Jendela Buku

Memperdalam Makna Alquran melalui Medsos

Sabtu, 30 September 2017 03:31 WIB Penulis: Ferdian Ananda Majni

MEMANG ada benarnya, belajar ilmu agama itu harus lewat guru atau ustaz.

Sebab kalau tanpa guru, memang bisa saja seseorang tersesat, karena salah paham atau salah mengerti.

Nah, dunia berubah dengan sangat cepat.

Dulu, untuk mendalami ilmu agama dan Alquran, kita harus masuk pesantren atau setidaknya mengunjungi majelis taklim.

Begitu juga dunia kerja di era digital tak bisa dipisahkan dari teknologi.

Mungkin kita sering melakukan meeting dalam grup di aplikasi pesan instan, menerima surel setiap saat, hingga bekerja di luar kantor dengan rekan kerja meskipun terpisah jarak atau berbeda negara sekali pun.

Kehadiran buku Tafsir Alquran di Medsos mungkin menjadi oasis di tengah-tengah kita.

Setiap masa dan era dinamikanya memang berbeda.

Jadi kita harus menyesuaikan dengan dinamika dan menanggapinya dengan kondisi itu.

Di era digital, tentunya kita dituntut serba cepat, kreatif, dan inovatif.

Dengan kondisi semakin jauhnya kita akan memahami dan menjalankan nilai-nilai Alquran, Prof H Nadirsyah Hosen, Phd atau yang akrab dipanggil Gus Nadir hadir menjawab kerisauan umat.

Ia secara aktif mengamati fenomena para penafsir ayat Alquran atau netizen yang semata mengandalkan terjemahan dan mengambil rujukan melalui medsos daripada kitab tafsir klasik dan modern.

Apalagi, semua orang memiliki gedget.

Jadi setiap orang dengan mudahnya mengafirkan orang, menyebar ujaran kebencian.

Oleh karena itu, ia berupaya bagaimana memanfaatkan medsos untuk menyebarkan tafsir Alquran yang dapat dipertangungjawabkan.

Jadi hadirnya buku ini, sebenarnya agar kita bisa mengetahui tafsir alquran lebih jelas dengan orang yang jelas dan mampu dibidangnya.

Dalam buku ini, juga dijelaskan bagaimana dengan mudahya kita menuduh orang lain kafir atau munafik akibat berbeda pendapat dengan kita.

Dijelaskan, suatu ketika Buya HAMKA diminta mensalati jenazah Bung Karno, sebagian melarangnya dengan alasan bahwa Bung Karno munafik dan Allah telah melarang Rasulullah mensalati orang munafik.

Namun, Buya HAMKA menjawabnya, "Rasulullah diberitahu saipa yang munafik langsung oleh Allah, sedangkan saya tidak menerima wahyu dari Allah, apakah Bung Karno munafik atau tidak."

Kondisi itu jelas mengambarkan, manusia hanya melihat dari penampilan, ia tidak seharusnya menuduh apalagi sampai menghalangi kebaikan seseorang.

Ciri-ciri munafik yang disebutkan dalam Alquran seharusnya mebuat kita wawas diri, bukan malah digunakan untuk menyerang sesama muslim apalagi hanya karena perbedaan pilihan politik.

Gus Nadir, memang sangat melek internet, ia begitu aktif di Twitter, Facebook, Telegram, bahkan menulis blog terkait tafsir Alquran dan menjadi sumber referensi di media sosial.

Kenapa demikian, orang-orang sekarang tidak ingin menghabiskan waktunya, hanya mengetahui, hukum haramnya bermusik dalam Alquran, tetapi mereka segera mendapatkan jawabannya hanya dengan sekali klik, jadi pilihanya ialah konten yang singkat, padat, aktual, tapi juga otoritatif.

Di halaman 102, misalnya, dibahas tentang politisasi Ayat Alquran dan Hadis dalam sejarah Islam.

Banyak kicauan atau pesan yang tersebar di media sosial jika bermusik itu haram.

Gus Nadir, dengan jeli menjelaskan musik dalam tafsir Alquran, mengkaji musik haram atau tidak melalui tafsir Alquran.

Menurutnya, lebih tepatnya bukan soal musik tapi kelembutan hati yang kita bicarakan.

Ia mengambarkan, Islam di masa Arab jahiliah, hati orang-orang pada masa itu keras, sehingga gampang emosi dan sumbu pendek.

Tapi kemudian, cara Allah menurunkan Alquran lewat prosa atau bahasa alquran dengan sastra lebih besar.

Jadi, diturunkan Alquran di tengah orang-orang yang hatinya keras dan membeku.

Alquran turun dengan sastra yang sangat indah sehingga hati yang membeku itu jebol dan runtuh.

Jadi jika ada orang yang tidak mencintai seni, baik bentuknya sastra, seni lukis, atau seni musik jadi dipastikan orang itu gampang emosi, sensi, karena orang-orang seperti itu ada di masa jahiliah.

Ia menyebutkan, memang ada beberapa hadis yang membicarakan musik sebagian menyatakan haram tapi ini masih menjadi perdebatan para ulama.

Bahkan Ibnu Hasan, sekalipun telah mengupas dan tidak menemukannya pembasan musik dalam hadis sahih.

Cara baru berdakwah

Intinya, cara baru dalam berdakwah ini tentunya memudahkan bagi kita. Ada banyak sekali kajian-kajian Islam yang dengan gampang disebarluaskan lewat sekali klik.

Namun, apakah semua yang kita baca lewat medos itu benar atau kita bisa memilah mana kajian yang benar atau sekadar hoaks?

Pasalnya, berbagai kajian tafsir Alquran yang ada kebanyakan membahas hukum dan teknologi.

Padahal membahas akhlak, sangat lebih penting.

Karena kasta adab di atas ilmu, tentu ini berbanding lurus dengan kenyataan saat ini.

Sekarang yang terjadi banyak hoak, ujaran kebencian dan ado domba.

Bahkan, banyak orang yang tidak paham apa yang dia baca.

Nah, untuk mengatasinya dan solusi agar nilai-nilai Alquran bisa dijalankan, harus dikedepankan nilai-nilai akhlak.

Jadi lebih berbicara tentang akhlak karena pun Rasul di utus untuk memperbaiki akhlak manusia.

Jadi, di halaman 159 juga secarah jelas dibahas akhlak berdasarkan tafsir dalam Alquran.

Oleh karena itu, upaya menyampaikan nilai-nilai Alquran harus mampu dipahami generasi milenial.

Memang, setiap orang memiliki sifat yang berbeda dan tujuan berbeda pula dalam memanfaatkan sesuatu, termasuk penggunaan media sosial.

Jika media sosial dijadikan sebagai sarana kebaikan, tidak ada salahnya kita mengambil manfaat dari media sosial itu.

Jika media sosial menjadi ilmu pengetahun yang bisa diakses dimana pun, Nabi Muhammad itu Alquran berjalan, ialah gudangnya segala ilmu.

Oleh karena itu, merespons segala perubahan dengan konteks Alquran, dan menanggapi persoalan agama dengan jawaban yang mampu diresap masyarakat.

Gus Nadir, setidaknya menjawab poin tersebut.

Namun, jika beberapa pembaca masih fakir ilmu agamanya dan ia tidak mampu mencerna secara utuh, guru atau ustaz langsung pasti bisa mengajarkan pemahaman kepadanya.

Sebab, membaca bukan hanya mengeja kata.

Saat membaca sebuah tulisan, apa yang kita cari dari bacaan itu?

Apa hanya dipahami atau mendapatkan sebuah informasi baru.

Namun, carilah jiwa penulis dan raihlan ide dan gagasannya yang iklas meski harus berjibaku di era digital.

(M-2)

________________________________

Judul: Tafsir Al-Quran di Medsos: Mengaji Makna dan Rahasia Ayat

Suci di Era Media Sosial

Penulis : Prof H Nadirsyah Hosen, Phd

Penerbit: Bunyan

Terbit : September-2017

Tebal : 292 halaman

Komentar