WAWANCARA

Sabar dan Jujur Kunci Sukses Jadi Pemimpin

Ahad, 1 October 2017 14:39 WIB Penulis:

ADA kisah menarik di balik kesuksesan seorang Hatta Ali, mengawali karier dari kawasan nol kilometer Indonesia, hingga memanfaatkan seni bela diri dalam mengatur ritme kesabarannya, kejujuran dan mengendalikan diri agar tetap tulus serta ikhlas bekerja demi tegaknya peradilan excellent dan modern di Indonesia.

Hatta Ali bukanlah sosok yang asing di paradilan Tanah Air, sejak terpilih menjadi Ketua Mahkamah Agung periode 2012-2017, saat ia berhasil meraup 28 suara dari 54 hakim agung. Kemudian elektabilitasnya meningkat pesat, pada 14 Februari 2017 lalu, Hatta Ali kembali terpilih untuk kedua kalinya memimpin lembaga peradilan tertinggi di Republik ini. Ia mendapatkan dukungan mayoritas yaitu 38 suara dari total 47 hakim agung.

“Pulau Sabang, di titik nol kilometer Indonesia benar-benar menjadi rintisan karier saya dari nol. Selama 6 tahun di Sabang memberikan kesan amat mendalam pada perjalanan karier saya hingga sekarang. Apalagi mulai keindahan Sabang hingga keramahan masyakaratnya menjadi bagian yang tidak terlupakan,” kata pemilik sabuk hitam karate itu.

Selama 5 tahun, berbagai prestasi telah diraih Guru Besar Universitas Airlangga Surabaya itu. Bahkan, selama empat tahun dari 2013 sampai 2016, ia mencatat sejarah dalam hal produktivitas penyelesaian perkara.

Kunci kesuksesan
Menurutnya, kesabaran dan kejujuran menjadi faktor utama kunci kesuksesan dalam mengembang tugas sebagai ketua Mahkamah Agung. Pada awalnya memang berat menjadi Ketua MA. Sebelas unsur pimpinan yang ada di bawahnya jauh lebih senior, mulai dari wakil ketua sampai ketua muda. “Tapi, Alhamdulillah mereka menerima dan mengakui saya secara sukarela. Mereka sangat mendukung dan kami selalu kompak,” jelas penulis 30 judul karya ilmiah ini.

Oleh karena itu, bekerja keras, tulus, serta ikhlas juga harus berjalan ber­iringan tanpa ada vested interest dalam melaksanakan tugas. Jadi kepentingan pribadi harus dikubur dalam-dalam, karena kepentingan lembaga.

Saat berada di kantor, ia memaksimalkan waktu sebaik mungkin untuk berbuat demi kepentingan masyarakat. Apalagi ia memang kerap membaca surat yang masuk di antaranya terkait pangaduan dan penghargaan.

“Saya berpatokan pada surat penga­duan yang masuk dari masyarakat karena itulah yang menjadi masalah yang harus dibenahi. Termasuk pengaduan teradap hakim, langsung saya perintah untuk dilakukan pemeriksaan,” lanjutnya.

Hatta Ali menyebutkan, meski rutinitasnya padat, di mana mulai masuk kerja pukul 8 pagi dan pulang setelah magrib atau isya, ia tetap menyempatkan diri untuk berolah raga. “Jadi aparat peradilan harus menjaga kesehatan. Tanpa kesehatan, tidak mungkin kinerja akan baik. Apalagi jika pimpinan selalu sakit, kinerja kantor akan banyak terganggu. Saya mengupayakan setiap hari libur untuk berolahraga. Hari kerja pun saya sempatkan jogging hampir setiap hari,” terangnya.

Selain itu, Hatta mengaku olahraga bela diri yang telah ia tekuni semasa kuliah mampu menjadi motivasi dan spiritnya dalam mencapai dan mempertahankan prestasi. Bahkan, ia menilai kepemimpin­annya yang paling solid, paling rukun dan kompak di lembaga peradilan. (Fer­dian Ananda Majni/M-2)

Komentar