Laporan Dari SJS 2017

Menjejaki Sejarah Keberagaman Maroko

Selasa, 26 September 2017 13:27 WIB Penulis: Usman Kansong

Turis menyantap makanan asli Maroko di pasar Jemaa el-Fnaaa, di Marrakech, Maroko---AP/Mosa'ab Elshamy

Maroko memang berbeda. Berbeda bila dibandingkan dengan negara tetangganya di Afrika Utara. Berbeda dari sisi keberagaman.

Kebudayaan Maroko merupakan campuran antara Berber, Arab, dan Eropa. Berber merupakan penduduk asli Maroko. Bahasa Maroko bahasa Arab dan Berber. Sebagai bekas jajahan Prancis, banyak orang Maroko fasih berbahasa Prancis

Saya dan jurnalis lain peserta 2017 Senior Journalists Seminar (2017 SJS) yang dihelat East-West Center, tiba di Maroko, Minggu (24/9). Sebelumnya, selama lima hari kami mengunjungi Manila, Filipina serta Mindanao, Filipina Selatan, untuk mendiskusikan sistem politik Filipina, kehidupan beragama, serta penyelesaian konflik antara Pemeringab Filipina dan Bangsamoro.

Sebelumnya lagi, selama 10 hari, kami berada di Washington DC dan Minnesota, AS, untuk mendiskusikan hal yang kurang lebih sama plus penanganan dan pencegahan ekstremisme dan terorisme. Maroko merupakan negara terakhir dalam program 2017 SJS.

Kami menyambangi kota tua Fes, sekitar tiga jam perjalanan darat dari Rabbat, Ibu Kota Maroko, Senin (25/9). Kota Fes dibangun Raja Idris I pada 789 M. Dua puluh tahun kemudian, pada 809 M, Idris II menjadikan Fes sebagai kotanya dengan membangun istana, masjid, pasar, kanal, dan dinding kota. Jalan-jalan di dalam tembok kota terbilang sempit dan berliku.

Pada 817-818, dua gelombang pendatang tiba di Fes. Pertama 800 keluarga Andalusia yang melarikan diri dari kekuasaan Umayah di Cordoba, Spanyol, tiba di Fes. Tak berapa lama kemudian, 2 ribu keluarga dari Kairouan (Al Qayrawan), Tunisia, yang melarikan diri dari kejaran Abasiyah tiba di Fes. Kedua kelompok bermukim di Fes dengan dipisahkan Sungai Fes.

Ketika Dinasti Marinid yang merupakan keturunan Berber menguasai Maroko pada abad ke-13, mereka membangun kota baru Fes al-Jadid di luar tembok untuk mengakomodasi istana dan ruang publik mereka. Sebagai ibu kota, Fes menjadi tempat pengungsian muslim dan Yahudi Andalusia.

Orang Yahudi datang ke Fes pada abad ke-15. Mereka membangun sinagog pada abad ke-17. Kami menyambangi Sinagog bernama Aben Danan. Aben Danan ialah nama keluarga Yahudi yang membangun sinagog tersebut. Orang Yahudi juga membangun Mellah (pusat permukiman orang Yahudi).

Permukiman khas orang Yahudi masih bisa kita saksikan di Fes. Rumah mereka bertingkat. Lantai atas dengan sejumlah jendela untuk tempat tinggal, sedangkan lantai bawah untuk toko. Orang Yahudi Maroko hingga kini dikenal sebagai pedagang terampil. Permukiman orang Yahudi mirip sederetan ruko atau rumah toko.

Juru kunci Sinagog Aben Danan seorang muslim bernama Omar Mejdoubi. "Sinagog ini masih dipakai untuk ibadah Sabat, dihadiri 30 sampai 40 Yahudi Maroko," tutur Omar.

Dewasa ini tersisa sekitar 1.000 penganut Yahudi di Kota Fes dari awalnya sekitar 2.000. Bersamaan dengan berdirinya negara Israel, separuh penganut Yahudi meninggalkan Fes berangkat bermukim di Israel.

Dari Sinagog, kami menuju University of Al-Kairaouine yang didirikan pada 859 Masehi dan Masjid Kairaounie yang bisa menampung 20 ribu jamaah. Hanya kaum muslim yang boleh memasuki masjid di Maroko sekalipun untuk berwisata. Orang bukan muslim diijinkan masuk berwisata ke dalam masjid hanya di Casablanca, kota terbesar kedua setelah Rabbat.

Kami juga menyambangi madrasah yang dibangun pada 857 M. Bangunan madrasah terdiri dari ruang belajar yang juga berfungsi sebagai masjid, asrama, serta halaman. "Madrasah zaman itu setingkat dengan akademi atau universitas zaman sekarang," terang Hesham, pamandu kami.

Tidak ada gereja di kota tua Fes. Mayoritas penganut Kristen tinggal di Casablanca dan kota-kota lainnya seperti Rabat, Tanger, Meknes, Marrakech dan Essaouira.

Kristen di Maroko telah lama muncul, yakni sejak masa kerajaan Romawi. Setelah dari kota Tua Fes, kami menempuh perjalanan selama 1,5 jam ke Volubilis, dekat Meknes, tempat kami menyaksikan reruntuhan kota peninggalan Romawi.

Orang Kristen di Maroko pada saat itu menganut aliran Qibtiyah. Saat penaklukan Islam di Maroko yang dipimpin oleh ‘Uqbah ibn Nafie’ antara tahun 681 dan 683 M, penganut Kristen sembunyi-sembunyi dalam membawa misinya.

Sekitar abad ke 19 dan 20 atau pada masa penjajahan Perancis terhadap Maroko, kaum Kristen mulai berdatangan kembali ke Maroko dengan jumlah yang sangat banyak. Mereka yang mayoritas menganut Katolik itu kebanyakan datang dari Italia, Spanyol, Perancis, bahkan dari Eropa Timur.

Tentu saja sebagian besar atau 98% dari sekitar 35 juta penduduk Maroko menganut Islam, sekitar 1% Kristen, dan kurang dari 1% Yahudi. Konstitusi negara kerajaan ini menjamin kebebasan beragama. "Toleransi antar penganut agama di sini berlangsung baik. Mereka saling menghargai," kata Hesham. (OL-7)

Komentar