MI Muda

Aksi Anak Masjid

Ahad, 1 October 2017 01:31 WIB Penulis: HILDA JULAIKA Jurusan Jurnalistik, Universitas Padjadjaran

DOK RISKA

Mari pindah tempat nongkrong, dari kafe, mal atau jalan, ke masjid. Enggak cuma buat mengaji, tapi juga latihan menari dan main musik.

Lantunan azan magrib berkumandang diikuti orang-orang yang beranjak wudu untuk melaksanakan salat Magrib berjemaah. Malam itu, di Masjid Sunda Kelapa, Riska (Remaja Islam Sunda Kelapa) menggelar kegiatan PARIS, Pengajian Akhir Pekan Remaja Islam Sunda Kelapa.

Pesertanya khidmat mengaji dan mendengarkan ceramah. Meski ini merupakan program RISKA, PARIS bisa diikuti masyarakat umum.

Ya, Masjid Sunda Kelapa memang tidak pernah sepi dari aktivitas menebar kebaikan. Salah satunya pemacunya Riska yang didirikan sejak 1974.

Anang Trianto, Ketua Riska berkisah, Riska berdiri pada 1971, diawali sejumlah pemuda di Menteng yang kerap berkumpul di masjid Sunda Kelapa. Tiga tahun kemudian, Riska berdiri dengan misi menyebar kebaikan.

"Mereka ingin mengajak pemuda-pemudi main di masjid, tidak hanya di mal, Riska memberikan semacam edukasinya," terangnya.

Pendidikan, bakat, dan sosial

Riska tahun ini memiliki anggota 150 orang, mulai 13 hingga 28 tahun. Menurut Anang, terdapat tiga bidang pembinaan, yakni pendidikan, minat, dan bakat serta sosial.

Bidang pendidikan bergiat menggelar SDTNI (Studi Dasar Terpadu Nilai Islam), sedangkan divisi keislaman pada pembinaan baca Alquran.

"Kemudian ada yang namanya keputrian, sekarang namanya sister club, membahas seputar wanita dan kami coba menghadirkan pembicara ahli, selanjutnya ada SDIS (Studi Dasar Islam Siswa)," tambah Anang.

Vokalis masjid

Buat mengasah bakat, ada program vokal Volaris (Vokal Riska), sinematografi, hingga olahraga. "Agar kami memakmurkan masjid, sekaligus mengembangkan diri peserta Riska," kata Anang.

Bidang terakhir, sosial, yakni program AAR (Ade Asuh Riska), dan RISKA Peduli (RP). Riska memiliki binaan berupa adik asuh, yatim dan duafa. "Kami sekarang mengajarkan Tari Saman dan sering diundang di berbagai acara. Selain itu, mereka pun dibekali dengan Alquran hingga kemampuan vokal," ujar Anang.

Ada pula program Riska Peduli, diadakan ketika ada musibah. "Kami sebagai pemuda bisa ikut berkontribusi meringankan musibah saudara-saudara kita," ungkapnya.

Masjid itu menyenangkan

Sesuai semboyannya, muda, gaul, dan berkarya, Riska memang ingin mengubah masjid sebagai tempat ibadah pun tempat yang menyenangkan. Targetnya, para pemuda yang biasanya lebih memilih untuk nongkrong di jalanan, mal, atau taman.

Anak-anak Volaris terhitung antusias, kami belajar vokal dasar hingga teknis bernyanyi. Mereka juga belajar penampilan, film, hingga akting. Alhamdulillah tujuan saya sendiri di Volaris sudah tercapai. Tujuan saya meramaikan masjid untuk mendapatkan pahala," tambah koordinator program

Volaris, Jalil Sadewo.

Volaris bahkan sudah merilis 2 album lagu, Ya Allah Ya Ghafar serta album kedua yang akan segera diluncurkan, berisi pesan agar selalu bersyukur dan meminta ampun.

"Kami ingin mengalihkan lokasi nongkrong di jalanan atau di kafe, waktunya terbuang sia-sia, menjadi ke masjid, sehingga kita memiliki teman banyak dengan nuansa yang baik. Contohnya tiap Minggu, kami melakukan bincang-bincang Riska di bawah pohon, merefleksi diri," ujar Jalil.

Opini Muda

Anang Trianto.

"Kalau waktu terus berjalan, usia terus bertambah. Sayang sekali kalau usiamu hanya digunakan untuk happy-happy. Akhirnya di Riska menjadi sarana berdakwah dan belajar untuk sama-sama menyebarkan kebaikan."

"Motivasi mengajar di Riska ialah berdakwah dan melakukan kebaikan. Dakwah itu soal berbagi kepada orang lain dan orang lain tersebut bisa berbagi lagi kepada yang lain. Itu makna kebaikan yang mengalir."

- Jalil Sadewo

Komentar