di lembaga pemasyarakatan.

Berdasarkan penelitian, ada tiga penyebab orang bergabung dengan organisasi teroris. "Ketiga penyebab itu ialah pemahaman yang keliru terhadap ajaran agama, ketidakadilan sosial, serta pendidikan yang tidak memadai," kata Mohammed Saleh Tamek dari Kantor Administrasi Lembaga Pemasyarakatan dan Reintegrasi Pemerintah Maroko.

Sejak 2014, pemerintah Maroko mengembangkan strategi kontraterosrisme yang inovatif dan bersifat multidimensi. Mohammed memaparkan program tersebut kepada jurnalis peserta 2017 SJS di Universitas Internasional Rabat, Rabu pekan lalu.

Pemerintah Maroko melakukan deradilakisasi dengan melibatkan ulama, sosilog, psikolog, untuk mendidik para terpidana teroris. Hal ini dilakukan untuk menghapus dua penyebab, yakni pemahaman keliru terhadap ajaran agama serta pendidikan yang tidak memadai.

Para terpidana teroris diajak berdialog. Mereka juga diizinkan membaca buku-buku yang sebelumnya sudah diseleksi Kementerian Agama Maroko.

Untuk menanggulangi ketidakadilan sosial, pemerintah Maroko menjalankan program reintegrasi. Melalui program itu, pemerintah mengupayakan integrasi kembali para mantan terpidana teroris dengan masyarakat. Caranya antara lain dengan membekali mereka dengan berbagai keterampilan, misalnya, keterampilan membuat kerajinan, sehingga mereka bisa diterima masyarakat. "Sudah 25 bekas teroris yang diintegrasikan ke masyarakat," kata Mohammed. (X-12)

Komentar