WAWANCARA

Bukan Sindiran, melainkan Dorongan untuk Petani Muda

Ahad, 24 September 2017 10:19 WIB Penulis: Rizky Noor Alam

MI/BARY FATHAHILAH

Masalah pangan di Indonesia ialah problema klasik yang seakan tak kunjung terselesaikan dengan tuntas. Padahal, dalam program Nawa Cita, Presiden Joko Widodo mencita-citakan negeri ini mampu swasembada. Namun, bagaimana jika generasi muda kurang berminat terjun ke dunia pertanian?

Berikut petikan wawancara Media Indonesia dengan rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Herry Suhardiyanto pada Jumat (15/11), mengenai beragam fenomena dunia pertanian terkini.

Terkait sindiran Presiden soal mi­nimnya lulusan IPB yang terjun ke dunia pertanian, bagaimana tanggapan Anda?
Saya kira itu bukan sindiran, kita harus memaknai dengan positive thinking. Apa yang disampaikan juga sering mengemuka, masyarakat ada yang bertanya seperti itu.

Itu encouragement atau dorongan kepada kita, IPB, segenap pimpinan, dosen, guru besar, mahasiswa untuk lebih mencintai pertanian. Jadi walaupun mungkin sudah banyak yang dikerjakan seperti inovasi, lulusan kita juga disiapkan dengan baik, tapi masih banyak lagi yang harus kita lakukan.

Inovasi yang kita lakukan selama 10 tahun berturut-turut selalu menjadi kontributor terbesar. Jadi, saya kira lulusan IPB yang bekerja selain di bidang pertanian langsung, kalau dijelaskan, misalnya, yang di perbankan, itu dulu setelah lulus dari IPB dia diterima sebagai analis kredit, pembiayaan pertanian.

Tetapi, setelah diterima, pihak bank melihat prestasinya, jadi tidak ada salahnya kalau dia mencapai karier yang bagus di bank. Perbankan itu termasuk institusi yang sistemnya sudah bagus, jadi tidak mungkin yang tidak qualified bisa masuk.

Anda sangat percaya diri dengan kualitas alumnus, sebenarnya bagaimana IPB menyiapkan lulusannya?
Kalau mau dikupas, setidaknya ada tiga keunggulan alumni IPB.

Pertama kita terbiasa dengan tanaman, penelitian, praktikum tentang tanaman, berkaitan dengan hewan juga, keduanya makhluk hidup, itu biological system yang kompleks dan uncertain.

Di IPB kita terbiasa deal with complexity and uncertainty, jadi kalau ada masalah yang kompleks dan uncertain dan tidak bisa diselesaikan oleh lulusan universitas lain, serahkan pada alumni IPB.

Yang kedua, interaksi antara tanaman dan lingkungannya, misalnya tanaman anggrek itu tumbuh dengan baik kalau ada cahaya matahari. Hewan juga seperti itu, jadi kita terbiasa memahami interaksi, baik antara tanaman, hewan, dengan lingkungan, jadi sistem pemikiran kita kuat dan terasah, terbiasa memahami.

Yang ketiga, panen, dosis pupuk, semua hitung-hitungan itu kita terbiasa dan di IPB matematikanya kuat, statistikanya kuat, belum lagi aljabar, matriks, dan kal­kulus. Jadi, numerical methods kita kuat. Jadi kalau memberikan suatu solusi itu terukur dan jelas, bukan asal ngomong.

Jadi lulusan kita bisa di segala bidang. Maksud saya apa yang disampaikan Presiden itu dorongan, dengan kompetensi umum yang kita miliki.

Sebenarnya bagaimana komposisi lulusan IPB?
Kalau dari persentase, masih banyak lulusan yang bekerja di sektor pertanian, yaitu 37,1%. Dari 6 kategori pekerjaan, pertanian masih yang terbesar. Sisanya, ada yang di swasta, pendidikan, pemerintahan, perbankan, dan media. Kalau dari 6 kategori itu diambil rata-rata, jatuhnya 16% tapi ini 37,1% dan masih tinggi.

Tantangan apa saja yang sebenarnya dihadapi dunia pertanian saat ini, baik secara SDM, para milenial, iklim?
Generasi muda saat ini masih banyak yang belakangan concern ke pertanian, namun dengan cara baru. Generasi muda ini, konsep pertaniannya sudah beda dalam melihat persoalan.

Misalnya mengembangkan bisnis e-commerce, produk-produk pangan juga bisa dijual di sana. Aplikasi teknologi di bidang pertanian itu juga sesuatu yang menarik.

Selama ini orang memahami, pertanian itu selalu dikaitkan dengan bercocok tanam dan itu salah. Memang benar bercocok tanam itu bagian dari pertanian, tapi pertanian tidak hanya bercocok tanam. Kita bisa memajukan produksi pangan nasional dengan memajukan teknologi pertanian dengan metode bercocok tanam yang baik dan itu tantangan. Saya pikir, itu yang harus dilakukan dan dikembangkan.

Indonesia harus segera melakukan transformasi pemanfaatan teknologi yang modern sehingga mengembangkan usaha pertanian itu dengan sistematis, mulai sejak awal sampai menjadi sebuah produk pertanian, penerapan teknologi dari hulu sampai hilir.

Tantangan-tantangan dunia pertanian sebetulnya bagaimana kita bisa mendefinisikan kebutuhan, pangan, dan produk-produk pertanian lainnya. Pertanian dalam arti luas tentu saja, mulai pangan, hortikultura, produk-produk hewan, perikanan, kehutanan, lingkungan, air, pokoknya pertanian dalam arti luas.

Air itu juga produk pertanian, kalau tidak ada hutan bagaimana ada mata air yang bisa diolah jadi air mineral. Itu yang harus dipahami. Global warming juga mengharuskan petani kita agar siap, ada perubahan jadwal tanam dan panen. Setelah kita tahu kebutuhan pangan, selanjutnya kita lakukan konfigurasi, misalnya untuk padi harus diproduksi di daerah mana, perikanan, ternak harus di mana.

Lalu kita sambung-sambungkan. Kunci utamanya integrasi hulu hilir karena nilai tambah itu di hilir, tapi kalau di hulu budi dayanya tidak ada, tidak akan ada proses hilirnya. Maka dari itu, harus ada integrasi hulu hilir pertanian sehingga kita sebagai bangsa secara keseluruhan menikmati nilai tambah itu.

Apakah sektor pertanian masih memerlukan afirmasi?
Memang diperlukan afirmasi agar siap bersaing dengan perusahaan pertanian skala besar, maka diutamakan penguasa­an teknologi dan penerapannya.

Sehingga kemudian para petani yang selama ini berada di kompetisi medan tak datar, akan menjadi berkompetisi di medan yang datar, persaingan itu penting tapi yang seimbang.

Jangan petani diadu dengan perusahaan besar, konsolidasi petani sudah kita kembangkan, prinsipnya konsolidasi usaha, misalnya para peternak-peternak yang jumlah ternaknya sedikit itu dikonsolidasi sehingga dapat mencapai economical scale yang baik. Sehingga, kalau economical scale-nya baik, petani bisa membeli teknologi dan menerapkan teknologi. Kalau sudah membeli teknologi nanti mereka akan dapat bisa bersaing.

Satu lagi, yaitu pertanian harus dikembangkan berbasis data. Data itu penting sekali, harus lebih akurat. Data produksi, harga komoditas, data harga sarana produksi, lahan, petaninya, kalau data ini sudah akurat, akan lebih mudah untuk mendesain sistem produksi pangan nasional yang satu kesatuan dan solid.

Selama data ini belum akurat maka akan repot. Kita impor bahan pangan yang sebetulnya kita mampu hasilkan karena pertanian itu perlu waktu sehingga perlu kebijakan yang komprehensif. Kebijakan itu harus konsisten dan jangka panjang. Selain perlu waktu, pertanian itu mengonsolidasi petani, peternak, nelayan dan tidak mudah mengonsolidasi mereka.

Bagaimana sebenarnya lapangan kerja di sektor pertanian bagi lulusan tingkat sarjana?
Belum cukup menarik, ini yang seha­rusnya kita buat menarik, sehingga para generasi muda akan tertarik ke sana. Karena pertama kalau dari sisi peran, sering kali bukan menjadi peran utama dalam sebuah tim pembangunan daerah misalnya. Kalau membangun mengutamakan pembangunan masyarakat dan petani, mestinya pertanian ini di depan, ini yang harus menjadi pemikiran, bukan karena ingin di depan atau menguasai. Tapi, memang bentuk tantangan terbesarnya adalah di situ kalau di pedesaan. Di kota pun masalah pangan terkait dengan kompetensi kita juga, maksud saya bidang-bidang yang penting itu kalau diberi porsi yang baik saya kira akan menarik, sesuatu yang memang menjadi kekuatan kita.

Jangan kita memberi apresiasi yang berlebihan kepada bidang yang sebenarnya bukan merupakan kekuatan kita, nanti kalau generasi mudanya ke bidang itu semua bagaimana.

Negara harus konsisten dan desain mengarahkan generasi muda ini ke arah mana yang merupakan menjadi kekuatan kita, harus dibuat atraktif dan jangan dilepas, apalagi diarahkan untuk kepentingan sebuah kelompok yang tidak sejalan dengan kepentingan nasional.

Misalnya laut itu luar biasa potensinya dan itu kekuatan kita, tapi seberapa jauh kita bisa membuat profesi di bidang kelautan itu menarik. Seharusnya kita itu membuat program bagaimana kelautan itu menarik sehingga banyak generasi muda yang mempunyai kompetensi dan berkiprah di bidang itu dan itu menjadi kekuatan kita.

Setujukah anda jika minimnya minat bekerja di sektor pertanian disebabkan pendapatan yang minim?
Begini, seperti sektor industri juga yang ada buruh kasarnya, petani juga ada buruhnya dan ada pemilik usahanya, ada perusahaan pertanian besar.

Tapi memang kalau industri itu dikonotasikan sebagai sesuatu yang keren, padahal di situ juga ada buruh juga, buruh pabrik. Tapi di pertanian yang digambarkan adalah petaninya, bukan perusahaan petaninya.

Kalau perusahaan petaninya di Jakarta juga banyak, perusahaan kelapa sawit, makanan, industri pangan dan itu termasuk pertanian juga. Jadi masalah mind set, di sini media memiliki peran agar generasi muda diarahkan mencintai bidang-bidang yang merupakan keunggulan kita sebagai bangsa.

Bagaimana Anda sendiri melihat kenyataan bahwa lahan pertanian, yang terus menyusut dan korelasinya dengan keengganan terjun ke sektor pertanian?
Saya pernah mengusulkan agar negara hadir di front-front konversi sawah menjadi kebutuhan lain. Negara harus hadir dan mengatur soal konversi sawah agar terkendali.

Yang kedua saya mengusulkan semacam riset pengembangan dan sosialisasi hunian vertikal di daerah-daerah yang diperkirakan akan mengalami proses konversi sawah menjadi hunian yang cukup tinggi.

Kita kembangkan, tapi yang cocok dengan keperluan para petani, pekerja dan sebagainya sehingga nantinya jika penduduk semakin bertambah, tidak mudah dilakukan konversi sawah karena sudah ada hunian khusus.

Di negara-negara maju, petani memiliki penghasilan yang baik karena didukung teknologi modern dan berbagai subsidi, bagaimana dengan Indonesia?
Harus ada subsidi memang, memang harus dikaji lagi seperti subsidi pupuk dan dianggap kurang efektif yang setahun memakan Rp31 triliun. Subsidi yang lebih kepada output dan target langsung, yang menikmati petani.

Jadi perlu cara dan gagasan baru mengenai subsidi yang lebih efektif, untuk meningkatkan kesejahteraan. Misalnya subsidinya diberikan pada achievement panenan tertentu atau diberikan subsidi atas kinerjanya dalam hal perbenihan, atau adopsi teknologi, jadi macam-macam. (M-1)

rizkynoor@mediaindonesia.com

Herry Suhardiyanto
Tempat, tanggal lahir: Banjarnegara, 10 September 1959
Pendidikan:
S-1: Mekanisasi Pertanian - Institut Pertanian Bogor (IPB) / 1981
S-2: Agricultural Engineering - Kochi University, Jepang / 1991
S-3: Agricultural Engineering - Ehime University, Jepang / 1994
Karier:
1. Rektor IPB (2007 - sekarang)
2. Ketua Umum Majelis Rektor Perguruan Tinggi se-Indonesia (2013 - sekarang)
3. Koordinator Sekretariat Bersama Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (2008 - sekarang)
4. Governing Board Member of Southeast Asian Minister of Education Organization, Center for Tropical Biology (2011 - sekarang)
5. Wakil Ketua Komite Inovasi Nasional Republik Indonesia (2010-sekarang)

Komentar