Lensa Bisnis

Perkaya Terobosan untuk Keselamatan dan Kepuasan Pelanggan

Kamis, 28 September 2017 10:52 WIB Penulis: RO/Micom

Dok.KAI

SELAKU penyedia jasa transportasi publik, kepuasan para konsumen merupakan salah satu fokus utama PT Kereta Api Indonesia (Persero). Berdasarkan hasil survei 2016 yang dilakukan PT KAI dengan melibatkan 840 responden, tingkat kepuasan pelanggan kereta api (CSI) sebesar 4,18 dari skala 1 sampai 5.

Meski secara keseluruhan hasil itu menunjukkan kepuasan responden, PT KAI terus berupaya memenuhi kebutuhan pelanggan lewat berbagai inovasi layanan. Misalnya, menghadirkan kereta ekonomi premium agar masyarakat dapat merasakan kenyamanan perjalanan layaknya naik kereta eksklusif dengan biaya terjangkau.

Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro mengklaim terobosan-terobosan tersebut sebagai jawaban atas kebutuhan pelanggan yang ingin kereta ekonomi lebih nyaman, tapi dengan tarif tetap kompetitif. Saat ini, pihaknya juga sedang memetakan kebutuhan-kebutuhan lain yang imbasnya pada peningkatan kepuasan pelanggan.

"Kebutuhan konsumen sangat beragam. Sesuai slogan 'Anda Adalah Prioritas Kami', PT KAI telah menciptakan berbagai inovasi untuk memberikan layanan kepada konsumen," ujarnya saat berbincang dengan Media Indonesia di Jakarta, Rabu (20/9).

Selain kereta ekonomi premium, PT KAI berinovasi pada angkutan penumpang kereta wisata. Sebelumnya masyarakat harus memesan satu kereta atau paket rombongan, tetapi kini kereta wisata priority dapat dipesan perorangan sehingga memungkinkan siapa pun menikmati perjalanan kereta wisata.

Masalah kebutuhan pelanggan kereta api untuk relasi Jakarta-Bandung (pulang-pergi) juga sudah diakomodasi dengan menambah tiga perjalanan dari Bandung dan dua dari Jakarta. Pasalnya, tingkat okupansi KA Argo Parahyangan rata-rata per hari di atas 70%-80%, bahkan bisa mencapai 100% di akhir pekan.

Tidak hanya itu, di setiap stasiun kini terdapat pelayanan ruang tunggu yang jauh lebih nyaman jika dibandingkan dengan sebelumnya. Bahkan, di Stasiun Yogyakarta, jelas Edi, sudah ada Anggrek Executive Lounge yang pelayanannya sama seperti di bandara-bandara internasional.
"Ini merupakan bagian dari salah satu upaya PT KAI untuk memprioritaskan kebutuhan pelanggan," tegasnya.

Prioritas pembangunan
Di sisi lain, Kementerian Perhubungan sebagai regulator juga tengah gencar membangun jalur kereta api. Yang terbaru ialah elektrifikasi jalur kereta api dari Bekasi-Cikarang sehingga KRL yang tadinya dari Jakarta Kota hanya sampai ke Bekasi, kini sudah bisa sampai ke Cikarang.

"Pembangunan oleh PT KAI sendiri ialah jalur kereta api Bandara Soekarno-Hatta. Direncanakan November 2017 sudah dapat diuji coba jalurnya dari Stasiun Sudirman Baru hingga Stasiun Bandara Soekarno-Hatta," ucap Edi.

Perusahaan pelat merah tersebut kini juga sedang melakukan peremajaan sarana kereta api yang berusia di atas 30 tahun. Melalui kerja sama dengan PT Inka (Persero), pihaknya merencanakan kehadiran 438 kereta baru, dengan 300 di antaranya diproyeksikan tiba sampai dengan akhir tahun ini, untuk menggantikan kereta tua.

Kemudian, dalam waktu dekat, PT KAI akan fokus mengerjakan proyek kereta api Bandara Soekarno-Hatta, kereta api Bandara Adi Soemarmo, LRT Jabodebek, dan LRT Palembang. Masalah pembiayaan dana berasal dari kas perusahaan, penyertaan modal negara, pinjaman perbankan, dan yang terbaru rencananya PT KAI akan menerbitkan obligasi. "Menurut kami, ini adalah tantangan bagi PT KAI untuk menuntaskan sejumlah proyek dan penugasan dari pemerintah," kata Edi.

Ia pun menegaskan PT KAI tidak terlibat dalam proyek MRT. Sementara itu, untuk LRT Jabodebek dan LRT Palembang, PT KAI bertindak sebagai operator dari moda yang rencananya akan dioperasikan pada Asian Games 2018, dan khusus LRT Jabodebek rencana pengoperasian pada 2019.

Keselamatan pengguna
Hal lain yang juga tak pernah luput dari perhatian PT KAI sebagai operator dan penyelenggara sarana perkeretaapian ialah urusan keselamatan.

Petugas jaga pelintasan beserta fasilitas pendukung, seperti gardu, palang pintu, sirene, dan peralatan lain yang mendukung, dikerahkan untuk mendukung hal tersebut meski pada kenyataannya, ungkap Edi, tidak semua berjalan ideal sebab kurangnya kesadaran para pengguna jalan raya, terutama berkaitan masalah ketertiban di pintu pelintasan kereta.

Padahal, itu sudah diatur dalam Undang-Undang No 23/2007 tentang Perkeretaapian. Disebutkan dalam Pasal 90 poin d, penyelenggara prasarana perkeretaapian berhak dan berwenang mendahulukan perjalanan kereta api di perpotongan sebidang dengan jalan.

Dilanjutkan, Pasal 124, pada perpotongan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, pemakai jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api.
"Sekali lagi, tujuan utamanya, yaitu untuk menjaga keselamatan perjalanan kereta api," tegasnya.

Namun, ironis, pandangan umum kerap menunjukkan keselamatan bertransportasi masih semata-mata tanggung jawab penyelenggara moda transportasi tersebut. Padahal, jika ditilik lebih jauh, setiap pihak berkepentingan memiliki andil dan tanggung jawab masing-masing.

Edi menambahkan, pembangunan prasarana perkeretaapian memang merupakan wewenang penyelenggara prasarana perkeretaapian, dalam hal ini pemerintah. Jika mengacu pada UU Perkeretaapian, perpotongan antara jalur kereta api dan jalan idealnya dibuat tidak sebidang.

Pelintasan sebidang hanya memungkinkan jika area tersebut merupakan jalur dengan frekuensi perjalanan kereta api rendah dan arus lalu lintas jalan rayanya pun tidak padat. Apabila sebaliknya, sudah hampir dipastikan pelintasan jalur sebidang mesti dihindari.
"Bisa dibuat flyover ataupun underpass," imbuhnya.

Edi menekankan, masalah keselamatan tidak bisa ditoleransi. Zero tolerance. Untuk itu, faktor profesionalisme dari para pegawai PT KAI pun menjadi keniscayaan.

Hingga kini, PT KAI telah mengirimkan karyawan ke luar negeri untuk belajar ilmu perkeretaapian dari negara-negara maju, salah satunya pada Diklat Safety Training-Accident Investigation ke Brisbane, Australia. Tujuannya, selain menambah wawasan, mempertajam ilmu mengenai langkah penyelidikan terhadap suatu kecelakaan.

Dengan begitu, jajaran PT KAI diharapkan mengerti dan bisa mencari akar permasalahannya hingga kemudian mampu memberikan rekomendasi perbaikan kepada perusahaan di masa mendatang. Sesuai dengan filosofi program benchmarking PT KAI, yaitu seeing is believing.

Atas dasar semangat keselamatan tersebut, PT KAI kembali mengusung keselamatan sebagai fokus utama dalam perayaan hari peringatan HUT KA. Pada HUT ke-72 Kereta Api yang jatuh pada 28 September 2017 ini, PT KAI menetapkan tema "Dengan Keselamatan dan Kerja Bersama Membangun KAI".

PT KAI ingin menjadikan hari peringatan bersejarah ini sebagai momentum untuk mengukuhkan semangat dan komitmen seluruh insan perkeretaapian Indonesia untuk mewujudkan keselamatan perjalanan KA.
"Muaranya tentu untuk peningkatan kualitas layanan kepada pelanggan," pungkas Edi. (Mut/S2-25)

Komentar