MI Anak

Jalan-Jalan Malam di Museum

Ahad, 24 September 2017 11:42 WIB Penulis:

DOK GRACE KOLIN

Apa yang terbayang di benak Sobat Medi ketika menginap di museum? Seram? Atau justru seru?

Nah, ikuti cerita Medi tentang kegiatan Night at Museum 2017 ya!

Acara tahunan ini diadakan Komunitas Historia Indonesia (KHI) untuk yang kedelapan kalinya. Memperingati HUT Ke-72 RI, Night at Museum diadakan kembali.

Lebih dari 3.000 orang mendaftarkan diri via daring. Namun, karena daya tampung museum yang terbatas, hanya 305 peserta yang terpilih mengikuti Night at Museum 2017.

Kali ini, Museum Perumusan Naskah Proklamasi menjadi tuan rumah Night at Museum 2017. Museum ini dulu tempat kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda, kepala kantor penghubung antara Angkatan Laut dan Angkatan Darat Jepang.

"Laksamana Maeda memiliki peranan, saya kira sangat penting. Karena kalau tidak ada beliau, tidak ada proklamasi, tidak ada tempat ini untuk menyusun kemerdekaan," ucap Kak Asep Kambali, pendiri KHI.

Indonesia yang pertama
Night at Museum tidak hanya titel film laris yang dibintangi Ben Stiller. Pada 2009, jauh sebelum film itu eksis, KHI sudah jauh lebih dulu mengadakan acara inap di museum untuk pertama kalinya di dunia.

Sebagai wujud tapak tilas terhadap sejarah proklamasi, peserta yang didominasi anak muda ini diajak untuk menyimak dialog bersama Pak Dr Rushdy Hosein (sejarawan) dan Pak Edi Safuan (veteran Sekjen Dewan Harian Nasional). Asyiknya, di sela-sela dialog, mereka menonton film dokumenter sejarah kemerdekaan.

"Kalau kita bicara soal proklamasi, paling tidak ada empat titik yang menunjukkan peran utama. Tanpa empat titik itu, tidak mungkin proklamasi dicetuskan pada 17 Agustus 1945. Titik pertama, Gedung Juang 45 (sekarang, Menteng Raya 31), titik kedua, Hotel Des Indes (sekarang, Duta Merlin), titik ketiga Rumah Laksamada Tadashi Maeda (sekarang, Museum Perumusan Naskah Proklamasi), dan titik keempat Jalan Pegangsaan Timur 56 (sekarang, Jalan Proklamasi)," ujar Pak Edi.

Antusiasme begitu terasa. Sebagian dari mereka yang tidak memperoleh tempat duduk di bawah tenda memilih untuk duduk berlesehan di atas rumput.

Menjelajah lorong waktu
Angka 16845 (16 Agustus 1945) tercetak merah di dalam bingkai jendela Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang terletak di Jalan Imam Bonjol. Dihiasi dengan lampu LED merah putih, tempat itu mengingatkan Muda pada salah satu momen penting perumusan naskah proklamasi.

Rombongan peserta Night at Museum dibagi dalam empat kelompok dalam dua putaran. Dipandu dua anggota KHI, rombongan peserta menjelajahi seisi museum bekas rumah berlantai dua. Satu per satu ruangan diterangi secara detail dibalik kisah yang pernah terjadi di dalamnya.

"Bukannya takut, tapi malah keren banget. Ternyata banyak anak-anak muda yang suka sama sejarah," kata Randy Dwi Kurnia, anggota KHI sekaligus guru sejarah yang menjadi salah satu dari dua pemandu jelajah tengah malam Peristiwa Perumusan Proklamasi Kemerdekaan RI.

Dengan fasih, Randy menerangkan ruang Soekarno, Hatta, Soebarjo bertukar pendapat dalam merumuskan naskah proklamasi. Dengan tanpa merombak posisi meja dan 12 kursi yang sudah tertata sedemikian rupa di eranya, peserta jadi mendapat gambaran bagaimana sakral dan sibuknya proses perumusan naskah proklamasi sebelum ditandatangani dan dibacakan pada 17 Agustus 1945.

Replika naskah
Penasaran bagaimana konsep naskah proklamasi? Muda bisa langsung mengamati replika naskah yang dilekatkan di dinding tak jauh dari posisi meja perumusan.

Sebelumnya, konsep naskah itu tidak akan pernah mungkin bisa dipamerkan jika saat itu Pak BM Diah tidak memungut kertas kecil itu dari tong sampah. Sayuti Melik yang membuangnya. Ia kira, kertas itu tak lagi diperlukan ketika naskah ketik telah jadi.

"Jadi mestinya, merayakan kemerdekaan adalah dengan belajar sejarah. Merayakan kemerdekaan dengan jalan mengunjungi situs-situs sejarah. Kenapa? Karena kita akan terarah di masa depan kalau kita tahu sejarah," pungkas Kak Asep. (Grace Kolin/M-1)

Komentar