Ekonomi

Kelas Menengah bakal Mendominasi

Rabu, 27 September 2017 07:45 WIB Penulis: Jessica Sihite

ANTARA

PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia diprediksi terus membaik. Indonesia bahkan dapat menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2037 serta menjadi negara dengan produk domestik bruto (PDB) terbesar ke-8 pada 2045.

Di era yang bertepatan dengan 100 tahun kemerdekaan Indonesia itu, jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia diprediksi mencapai 200 juta orang, naik lima kali lipat dari saat ini 40 juta orang.

"Dari sisi pendapatan, dunia akan didominasi oleh masyarakat kelas menengah, termasuk Indonesia dari yang sekarang 40 juta orang menjadi 200 juta orang pada 2045," ujar Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Kepala Bappenas) Bambang Brodjonegoro dalam orasi ilmiah dalam rangka Dies Natalis Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, di Depok, kemarin.

Menurut dia, membeludaknya masyarakat kelas menengah itu disebabkan perbaikan pendapatan per kapita yang diprediksi naik dari US$3.378 menjadi US$19.794. Di samping itu, peringkat PDB Indonesia di dunia dinilai akan naik dari peringkat ke-16 menjadi peringkat ke-8 pada 2045 (lihat grafik).

Dengan kondisi itu, Bambang mengatakan nasib Indonesia di era itu akan berada di tangan masyarakat kelas menengah. Kondisi ekonomi dan perpolitikan bakal dipegang mereka. "Mereka yang akan menentukan arah politik ke depan, bukan lagi dari elite politik. Mudah-mudahan akan membawa politik lebih baik, bukan lagi politik transaksional," tukasnya.

Mantan menteri keuangan itu menyatakan Indonesia saat ini fokus mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dengan mengatasi masalah kesenjangan dan kemiskinan. Strategi yang diimplementasikan antara lain pengembangan inovasi dan teknologi dalam pemenuhan kebutuhan dasar, peningkatan keuangan inklusif, penguatan usaha kecil, mikro, menengah, dan koperasi, peningkatan keahlian berbasis kompetensi bagi pekerja muda di kelompok 40% terbawah, serta penumbuhan wirausaha secara berkelanjutan.

Bonus demografi

Salah satu yang mungkin mesti diwaspadai ialah perangkap pendapatan menengah (middle income trap). Dalam kondisi terperangkap itu negara berpenghasilan menengah (seperti Indonesia) tidak hanya kesulitan bersaing dengan low-wage countries (pendapatan rendah), tapi juga kesulitan bersaing dengan high-technology countries (negara maju atau berpenghasilan tinggi), atau dengan kata lain stagnan, bahkan menurun.

Untuk lepas dari jebakan itu, Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter Bank Indonesia Dody Budi Waluyo berpendapat pemerintah harus memperkuat aspek modal yang mengarah ke pergerakan investasi di sektor riil dan infrastruktur. Selain itu, kualitas sumber daya manusia (SDM) mesti terus ditingkatkan agar tenaga kerja lokal memiliki daya saing.

Menurut Dody, sejumlah paket kebijakan yang sudah dikeluarkan pemerintah dapat mengatasi permasalahan yang menghambat masuknya investasi selama ini sehingga mendorong ekonomi tumbuh lebih tinggi dan Indonesia pun dapat menjadi negara maju lebih cepat.

"Kalau tidak salah, benefit dari penduduk muda Indonesia (bonus demografi) itu akan berakhir sekitar 2030-2035. Artinya manfaat itu harus segera kita maksimalkan dengan cara mengaktifkan kegiatan untuk meningkatkan nilai tambah perekonomian atau investasi," ujarnya di Bandung, kemarin. (Tes/E-2)

Komentar