Tifa

Penguatan Keterampilan dalam Tradisi Seni Patung

Ahad, 24 September 2017 03:01 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

MI/ABDILLAH MARZUQI

BEBERAPA pekan belakangan, Galeri Nasional Indonesia seolah dihias elok dengan tampilan baru. Ruang latar samping galeri diisi dengan benda-benda berukuran besar. Dimensinya cukup besar hingga mampu mencolok mata dari kejauhan. Bahkan gerbang masuk dari jalan raya pun bisa dengan leluasa menjangkau objek berskala besar itu. Boleh­lah berpenasaran tentang ­ihwal kondisi tersebut.

Patung seorang pria diletak­kan di sisi paling mudah dijangkau padangan mata. Posisi tubuhnya tegap dalam balutan setelan jas dan sepatu pantofel. Tangan kirinya ditekuk sampai di bawah dada. Jemarinya diselipi cerutu yang tinggal separuh, di antara jari telunjuk dan tengah. Tangan kanan dibiarkan bebas menggantung dengan menggenggam gulung­an kertas.

Seturut dengan wajah yang menyerong ke kiri, begitu pun arah pandangnya. Kacamata yang dikenakannya tak mengurangi tampilan tajam sorot matanya. Seketika melewati gerbang masuk, objek itu akan langsung menyapa. Itu adalah karya Wahyu Sentosa berjudul RJ Katamsi (2017) yang berbahan poliester resin dengan dimensi 250 x 90 x 75 cm. Bisa dibayangkan besar dan beratnya karya itu.

Wahyu Sentosa bersama 45 seniman lain berturut dalam perhelatan Trienal Seni Patung Indonesia pada 7-26 September 2017 di Gedung A dan B serta outdoor Galeri Nasional Indonesia. Pameran ini merupakan perhelatan yang ketiga kalinya diselenggarakan Galeri Nasional Indonesia setelah digelar pada 2011 dan 2014. Pameran ini dikuratori Rizki A Zaelani dan Asikin Hasan.

Seluruh seniman yang terlibat merupakan pematung yang diundang khusus atas dasar konsistensi kerja, sikap, serta konsep berkarya dalam pengembangan seni patung modern dan kontemporer Indonesia. Para perupa tersebut di antaranya Nyoman Nuarta, Eko Nugroho, Joko Avianto, Rita Widagdo, Sunaryo, Ichwan Noor, Handiwirman Saputra, Eddi Prabandono, dan perupa lain yang masing-masing menampilkan karya terbaiknya.

Pada pameran yang kali ini mengambil tema Skala. Kepala Galeri Nasional Indonesia Tubagus Andre Sukmana mengungkap tema Skala untuk Trienal Seni Patung Indonesia #3 merupakan keberlanjutan dari tema sebelumnya yang bergerak dari persoalan re-skilling atau penguatan kembali aspek keterampilan dalam tradisi seni patung.

Penguatan kembali

Tema Skala bergerak dari persoalan re-skilling atau penguatan kembali aspek keterampilan dalam tradisi seni patung. Persolan re-skilling juga menjadi pokok gagasan pada tema Trienal Seni Patung Indonesia #2 pada 2014 yang mengambil tema Versi. Persoalan re-skilling juga tak terpisahkan dari Trienal Seni Patung Indonesia #1 pada 2011 dengan tema Ekspansi yang menggagas ekspresi dalam tradisi seni patung Indonesia.

“Di samping karena tema Skala yang bertumpu pada kedua landasan kuratorial perhelatan sebelumnya, pada satu sisi Skala berarti cara pandang khas yang biasa dilakukan dalam tradisi kerja seni patung. Di sisi lain, juga skala bermakna melebar dalam konteks strategis atau politis,” terang Andre.

Selain karena bertumpu pada kedua landasan kuratorial perhelatan sebelumnya, tema Skala juga tak terbatas tentang persoalan cara seseorang mengukur dan membandingkan jarak bentuk secara fisikal. Tema itu mengartikulasikan makna dari pokok-pokok masalah secara mental serta konseptual. Itulah sebabnya, banyak patung berukuran raksasa yang dipamerkan, tetapi juga banyak pula yang berukuran kecil.

Dalam kuratorial ditulis bahwa ketika sebuah patung dipamerkan, sebenarnya seseorang tak hanya menyaksikan apa yang ditunjukkannya, tapi juga menemukan bagaimana yang dimaksud ditampilkan. Sebuah patung lebih dari sekadar karya dengan kemungkinan tiga dimensional. Karya patung, sesungguhnya, merupakan proses kreasi dan apresiasi seni sekaligus melibatkan waktu sebagai dimensi yang keempat.

Tema Skala tak terbatas persoalan seseorang mengukur dan membandingkan jarak bentuk secara fisikal tetapi juga soal mengartikulasikan makna-makna secara mental dan konseptual.

Lebih lanjut dalam kuratorial disebut bahwa pokok-pokok masalah yang diperbandingkan melalui karya seni patung adalah kenangan maupun imajinasi tentang budaya. Kebudayaan bukan hanya soal kumpulan objek, barang, atau benda-benda melainkan ­tentang aneka rangkaian kejadian dan pemahaman yang terus berubah berkelanjutan. Lebih dari sekedar memikir dan membandingkannya sebagai satuan objek-objek yang bersifat statis. Kebudayaan adalah mengenal serta ­menyelami praktek kebudayaan ­dalam praktiknya adalah rangkaian proses pemaknaan.

Komentar