Hiburan

Sesederhana Menikmati Musik

Sabtu, 23 September 2017 23:16 WIB Penulis: Fik/M-4

MI/TAMPAN DESTAWAN

BERMAIN drum, menurut Deny Surya, tak melulu dengan tempo cepat dan pukulan. Apalagi setelah lagu Rosanna milik Toto dengan permainan Jeff Porcaro, ia mulai mendalami instrumen yang dikuasanya sejak SMP. Kini ritme yang dihasilkan Deny membentuk fondasi ritmis lagu-lagu Dialog Dini Hari bersama Dadang SH Pranoto (gitaris/vokalis) dan Brozio Orah (basis).

“Rosanna memang menjadi lagu pemicu saya untuk mendalami drum. Dari lagu itu baru cari tahu lebih lagi tentang beat dan groove termasuk shuffle,” kata Deny saat berbincang dengan Kotak Musik, Kamis (21/9).

Karakter ritmis itu semakin kuat berpadu dengan permainan bas Zio dan warna vokal Dadang yang khas. Jam terbang dan latar belakang karier musik masing-masing membuat keha­diran Dialog Dini Hari yang pada awalnya proyek studio tanpa panggung (dulu bersama Ian Joshua Stevenson dan Mark Liepmann dari Kaimsasikun) menjadi karya yang mudah diterima penikmat musik.

Kekuatan ritmis pun telah dibentuk Zio dan Deny sejak lama. Saat SMA mereka sempat membuat grup musik bersama. Sebagai musisi terpandang di Bali, sepak terjang dan proses berkreasi tiga musikus ini tak membutuhkan waktu lama. Bahkan pergantian personel di awal karier mereka bukan kendala berarti.

Empat album telah mereka lahirkan sejak 2009. Album perdana bertajuk Beranda Taman Hati, Self-titled (2010), Lengkung Langit (2012), dan Tentang Rumahku (2014). “Saat kami memutuskan 11 lagu, kami harus siapkan 33 lagu, semuanya harus kami pilah lagi. Hal itu untuk memotivasi agar kami menjadi band yang produktif,” kata Dadang saat bertemu Kotak Musik di Jakarta, Mei lalu.

Walaupun banyak penikmat musik menyematkan mereka dengan genre musik folk, mereka mengaku tidak mau dilekatkan dalam satu genre saja. “Saya sering ditanya album selanjutnya mau bikin apa. Saya ada alat ini sih, Deny mau beli itu, hmm mungkin aku pakai elektrik asyik, ya, hehe,” lanjut Dadang bergurau.

Sebagai musisi, Dadang dan kawan-kawan membebaskan semua interpretasi musik Dialog Dini Hari kepada pendengar. Karena bagi mereka, karya yang sudah dibagikan ke publik bukan milik mereka lagi. “Namun, kami sudah tahu blueprint karya ini seperti apa, saat pendengar tahu dan paham apa yang kami maksud, itu menjadi nilai plus buat kami,” timpal Zio.

Folk

Dadang tak menampik album Beranda Taman Hati sangat kuat dengan unsur folk. Namun, di album kedua, eksplorasi yang dilakukan lebih brutal dan mengarah ke world music.

”Cuma bedanya tipis pemain etnik dan folk karena semuanya memakai tradi­sional. Kalau bicara folk kan ada kaitannya sama tradisional cuma tidak memakai alat musik etnik,” ujar Dadang.

Karena itu, Dadang merasa rancu. Tidak berani mendeklarasikan diri sebagai band folk. “Secara ongkos produksinya tinggi. Karena keterbatasan itu, kami tidak berani ngomong apa pun, tidak berani untuk bi­lang folk walaupun bermain akustik. Akan tetapi, kalau melihat sejarah folk, semuanya terbentuk berdasarkan geografis, di Balkan pakai akordeon, yang Spanyol dengan flamenco, di Indonesia pun kuat. Saya pikir secara geografis pun banyak,” lanjutnya.

Di era musik saat ini, lanjutnya, banyak musikus folk independen internasional dan lokal yang selalu berpegangan dengan gitar akustik.
“Sebenarnya folk tidak harus dengan akustik gitar. Apalagi secara lirik kalau bahas Bob Dylan dengan yang sekarang jauh sekali. Karena definisi folk ya lagu rakyat, lirik-lirik tentang sosialnya tinggi.”

Lantas seberapa besar sentuhan folk yang ada dalam musik Dialog Dini Hari? “Dengan latar belakang musik kami yang konyol, folk itu paling maksimal 15%-20%. Kalau ngomongin gitar akustik, ya karena saya sudah pegang gitar elektrik di Navicula, saya mau coba gitar yang lain. Lalu kebetulan lirik yang saya tulis berdasarkan apa yang saya tahu dan pahami saja. Tanpa sadar ranah yang saya tulis adalah folk,” jelas Dadang.
Simak obrolan lebih mendalam bersama mereka yang pernah mengaku menggelandang di Ibu Kota. Nikmati juga video aksi panggung mereka yang didokumentasikan dalam helatan Melodi Alam 2017 hanya di kanal Youtube Kotak Musik. (Fik/M-4)

Komentar