Khazanah

Prosesi agar Mata Air Tetap Lestari

Ahad, 24 September 2017 06:01 WIB Penulis: Liliek Dharmawan

MI/Liliek Dharmawan

KABUT dingin masih terlihat menyelimuti pepohonan di lereng Gunung Slamet bagian timur, ketika lebih dari 700 warga Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, Jawa Tengah (Jateng), memulai prosesi pengambilan air pada Kamis (21/9). Warga mengenakan baju adat Jawa baik yang perempuan maupun laki-laki. Perempuan mengenakan kain warna hijau serta merah, sedangkan laki-laki memakai pakaian serbahitam.

Mereka berkumpul di depan masjid di Dusun Kaliurip. Setelah berdoa yang dipimpin dua sesepuh desa Kiai Samsuri dan Kiai Mad Yusro, ratusan warga memulai prosesi dengan berjalan kaki. Mereka berangkat sambil diiringi selawat berlanggam Jawa dengan alat musik rebana.

Melewati perkebunan sayur dan perbukitan, penduduk Desa Serang menuju ke mata air Sikopyah yang berada di lereng Gunung Slamet. Jarak dari masjid desa ke mata air Sikopyah sekitar 2,5 kilometer (km). Saat berjalan menuju ke mata air Sikopyah, mereka diatur posisinya, laki-laki kemudian di belakangnya perempuan. Begitu seterusnya. Sebagian perempuan membawa sesaji, sapu lidi dan kendi, sedangkan laki-laki membawa tandu berisi tumpeng dan lauk-pauk.

Membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke lokasi mata air Sikopyah karena perjalanannya menaiki perbukitan. Sesampai di lokasi mata air, udaranya begitu sejuk. Lokasi mata air kini telah dibuatkan semacam gubuk kecil. Di sekeliling mata air pepohonan tua masih tetap tegak berdiri. Pepohonan tersebut dikeramatkan warga dan tidak boleh ditebang.

Di lokasi mata air Sikopyah itulah, sesepuh desa kembali memimpin doa untuk pengambilan air. Begitu rampung, warga mengisi lodong atau bambu yang menjadi tempat air sepanjang 2 meter. Satu per satu lodong tersebut diisi dengan air dari mata air Sikopyah. Kalau pada saat berangkat, warga tidak membawa apa-apa, tetapi saat turun dari perbukitan, mereka membawa lodong yang telah terisi air.

Di sepanjang perjalanan, mereka lebih banyak diam karena tengah mengikuti prosesi. Sesampai di jalan raya, laki-laki dan perempuan berjajar membawa 777 lodong yang telah terisi air. Barisan paling depan adalah mereka yang membawa tumpeng dan mengikuti di belakangnya ratusan warga pembawa lodong. Akhir perjalanan prosesi pengambilan air Sikopyah berada di Balai Desa Serang. Bambu-bambu yang berisi air tersebut kemudian ‘disemayamkan’ di balai desa selama dua malam. Pada Sabtu (23/9), air di dalam lodong dibagi-bagikan kepada seluruh warga Desa Serang berbarengan dengan pergelaran budaya dalam Festival Gunung Slamet 2017.

Sesepuh desa, Kiai Samsuri, mengungkapkan tradisi pengambilan air di mata air Sikopyah sudah menjadi tradisi warga. “Mata air Sikopyah telah menjadi bagian sangat penting bagi warga khususnya di Desa Serang. Sebab, dari Sikopyah, air bersih mengalir sampai ke desa. Ritual pengambilan air ini mengingatkan kepada warga untuk tetap menjaga lingkungan khususnya mata air Sikopyah. Dengan warga menjaga lingkungan, mata air Sikopyah bakal terjaga. Itulah mengapa, meski saat sekarang memasuki musim kemarau, mata air Sikopyah tetap mengalirkan air,” jelas Samsuri.

Ia mengungkapkan mata air yang bernama Sikopyah itu ada sejarahnya. Nama Sikopyah berasal dari kata kopyah dalam bahasa Jawa, artinya songkok atau kupluk. “Ada sesepuh desa sini namanya Mbah Mustofa mengambil air wudu di mata air lereng Gunung Slamet itu. Namun, ‘kopyah’-nya ketinggalan. Begitu kembali, ‘kopyah’ sudah tidak ada sehingga kemudian dinamakan Sikopyah. Sejak saat itu juga, mata air dimanfaatkan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata dia.

Festival Gunung Slamet

Ritual menjaga agar mata air Sikopyah tetap lestari terus dilakukan hingga sekarang. “Kalau dulu, warga yang melakukan ritual hanya sedikit. Namun, sudah tiga tahun terakhir, ritual pengambilan air di mata air Sikopyah diagendakan dalam Festival Gunung Slamet. Kami sangat senang karena warga akan semakin sadar pentingnya kelestarian lingkungan, terutama mata air Sikopyah yang merupakan sumber kehidupan warga,” ujar Samsuri.

Kepala Desa Serang Sugito menambahkan, sebelum masuk agenda Festival Gunung Slamet, tradisi pengambilan air Sikopyah telah ada sejak dulu. Pengambilan air sebagai hal yang penting dalam rangka konservasi air dan lingkungan. “Kenapa saat sekarang semakin dibesarkan acaranya, tidak lain supaya generasi muda ikut ambil bagian dan sadar pentingnya kelestarian lingkungan. Pesan dari prosesi ini adalah bagaimana warga terutama anak muda mampu melanjutkan tradisi konservasi yang telah terbangun nyata sejak lama,” katanya.

Sementara itu, Bupati Purbalingga Tasdi mengungkapkan sejatinya prosesi pengambilan air Sikopyah bukan sekadar ritual pengambilan air dan kemudian membagi-bagikan kepada warga.

Ritual pengambilan air merupakan penanaman kepedulian terhadap alam. Kepedulian terhadap lingkung­an agar tetap lestari tidak cukup hanya teori, tetapi harus diejawantahkan dalam keseharian. “Ritual ini bagian dari penanaman nilai-nilai kepedulian lingkungan, khususnya bagi anak-anak muda,” ungkap Bupati.

Bupati berharap prosesi atau ritual pengambilan air di Sikopyah tak sekadar menjadi rutinitas semata, tetapi juga bagian dari upaya penyadaran secara terus-menerus kepada warga khususnya penduduk Desa Serang. Yang paling utama adalah menjaga supaya Sikopyah sebagai mata air tetap mengalir, bukan kemudian menge­ring, dan mengalirkan air mata. (M-2)

Komentar