Film

Aksi Dua Galahad

Sabtu, 23 September 2017 23:46 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

DOK. FILM KINGSMAN: THE GOLDEN CIRCLE

PAYUNG dan koper, masih ingat dengan dua benda itu? Dua aksesori yang tampak indah di tangan biasa. Namun, kedua benda itu menjadi senjata elegan nan mematikan di tangan para agen Kingsman.

Dalam film pertama Kingsman: The Secret Service (2014), penonton dimanjakan dengan film laga yang penuh kejutan. Para agen bersetelan rapi berubah menjadi petarung andal berbalut jas.

Sebuah lapak jahit di tengah kota menjadi markas para penyelamat dunia. Pola rekrutmen agen tak biasa. Alur cerita boleh dibilang sangat sedikit menampilkan sisi romantis, di sisi lain sangat menonjolkan unsur laga.

Di film yang tayang tiga tahun lalu, penonton kehilangan sosok Harry dengan julukan Galahad. Pria setengah tua itu terkenal dengan kutipannya Manners Maketh Man. Penonton juga dipukau dengan aksi Eggsy, agen rekrutan baru pengganti Galahad.

Setidaknya memori-memori itu akan membekas ketika keluar bioskop. Seusai menonton film, memori itu masih terjaga, bahkan sampai membawa penasaran untuk sekuel berikutnya.

Dalam sekuel terbaru mereka, Kingman: The Golden Circle tetap mengambil setting lanjutan dari film pertama. Yakni pascakeberhasilan Kingsman menggagalkan misi jahat Valentine yang ingin menguasai dunia. Tiga tahun setelah itu, sang kelompok agen rahasia kembali menghadapi situasi rumit.

Film berdurasi 2 jam 21 menit itu dimulai dengan kehadiran Charlie Hesketh (Edward Holcroft), mantan pelamar Kingsman yang memburu Eggsy (Taron Egerton), dan hendak menghancurkan agen independen tersebut. Kendati Eggsy berhasil lolos dari buruan Hesketh, tidak demikian dengan data Kingsman.

Data itu diretas Poppy Adams (Julianne Moore), pemilik kartel narkoba terbesar di dunia The Golden Circle. Ia mempekerjakan Hesketh untuk lebih dulu menghancurkan Kingsman demi melancarkan misinya menguasai dunia. Markas-markas besar Kingsman pun hancur lebur dibom Poppy. Toko penjahit yang menjadi lokasi persembunyian ikut dihancurkan.

Beruntung, saat itu Eggsy sedang tak berada di markas. Merlin pun selamat karena kediamannya tidak masuk data utama Kingsman. Sebagai anggota Kingsman yang tersisa, mereka mencari penyelamatan terakhir Kingsman yang disimpan dalam brankas di toko minuman.

Pencarian itu membawa keduanya ke sebuah kawasan penyulingan wine bernama Statesman di Kentucky, California. Ternyata Statesman juga sebuah organisasi intelijen rahasia independen.

Di sana pula mereka menemukan kejutan lain. Harry (Colin Firth) ternyata lolos dari maut. Agen Kingsman berjuluk Galahad pendahulu Eggsy itu tak disangka masih hidup. Kingsman pun harus berta­rung bersama Statesman demi sebuah misi besar, menyelamatkan dunia dari Poppy yang meracuni masyarakat lewat narkoba. Kingsman masih dengan gayanya, agen rahasia dengan setelan jas rapi. Sementara itu, Statesman bertarung bak para koboi.

Di luar pertarungan mereka dengan Poppy, ada konflik internal yang dihadapi, baik antara Kingsman dan Statesman maupun Hesketh yang nyatanya masih menghantui hidup Eggsy.

Banyolan

Selama hampir 2,5 jam, suguhan Kingsman: The Golden Circle bukan hanya menampilkan bagaimana agen rahasia itu beraksi melawan musuh dengan gaya elegan yang khas, melainkan juga banyolan-banyolan unik dan renyah yang begitu menghibur.

Banyak kritikus film memberi catatan kurang positif pada film sekuel kedua Kingsman. Beberapa hal masuk kategori kurang memuaskan, seperti sejumlah adegan laga di awal film yang masih terasa kasar, jalan ceritanya pun cukup mudah ditebak, sehingga sensasi untuk menunggu kejutan dalam film ini terasa kurang maksimal.

Namun, para kritikus juga memberikan poin lebih dengan menyatakan bahwa secara keseluruhan film ini masih dapat diterima dan menghibur.

Meski demikian, ada beberapa alasan untuk tidak melewatkan sekuel ini. Di balik laga yang hampir mendominasi setiap adegan, terdapat beberapa selipan yang mampu menggelitik akal sehat para penonton. Misalnya tentang kesetiaan dan loyalitas. Poppy sengaja tidak terlalu banyak mempekerjakan manusia karena dianggap punya kelemahan dalam dua faktor di atas. Sebagai gantinya, Poppy banyak memakai robot dengan teknologi canggih untuk menggantikan peran manusia.

Selain itu, diskursus moralitas ditampilkan dalam film ini. Soalan tentang hak hidup bagi pencandu narkoba. Sekuel terbaru ini tidak saja menghibur, tetapi pula menyentil akal sehat para penontonnya. Pergulatan moralitas diselipkan dalam setiap adegan dan dialog antarpemain. Apakah pencandu narkoba masih punya hak untuk diselamatkan dan berhak hidup?

Seperti ketika seorang harus bekerja 20 jam setiap hari selama seminggu untuk negaranya, agen intelijen Statesman yang ternyata juga memakai narkoba, ataupun Tilde yang mencoba narkoba akibat kecewa dengan sikap Eggsy.

Banyak latar belakang yang tidak hitam putih ketika para korban memutuskan memakai narkoba. Ada faktor kekecewaan, depresi, faktor pekerjaan, tekanan lingkungan, sampai hanya coba-coba. Sekali lagi, apakah mereka patut dibiarkan mati oleh pemerintah dengan cara yang sama sekali tidak terbayangkan.

Setidaknya jika memori untuk adegan laga dan struktur cerita tetap dimiliki sekuel pertama Kingsman, biarlah sekuel kedua merebut memori penonton dengan diskursus tentang moralitas. (M-4)

Komentar