Humaniora

Kampanye Imunisasi MR akan Diperpanjang Jika Tak Capai Sasaran

Ahad, 24 September 2017 17:01 WIB Penulis: Indriyani Astuti

ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

PEMERINTAH akan memperpanjang masa kampanye pemberian imunisasi measles dan rubella (MR) pada balita dan anak-anak apabila target sasaran 95% tidak tercapai hingga akhir September 2017. Pada Oktober tahun ini pemerintah akan mengadakan sweeping atau penjaringan pada Oktober untuk menyasar anak-anak yang belum mendapatkan vaksin tersebut.

" Kita masih punya waktu sampai dengan Oktober satu bulan terakhir untuk sweeping atau menjaring anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi MR," ujar Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Mohamad Subuh pekan ini di Jakarta. Sweeping akan dilakukan dari rumah ke rumah dan sekolah-sekolah.

Subuh memaparkan hingga 18 September 2017 cakupan imunisasi MR sudah 88,18% di seluruh pulau Jawa atau sekitar 30 juta 831 jiwa yang telah mendapatkan vaksin MR. Adapun daerah yang terendah cakupannya adalah Provinsi DKI Jakarta 72,23%. Adapun daerah tertinggi, Provinsi Jawa Timur dengan 96,67% artinya sudah melampaui target, disusul Jawa Tengah 96,61% dan Yogyakarta 87%.

" Karena DKI pemberitahuannya dilakukan secara bertahap. Padahal menurut Peraturan Menteri Kesehatan yang mengatur imunisasi, bahwa imunisasi tidak perlu informasi yang sifatnya individu, cukup informasi secara kelompok dalam bentuk pemberitahuan bahwa imunisasi harus digalakan," terang Subuh saat ditanya alasan DKI menjadi daerah dengan cakupan terendah.

Kendati begitu, Subuh optimistis target sasaran dapat terpenuhi hingga akhir September mendatang. Sebab, hari ditargetkan cakupan sasaran naik 1,14%. "Seharusnya bisa karena masih on the track. Batasnya kan akhir September," tegasnya.

Dijelaskan cakupan minimal 95% harus tetap dicapai agar tercipta herb immunity atau kekebalan komunal sehingga 5% anak-anak yang tidak divaksin dapat ikut terlindungi.

Cakupan imunisasi yang kurang dapat menyebabkan timbulnya Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti yang terjadi di Padang pada 2015 lalu, terjadi penularan difteri. Itu disebabkan karena target cakupan imunisasi kumulatif satu provinsi hanya 90% dan pada 2014 hanya mencapai 77 %.

Subuh menambahkan sejumlah program imunisasi yang dilakukan untuk mencegah terjadinya wabah. Sejumlah keberhasilan vaksinasi terlihat antara lain, untuk tetanus neonatorum pada 2015 lalu dan pada polio, Indonesia telah dinyatakan bebas polio pada 2014.

Sedangkan untuk campak, pemerintah berkomitmen dapat terbebas dari campak dan rubella pada 2020. Sehingga dilakukan program kampanye MR di Pulau Jawa terlebih dulu pada Agustus dan September 2017. Dengan pemberian imunisasi vaksin MR pada bayi usia 9 bulan dan anak dibawah 15 tahun.(OL-3)

Komentar