Travelista

Batu Kramat di Pusuk Buhit

Ahad, 24 September 2017 05:31 WIB Penulis: Kennorton Hutasoit/M-1

DOK/KENNORTON HUTASOIT

REINHARD Nainggolan, 43, asyik memotret pemandangan hamparan Kaldera Toba di jalan berkelok pendakian Gunung Pusuk Buhit, Kabupaten Samosir, Sumatra Utara. Sesekali dia swafoto di lokasi-lokasi yang indah pemandangannya terutama yang terlihat Danau Toba dari ketinggian kaki Gunung Pusuk Buhit.

Sabtu pagi, akhir Agustus, awan putih menyelimuti kaki Gunung Pusuk Buhit. Awan tipis yang bergerak memberi kesejukan pada pendaki. Awan tipis itu tak memupus keelokan danau dan tidak menyurutkan semangat Reinhard untuk mengoleksi foto sepanjang jalan.

“Kampung kakek saya di Bakkara (Kabupaten Humbang Hasundutan), walaupun beda kabupaten, tidak jauh dari Pusuk Buhit ini. Namun, baru kali ini saya mendaki hingga ke Pusuk Buhit ini. Ternyata keindahan danau dari berbagai sisi begitu indah,” kata Reinhard, anggota komunitas PS Jericho HKBP Kebon Jeruk, Jakarta, akhir Agustus di Samosir.

Maruli Simaibang, 49, ketua komunitas PS Jericho, juga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan mengoleksi foto-foto di sepanjang pendakian. Kalau wisatawan asing yang lebih ilmiah biasanya me­ngoleksi foto situs geologi hasil pembentukan muka bumi puluhan ribu tahun silam, wisatawan domestik seperti Simaibang mengoleksi foto bentang alam yang indah dan swafoto. “Dari kampung saya Desa Silalahi, Pusuk Buhit ini terlihat jelas. Namun, baru kali ini saya bisa sampai ke Pusuk Buhit ini,” kata Simaibang sambil menunjuk perairan Danau Toba di pinggiran Kampung Silalahi.

Batu besar nan kramat

Di sepanjang pendakian ke Pusuk Buhit terdapat sejumlah batuan besar di atas tanah, hasil letusan Gunung Toba. Bebatuan ini menjadi elemen sakral bagi masyarakat Toba sejak dahulu. Sejumlah batu besar seperti di Pos III dianggap sakral. Bahkan terdapat lima hingga 10 batu besar yang menyebar di sekitar kaki Pusuk Buhit menjadi tempat kramat bagi orang tertentu.

Pada 2014, Danau Toba diajukan dalam pengelolaan Taman Bumi Kaldera Toba ke Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). Hasil letusan supervolcano yang terakhir terjadi 74 ribu tahun silam ini tak sekadar menyimpan warisan kebumian yang berharga, tetapi memuat pula peradaban dengan keragaman budaya yang berorientasi pada bentang alamnya.

Untuk mengoptimalisasi pengelolaan, pengembangan, dan pembangunan Danau Toba sebagai salah satu kawasan strategis pariwisata nasional, Presiden Joko Widodo telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 49 Tahun 2016 tentang Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba. Badan Otorita yang dipimpin Arie Prasetyo itu menargetkan 1 juta wistawan ke Danau Toba hingga 2019. (Kennorton Hutasoit/M-1)

Komentar