Tifa

Penari Disabilitas Dunia Unjuk Kebolehan

Ahad, 24 September 2017 02:01 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi/M-2

MI/ABDILLAH M MARZUQI

GERAK mampu menyatukan mereka. Melalui gerak, segala batasan menjadi kabur. Tak ada lagi beda antara mereka yang normal dan mereka yang berkebutuhan khusus. Bahasa gerak ialah universal. Bahasa itu mampu melewati segala macam batasan, suku, ras, agama, bahkan batasan bangsa dan negara. Semua perbedaan itu lenyap dan kabur dalam cahaya panggung. Tidak ada yang menyangsikan bahasa itu.

Ketika delapan kursi roda didorong masuk panggung. Meski berada di atas kursi roda, mereka tampak indah dan anggun dalam balutan kostum nuansa tradisional. Belum lagi ketika mereka menyanyi tiga lagu daerah, seperti lagu Kicir-Kicir dari Jakarta, Selayang Pandang dari Sumatra, dan Yamko Rambe dari Papua. Para penyandang disabilitas itu bernyanyi. Itu menjadi bukti panggung telah menyatukan mereka.

Para penyandang disabilitas dari YPAC Jakarta (Yayasan Pembinaan Anak Cacat) berkolaborasi dengan para penari dari EKI Dance Company. Mereka mempersembahkan kombinasi antara menyanyi dan menari. Gerakan tari etnik khas Indonesia dipadu dengan suara cantik dari para penyandang disabilitas.

Mereka menjadi salah satu penampil dalam The 2nd Indonesian Ballet Gala: An Inclusive Dance Event di di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki pada 23 September 2017. Aca­ra itu diselenggarakan British Council Indonesia, Kedutaan Besar Australia, dan Institut Prancis, dan Ballet ID.

Mereka berada dalam satu panggung dengan para penari profesional lain. Setidaknya terdapat tujuh koreo yang ditampilkan pada malam itu, yakni Cloud Passade oleh CANdoDANCE Indonesia, La Fille de L`Air oleh Magali Saby, Spartacus Pas De Deux oleh Queensland Ballet, Studies for C oleh Candoco Dance Company, La Bayadere Pas de Deux oleh Universal Ballet, Remember When oleh Marc Brew, dan Black Swan Pas De Deux From Swan Lake oleh Queensland Ballet. Pertunjukan itu lalu diakhiri dengan curtain fall dengan iringan lagu Rayuan Pulau Kelapa yang diaransemen Addie MS.

Kolaborasi

Dalam panggung itu pula, tidak hanya ada penari penyandang disabilitas, tetapi juga beberapa koreografer. Daniel Daw, penari Candoco Dance Company, Inggris, yang menderita cerebral palsy. Magali Saby, penari dari Prancis yang harus bergantung dengan kursi rodanya. Begitu pun dengan Marc Brew dari Australia yang juga harus berada di atas kursi roda seusai mengalami kecelakaan.

Selain itu, ada tarian La Fille De L’Air yang merupakan kolaborasi tari dari penari Indonesia yang terpilih lewat audisi dengan Magali Saby. CanDoDance, tarian yang melibatkan sejumlah penari tunarungu Indonesia.

“Saya ingin semua tuli bisa menari. Tak hanya tuli. Bahkan untuk penyandang disa­bilitas lain,” terang Isro` Ayu Permata Sari yang kala itu bersama temannya Annisa Rahmania.

Helatan ini menunjukkan mereka yang memiliki keterbatasan tidak memerlukan ­tatapan iba atau hal lainnya yang memandang sebelah mata mereka. Mereka sanggup dan bisa berkarya sama seperti penari pada umumnya.

Yang lebih penting seperti yang diungkap oleh Marc Brew, bahwa keyakinan diri ialah kunci. Selain itu, keingin­an dan hasrat untuk bisa pentas menari. (Abdillah M Marzuqi/M-2)

Komentar