Jendela Buku

Mengintip Mesin Waktu Sapardi Djoko Damono

Sabtu, 23 September 2017 03:01 WIB Penulis: Her/M-2

GORESAN pena di atas kertas-kertas itu sebagian tampak rapi dan teratur.

Sesekali ada coretan di kata-kata yang tertulis sebelumnya, kemudian digantikan dengan kata lain yang ditulis di atasnya.

Berbeda dengan kebanyakan orang yang menulis sambung dengan kecondongan miring ke kanan, tulisan itu justru miring ke kiri.

Itulah tulisan tangan seorang Sapardi Djoko Damono (SDD), sastrawan berusia 77 tahun yang terbilang produktif.

Dia telah menerbitkan puluhan buku sendiri maupun terjemahan.

Sajak-sajak Sapardi telah diterjemahkan ke dalam belasan bahasa, lebih dari 50 di antaranya digubah menjadi nyanyian dan beberapa telah dialihwacanakan menjadi komik dan film.

Nah kini pembaca bisa melihat bagaimana seorang Sapardi berproses dalam hobinya menulis sejak masih menjadi murid sekolah menengah atas di Solo (1958) hingga 1970-an.

Penulis Hujan Bulan Juni itu meluncurkan Manuskrip Sajak di ajang Indonesia International Book Fair 2017, Kamis (7/9).

Isi buku tersebut terdiri atas kolase gambar kumpulan manuskrip sajak-sajak karya Sapardi Djoko Damono (SDD) yang dibagi dalam periode tahunan.

Buku seharga Rp360 ribu itu akan mulai tersedia di pasaran, November.

Melihat manuskrip sajak-sajak Sapardi sejak masih muda menjadi jelas betapa berbagai penghargaan dalam bidang sastra yang diraihnya seperti Anugerah Puisi Putra dari Malaysia (1984), SEA-Write Award dari Thailand (1986), dan Habibie Award (2016), tidaklah diraih dalam semalam.

Pria kelahiran Solo itu pun terus belajar dan berkembang, hingga menjadi dirinya sekarang.

Tanpa malu, Sapardi mengakui bahwa di masa SMA ketika mulai menulis sajak dirinya terbilang cengeng.

"Saya dari SMA sampai mahasiswa tidak pernah tidak galau, ya galau terus," ungkapnya sambil terkekeh.

Pada masa remaja itu, dalam semalam kadang dia bisa menulis tidak kurang dari 18 sajak.

Kini membaca dirinya sendiri sebagai kritikus, Sapardi menilai itulah yang terjadi kalau seseorang menulis dengan galau dan marah.

Namun, menurutnya, seseorang yang marah itu tidak boleh dan berhak menulis puisi.

Harus tenang dulu, baru menulis.

Hal inilah yang kemudian dia pelajari seiring waktu.

Di antara puisi yang ditulisnya dengan proses menenangkan amarah itu, bahkan baru selesai setelah tiga tahun, yakni sajak Marsinah.

Di kurun 1958-1970-an itu, Sapardi belum memiliki mesin tik apalagi komputer.

Makanya dia terbiasa menuliskan semuanya di buku sekrip.

Setiap kali hendak mengirimkan karyanya ke majalah, dia baru pergi ke kantor bapaknya sehabis jam kantor, untuk menumpang mengetik.

Hal itu berlangsung sampai akhirnya mampu membeli mesin tik.

Makanya melihat kolase gambar Manuskrip Sajak Sapardi Djoko Damono, juga mengantarkan kita ke kepingan masa silam sang sastrawan ketika menulis belum bisa memberikannya jaminan penghasilan.

Penemuan tak disengaja

Hadirnya buku Manuskrip Sajak ini buah kebetulan saat Sapardi sedang membongkar-bongkar buku.

Di antara tumpukan bukunya, dia menemukan berjilid-jilid buku tulis yang berisi sajak yang dulu ditulisnya. Sebagian besar dari mereka, tidak pernah dimuat ataupun diterbitkan.

"Saya kaget sendiri pas bongkar buku," akunya tak menyangka buku tulisnya itu masih ada sekali pun sudah berkali-kali pindah tempat tinggal dari Solo hingga Jakarta.

Untuk merancang buku berisi arsip lama itu, Sapardi bekerja sama dengan Indah Tjahjawulan, Dekan Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta.

Sebelum menjadi buku, sebagian manuskrip sajak Sapardi itu juga sempat dipamerkan dalam ajang Makassar International Writers Festival.

Kendati terbilang rapi, tidak semua tulisan Sapardi dalam buku ini bisa dibaca. Selain karena banyak yang memang tintanya tembus dari halaman kertas di belakangnya, masih dalam ejaan lama.

"Saya kalau baca tulisan saya sendiri, banyak yang tidak bisa terbaca. Itu kan pakai ejaan lama, sementara kita sudah berapa kali ganti jenis ejaan," ujar Sapardi. Dia pun menyarankan agar manuskrip sajak-sajaknya itu diterima lebih sebagai gambar daripada sebagai sajak.

Terlepas dari itu, Manuskrip Sajak Sapardi Djoko Damono ini merupakan harta karun yang berharga, baik bagi penikmat puisi SDD agar dapat lebih mengenalnya, sebagai data sejarah sastra untuk peneliti, ataupun artefak budaya yang perlu diperlihatkan kepada masyarakat.

Sudah saatnya bangsa ini terbiasa menyelamatkan arsip-arsip berharga yang bernilai sejarah, karena darinya kita bisa memetik pelajaran.

Buku ini menjadi contoh bagaimana arsip bisa menjadi mesin waktu ke masa lalu.

_________________________________

Judul: Manuskrip Sajak

Penyusun: Sapardi Djoko Damono dan Indah Tjahjawulan

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Terbit: September 2017

Tebal: 208 halaman

Komentar