Jeda

Pasien Sehat Tagihan Lancar

Ahad, 1 October 2017 14:43 WIB Penulis: Liliek Dharmawan

PELUK My Darling, maka pasien kusta, penyakit yang hingga saat ini masih dianggap kutukan dan banyak menyebabkan terkucilnya penderita sehingga kehilangan fungsi sosial ekonominya, tak lagi terpuruk. Peluk My Darling kependekan dari Perawatan Luka Kusta Menyeluruh dengan Garden Healing. Itu rutin dilaksanakan di Unit Rehabilitasi Kusta Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kelet, Jepara, Jawa Tengah.

Dilaksanakan sejak 2015, Unit Rehabilitasi Kusta di RS yang menjadi pusat rujukan kusta di Jawa Tengah itu memaksimalkan lahan yang dimilikinya, yang selain terdiri atas bangunan RS, juga meliputi hutan konservasi, sawah, kebun, hingga pantai.

Lama rawat pasien kusta yang cukup panjang hingga mencapai hitungan bulan hingga tahun, tingginya dampak psikologis, rendahnya kualitas hidup, dan tingginya stigma memacu tim RS memanfaatkan lahan untuk digunakan sebagai taman perawatan untuk mendukung perbaikan kondisi psikologis pasien.

Ikhtiar medis tak kalah intens, kolaborasi dilakukan dokter, perawat, fisioterapis, psikolog, ahli neurolinguistic programme, hingga vocational training. Pasien tak hanya dirawat di kamar, tetapi juga diajak mengikuti pelatihan motivasi agar rendah diri diganti rasa berdaya.

Perawatan luka kusta pun menggunakan standar Certified Wound Care Clinician Associate. Hasilnya, selama dua tahun diimplementasikan, lama rawat lebih pendek, kondisi psikologis pasien semakin baik dan siap kembali ke masyarakat.

Inovasi pelayanan publik
Inovasi bagi pasien kusta itu masuk Daftar Top 40 Inovasi Pelayanan Publik 2017 yang dikurasi Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Selain itu, ada pula sistem pendaftaran melalui situs dan aplikasi di ponsel. "Ide ini muncul untuk mengatasi antrean pengambilan nomor urut, pasien datang pagi-pagi sekali, mulai pukul 03.00 WIB sudah ada antrean. Bahkan kalau ada pasien yang jauh, datangnya pukul 00.00 WIB atau bahkan sehari sebelumnya. Saat pintu dibuka, mereka saling berebutan. Sampai jatuh-jatuh. Dari sinilah, tim mengembangkan aplikasi registrasi daring berbasis web dan Android yang diluncurkan pada Juni lalu," kata Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSUD Margono Soekarjo Yunita Dyah Suminar.

Kini, dari sekitar 900 hingga 1.000 pasien yang datang ke RSUD Margono Soekarjo sudah lebih dari 70% yang menggunakan aplikasi daring.

Pastikan implementasinya
Untuk pasien BPJS Kesehatan nonpenerima bantuan iuran (PBI), kini sudah hampir 90% daring, sedangkan yang PBI 70%. Kami kaget ternyata pengguna aplikasi daring luar biasa. Sebetulnya, banyak RS yang telah menggunakan aplikasi daring, tetapi belum setinggi di sini," kata Yunita.

Bukan cuma tangkas membuat aplikasi, ikhtiar buat menyosialisasikannya tak kalah penting. "Kenapa di sini tinggi, karena adanya edukasi terus-menerus, secara masif. Seluruh karyawan dikerahkan. Ketika saya pulang, saya harus mengunjungi posyandu dan menerangkan cara memasang aplikasi di telepon seluler warga. Bagaimana yang tidak punya? Tidak masalah, bisa menggunakan aplikasi milik tetangga," ujar Yunita.

Bahkan, untuk pasien lanjut usia, anak yang tinggal di luar kota dapat mendaftarkan orangtuanya. Di sana telah disebutkan waktu dan kapan dilayani. Jadi, pasien bisa tepat waktu ke RS dan tidak menunggu lama seperti dulu," papar Yunita.

Bagaimana jika ada pasien yang belum memiliki aplikasi? Yunita menegaskan masih tetap dilayani manual. Namun, setelah pemeriksaan rampung, petugas akan mendatangi pasien dan meminta agar memiliki aplikasi daring. "Ada petugas yang bersiap melayani pasien. Mereka juga siap untuk mengedukasi pasien," ujarnya.

Dengan aplikasi tersebut, antrean sangat jauh berkurang. Pasien juga tidak perlu menunggu lama pemeriksaan dokter karena jadwalnya sudah jelas. Khususnya bagi pasien yang hampir setiap pekan harus kontrol seperti pasien penyakit kronis macam jantung, saraf, diabetes, dan hipertensi. Begitu juga dengan dokter telah mengetahui jadwal pasti pelayanan kepada pasien. Semuanya lebih efektif dan efisien.

Selain itu, sebelum ada registrasi daring, RSUD Margono Soekarjo juga mengembangkan Si Bina Cantik. Program ini mempertemukan sistem informasi manajemen RS, BPJS Kesehatan, serta sistem tarif INA-CBG's. Dampaknya, prosedur pelayanan BPJS singkat dan nihil kesalahan memasukkan data pasien sehingga arus kas RS, yang kerap mengeluhkan macet karena masalah koordinasi dengan BPJS terganggu, kini moncer! (AT/M-1)

lilik@mediaindonesia.com

Komentar