Gaya Urban

Menangkap Ikan Cara Duel di Dalam Laut

Ahad, 1 October 2017 04:01 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

THINKSTOCK

ASEP Yadi Setiawan tersenyum lebar memamerkan tangkapannya berupa ikan tenggiri seberat hampir 24 kilogram. Ia memang pantas bangga, bukan saja karena bobot tangkapannya melainkan juga metode penangkapan yang digunakan.

Tidak dengan pancing, Yadi menyelam bebas (free diving) di laut. Alat tangkapnya ialah speargun, tombak berpelatuk dengan anak panah dari besi.

Tanpa peralatan oksigen, jelas olahraga yang disebut spearfishing ini butuh stamina dan kemampuan menyelam yang mumpuni. Apalagi saat mengejar ikan pelagis, termasuk tenggiri, yang memang terkenal sebagai perenang cepat.

Maka selain harus memiliki paru-paru yang kuat, para spearo (sebutan pelaku spearfishing) harus memiliki otot kuat untuk bertarung dengan ikan buruan. Ini pula yang dialami Asep.

"Perlawanan ikan tenggiri ketika memancing memang luar biasa. Karena ikan ini kuat dan lincah, kalau kitanya tidak kuat bisa-bisa kita yang ketarik," tutur Yadi ketika berbincang dengan Media Indonesia, Selasa (26/9). Pengalaman bergelut dengan ikan tenggiri pada 2014 di teluk Pelabuhan Ratu, Jawa Barat, itu pun masih jadi kenangan mendebarkan bagi Yadi hingga kini.

Dalam menjalani hobinya, pria berusia 42 tahun ini mengaku bersama-sama dengan spearo lainnya. Penggemar spearfishing kini memang semakin banyak di Indonesia. Lokasi perburuan ikan mereka tidak hanya di perairan Jawa, tetapi juga Bali, Sumba, hingga Flores.

Berburu di tempat-tempat yang berbeda, menurut Yadi, menambah serunya olahraga ini. Sebab spearfishing memang bukan hanya tentang berburu ikan, melainkan juga menikmati keindahan biota laut.

"Apalagi kalau kita suka berpindah-pindah tempatnya, tentu akan dihadapkan dengan biota laut dan jenis ikan yang berbeda-beda. Karena laut kita yang begitu luas dan seperti tidak ada batasnya," tambah Yadi.

Memahami risiko

Sensasi olahraga spearfishing sesungguhnya setara dengan persiapan dan kewawasan diri yang harus dijalani. Antonius Dwi Susanto, seorang spearo asal Yogyakarta, mengaku sempat nekat langsung terjun ke laut dengan didampingi spearo yang sudah berpengalaman.

Dari situ, pria berusia 42 tahun ini menyadari besarnya risiko olahraga tersebut. Maka ia pun kursus menyelam sebelum mengenal teknik inti spearfishing.

"Saya tak mau mengambil risiko. Saya mengambil kursus menyelam untuk mengetahui dan memahami betul teknik menyelam dan mengetahui kondisi bawah laut," ujarnya.

Setelah cukup bisa menyelam, barulah Antonius memberanikan diri melakukan free diving. Kemampuan free diving dilatih hingga ke area-area ikan berkumpul.

Di samping itu, Antonius juga belajar mengenai speargun dan teknik-teknik menggunakannya. Setelahnya, barulah ia menjajal spearfishing yang sebenarnya.

Antonius menilai para spearo tidak hanya penting untuk melatih kemampuan menangkap ikan, tetapi juga tetap memegang disiplin dan tanggung jawab. Jika olahraga ini dilakukan dengan sembarang, dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

"Bisa dibilang beberapa kali saya nyaris kehilangan nyawa, entah kehabisan napas karena ketarik ikan, terbawa arus, bahkan masalah pernapasan di kedalaman tertentu," jelasnya.

Semakin berpengalaman seorang spearo, ia pun akan semakin memahami teknik-teknik agar dapat menyelam dan memancing ikan dengan efisien.

Yadi menjelaskan para spearo terbiasa memantau ikan dengan berenang di permukaan air. Setelah buruan terlihat, barulah mereka akan mengejar secepat mungkin.

Dengan risiko yang besar, para spearo pun harus juga dapat menjaga rekan, selain menjaga diri sendiri. Dengan begitu, olahraga ini dapat dinikmati tanpa menyingkirkan faktor keselamatan. (M-3)

Peralatan untuk Spearfishing:

Baju selam

Kaki katak

Masker snorkel

Pemberat tubuh

Speargun

Pisau selam

Senter

Komentar