Eksplorasi

Menanti Erupsi di Istana Dewa-Dewi

Sabtu, 30 September 2017 03:01 WIB Penulis: Desi Yasmini

Sumber: maps4news.com/Bali.com/ABC/Indonesian CVGHM/AFP

AHLI gunung api di Indonesia, Surono, tidak bisa memprediksi kapan tepatnya erupsi Gunung Agung.

Walau demikian, dia meminta masyarakat tetap mengungsi untuk menghindari timbulnya korban jiwa jika seandainya gunung api yang terletak di Pulau Bali itu meletus.

Menjulang 3.031 mdpl, Gunung Agung adalah gunung tertinggi di Pulau Bali.

Gunung ini terletak di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem.

Di sisi barat daya Gunung Agung terdapat Pura Agung Besakih, salah satu tempat beribadat yang paling sakral.

Tak jauh dari pura itu terdapat Tirta Giri Kusuma dan Pura Pengubengan.

Masyarakat Hindu Bali meyakini Gunung Agung merupakan tempat bersemayamnya dewa-dewi serta roh leluhur yang sudah meninggal.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho Kamis (28/9) mengatakan pergerakan magma mulai mendekati permukaan sehingga peluang terjadinya letusan cukup besar.

"Namun tidak dapat dipastikan kapan akan meletus," ujar Sutopo.

Tanda-tanda kemungkinan meletusnya Gunung Agung dipertegas oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), berdasarkan hasil pantauan terkini, kemungkinan meletusnya gunung aktif tersebut semakin besar.

PVMBG juga mendeteksi adanya perubahan bentuk (deformasi) Gunung Agung.

Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api Gede Suantika mengatakan perubahan bentuk ini diketahui setelah PVMH melakukan pemantauan menggunakan electronic distance meter (EDM) di Pos Pemantau Gunung Agung di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Rabu (27/9).

"Perubahan masih dalam mikrometer, terpantau ada deformasi tubuh gunung," kata Suantika.

Deformasi merupakan salah satu indikasi untuk mengukur terjadinya letusan. Deformasi yang semakin tinggi menunjukkan kemungkinan letusan makin tinggi.

Letusan turunkan suhu bumi

Letusan Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, pada 1963 menurunkan suhu atmosfer global hingga 0,1-0,4 derajat celsius.

Hal itu terjadi karena material vulkanis berupa aerosol sulfat dari gunung itu terbang hingga jarak 14.400 kilometer dan membentuk kabut.

Kabut itu bertindak sebagai penghalang dan mengurangi jumlah sinar ultraviolet (UV) dari matahari ke permukaan bumi, kondisi itu menghasilkan efek pendingin.

Letusan yang berlangsung sejak 2 Februari 1963 hingga 27 Januari 1964 itu juga disertai abu vulkanis yang keluar vertikal dari kawah Gunung Agung setinggi 20 kilometer.

Lahar meluncur ke sisi selatan Gunung Agung.

Lahar itu menyebabkan 316.518 ton produksi pangan di sepanjang aliran lahar Gunung Agung rusak.

Jika letusan Gunung Agung nanti berperilaku sama dengan yang terjadi pada 54 tahun lalu, perubahan suhu tersebut tidak akan terasa, karena kabut asam sulfat itu bertahan di stratosfer selama beberapa tahun dan akhirnya tetesan itu akan kembali ke bumi.

"Perubahan suhu tidak berlangsung cukup lama untuk bisa kita perhatikan," kata Profesor Richard Arculus, Profesor Emeritus di bidang geologi dari Universitas Nasional Australia (ANU).

Sistem peringatan dini

Upaya evakuasi para penduduk yang tinggal di dekat kawasan rawan bencana (KRB), terutama yang sudah dipetakan pihaknya yakni 9-12 kilometer dari Gunung Agung sudah diterapkan.

Sistem peringatan dini dan alat pemantau yang menggunakan satelit juga digunakan untuk meminimalkan korban jatuh yang sama.

Didukung pula berbagai lembaga pemerintah lintas sektor kini memiliki instrumen berbasis teknologi untuk mengawasi aktivitas gunung api itu.

Lembaga Antariksa Nasional memantau Gunung Agung melalui satelit.

Sementara itu, Pusat Vukanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mengawasi dan mengolah data aktivitas gunung itu melalui metodologi terkini.

Melalui pemantauan dan pengolahan data pemerintah saat ini dapat memetakan secara rinci daerah-daerah yang berpotensi terdampak letusan Gunung Agung.

Pemantauan dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerja sama dengan PVMBG, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).

Semua itu diharapkan dapat mencegah korban jiwa yang sama dengan letusan yang lalu.

(BNPB/Antara/PVMBG/L-1)

Komentar