Jendela Buku

Alunan Sunyi Kepedihan dan Amarah

Sabtu, 30 September 2017 03:16 WIB Penulis: Her/M-2

NAMA Cyntha Hariadi memang terbilang baru dalam dunia sastra dan kepenulisan di Tanah Air.

Namun lewat karyanya, perempuan satu ini membuktikan dirinya layak diperhitungkan.

Buku pertamanya berjudul Ibu Mendulang Anak Berlari menjadi pemenang III Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015.

Kumpulan puisi yang dengan jujur mengangkat kompleksitas pengalaman menjadi ibu tersebut juga menjadi salah satu dari lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2016.

Nah di awal bulan ini, dia baru saja meluncurkan buku keduanya di ajang Indonesia International Book Fair, Jakarta (7/9).

Berjudul Manifesto Flora, dalam bukunya kali ini Cyntha memilih mengeksplorasi kata-kata lewat sekumpulan cerita pendek.

Tema-tema yang diangkat bervariasi, mulai kisah soal alienasi, delusi, trauma, rasilisme, cinta, keluarga, bahkan juga hantu.

Sama ketika menulis puisi, 23 cerita pendek yang ditulisnya di buku ini amat memikat.

Ada banyak sisi gelap kemanusiaan yang dituturkannya, ada banyak kepedihan, juga amarah.

Namun, menariknya, bahkan saat menuangkan amarah, Cyntha justru tidak menampakkan gejolak yang meletup-letup apalagi meledak.

Nyaris semuanya mengalun, diceritakan dengan sunyi, lalu bisa menyentak pembaca dengan kejutan lantaran alur yang tidak terduga.

Di cerita berjudul Telpon dari Luar Negeri contohnya, Cyntha mengisahkan perempuan keturunan Tionghoa yang kerap mendapat panggilan telepon dari lelaki di luar negeri.

Lelaki itu dulu sahabat sang perempuan, yang pernah menyatakan cinta, tapi ditolaknya.

Lama tidak berkabar, panggilan telepon itu datang ketika mereka sudah memiliki rumah tangga masing-masing.

Berawal dari percakapan yang menyenangkan, panggilan telepon yang sering itu berubah meresahkan.

Sang lelaki ternyata masih tak bisa terima dulu cintanya ditolak.

Obrolannya pun berkembang kurang ajar mengganggu mental perempuan tersebut dan ia dikisahkan meninggal dunia.

Cerpen sepanjang tujuh halaman itu, diceritakan anak dari perempuan tersebut dengan sudut pandang orang pertama.

Menariknya, baru di halaman kelima, pembaca diajak memahami semua pengetahuan anak itu didapatnya ketika ia bahkan belum lahir ke dunia.

Kehidupan ibunya dikisahkan anak dalam kandungan yang kemudian lahir di hari sama ketika ibunya meninggal dunia.

Ada lagi dua cerpen menarik, yakni Setengah Perempuan I dan Setengah Perempuan II.

Dalam Setengah Perempuan I, diangkat soal anak lelaki periang bernama Mesa yang bersahabat dengan tiga anak perempuan di sekolahnya. Keempat anak itu memiliki nama panggilan, untuk Mesa panggilannya Lily Melody.

Suatu hari ibunya Mesa menemukan kartu undangan ulang tahun di tas anaknya, dia bingung mengapa surat itu ditujukan untuk seseorang bernama Lily Melody.

Berkat penemuan itu, ibunya akhirnya tahu teman putranya ternyata perempuan semua.

Ketika ditanyai tentang nama perempuan yang menjadi panggilannya, anaknya justru berkata, "Aku kan setengah perempuan."

Lain lagi halnya dengan Setengah Perempuan II, bukan tentang laki-laki yang merasa dirinya setengah perempuan.

Tokoh utamanya perempuan yang sudah menikah.

Namun karena belum memiliki anak, dia dianggap baru setengah perempuan, bukan perempuan seutuhnya.

Menurut pengakuan Cyntha, semua yang ditulisnya hasil endapan lama yang baru menemukan muaranya ketika dia akhirnya terbiasa menulis.

"Dari kecil aku nggak berani ngomong sama orang, sukanya sembunyi di balik tirai pintu, nonton, dan dengar mereka ngobrol," ungkapnya.

Pantas saja, membaca semua cerpen dalam Manifesto Flora, rasanya seperti ikut mengamati peristiwa dengan mengintip dan mengendap-endap, memahami, dan menelan semuanya, sekalipun berjarak.

___________________________________

Judul: Manifesto Flora

Penulis: Cyntha Hariadi

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Agustus 2017

Tebal: 163 halaman

Komentar