Jeda

Minat Generasi Penerus Tani semakin Berkurang

Ahad, 24 September 2017 07:00 WIB Penulis:

ANTARA/AMPELSA

MINAT dan partisipasi generasi muda dalam bidang pertanian terus menurun. Ada sejumlah penyebab, seperti pertanian dianggap tidak mampu menopang masa depan, akses lahan dan modal yang terbatas, dan minimnya berbagai dukungan lain bagi generasi muda.

“Berdasarkan statistik, generasi muda yang terjun ke pertanian terus menurun. Bahkan sekarang tinggal 8% saja, dengan komposisi umur petani. Sebagian besar orang-orang tua yang be­kerja di bidang pertanian,” papar pengamat pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa, Kamis (21/9).

Kondisi tersebut menunjukkan sektor pertanian saat ini kurang menarik bagi generasi muda. Kondisi serupa juga terjadi di negara yang ekonominya sedang berkembang, tempat jumlah petani akan terus berkurang. “Tidak terjadi rege­nerasi pada usia petani karena persentase petani muda di bawah usia 35 tahun terus menyusut. Itu terlihat dari 2003 sampai 2013, jumlah keluarga petani berkurang hingga 5 juta,” ungkapnya.

Ketua Umum Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia (AB2TI) itu juga mengatakan sektor pertanian hingga saat belum menjanjikan untuk menarik minat kalangan muda. Oleh karena itu, pemerintah seharusnya mengeluarkan kebijakan yang dapat menguntungkan kalangan muda, tidak sebaliknya hingga lebih memilih kerja di luar sektor pertanian.

“Dalam kondisi saat ini, sektor pertanian belum menjanjikan apa pun. Jadi, sangatlah penting kebijakan dan peran pemerintah dalam melakukan perlindungan harga. Akan tetapi, kecenderungan pemerintah ialah mengintervensi pasar ketika harga tersebut sangat menguntungkan petani. Ini yang kadang-kadang melukai hati petani,” pungkasnya. (FD/M-2)

Komentar