Eksplorasi

Grand Finale: Akhir Perjalanan Cassini

Sabtu, 23 September 2017 04:31 WIB Penulis: Hanif Gusman

Sumber: Nasa. CNRS/Foto: NASA/AFP

TEPAT pada Jumat (15/9) Badan Antariksa AS (National Aeronautics and Space Administration/NASA) menerima sinyal terakhir dari pesawat angkasa luar Cassini yang telah menyelesaikan misi terakhirnya yang bernama Grand Finale.

Misi tersebut selesai setelah sang pesawat nirawak bertugas selama 13 tahun.

Setelah menyelesaikan misi terakhir, pesawat yang mempelajari planet Saturnus dan bulannya tersebut akan menghancurkan diri dengan terjun ke atmosfer Saturnus.

Pesawat tersebut diketahui mulai memasuki atmosfer Saturnus pada 11.55 GMT Jumat (15/9) dengan kecepatan 75 ribu mil per jam (120.700 kilometer per jam) seperti dilaporkan NASA.

Cassini merupakan sebuah proyek kerja sama internasional antara NASA, European Space Agency (ESA), dan Badan Antariksa Italia (Agenzia Spaziale Italiana/ASI).

Proyek tersebut juga melibatkan ilmuwan dari 27 negara serta menghabiskan dana sekitar US$3,9 miliar.

Pesawat tersebut diluncurkan ke angkasa luar pada Oktober 1997 dari Cape Canaveral di Florida.

Sekitar tujuh tahun setelahnya atau tepatnya pada 1 Juli 2004, Cassini memasuki orbit Saturnus.

Misi penelitian pun dimulai. Objek utama pada misi penelitian tersebut ialah cincin planet, magnetosfer, serta satelit alami Saturnus, Titan.

Sejak memulai misi penelitiannya tersebut, Cassini telah menghasilkan 450 ribu gambar, data 635 gigabita tentang 'raksasa' bercincin itu, serta bulannya yang berjumlah lebih dari 50.

Grand Finale

Setelah melakukan perpanjangan misi untuk durasi tujuh tahun pada 2010, Cassini terbang melintasi satelit Saturnus dalam banyak waktu.

Pada fase tersebut, Cassini ditugasi untuk mengeluarkan semua propelan pesawat sambil menjelajahi Saturnus yang berakhir dengan terjun ke atmosfer planet tersebut.

Sejak April 2017, Cassini pun memulai misi terakhirnya setelah 20 tahun lepas landas dari bumi, yaitu Grand Finale.

Setiap pekan pesawat nirawak tersebut telah melewati celah antara Saturnus dan cincinnya seluas 1.200 mil (2.000 kilometer).

Penjelajahan tersebut merupakan yang pertama di Saturnus.

Cassini mulai ditempatkan pada jalur penjelajahan yang lebih berani melalui 22 rangkaian orbit di antara planet dan cincinnya hingga sampai pada pendekatan terakhir pada 15 September 2017.

Pada fase tersebut, Cassini akan kehabisan bahan bakar dan terjun ke atmosfer.

Hal tersebut dilakukan untuk menghindari kemungkinan Cassini menabrak Titan ataupun satelit lain yang dapat berpengaruh terhadap kehidupan mikroba pribumi.

Penemuan

Selama 13 tahun bertugas meneliti Saturnus, Cassini menemukan banyak hal baru terkait dengan planet tersebut.

Pada penelitian ditemukan enam bulan lainnya, struktur tiga dimensi yang menjulang di atas cincin Saturnus, serta badai raksasa yang terjadi di planet tersebut selama hampir setahun.

Pesawat yang berukuran 6,7 x 4 meter tersebut juga menemukan geyser es yang meletus di Enceladus, bulan terbesar keenam Saturnus.

Selain itu, Cassini menemukan struktur danau hidrokarbon yang terbuat dari etana dan metana di bulan terbesar Saturnus, Titan.

Selain itu, masih banyak penemuan lain yang bermanfaat bagi para peneliti.

Dengan berakhirnya misi Cassini, para ilmuwan menganggap hal tersebut sebagai sebuah kehilangan besar.

Ilmuwan proyek Cassini Linda Spilker bahkan mengatakan perpisahan dengan pesawat nirawak tersebut terasa seperti kehilangan teman karena banyaknya hal yang didapat dari pesawat tersebut.

Terima kasih Cassini!

(AFP/NASA/Reuters/L-1/M-3)

Komentar