Jendela Buku

Tertawa bukan Larangan Agama

Jum'at, 22 September 2017 23:16 WIB Penulis: Hera Khaerani

LUCIFER adalah iblis bintang lima yang paling berprestasi di kerajaan iblis.

Dia baru tahu bahwa ternyata di Kitab Peraturan para Iblis setebal 6.666 yang baru dibacanya dengan teliti, pensiun adalah hal yang diperbolehkan.

Andai dia tahu, dia pasti sudah meminta berhenti sejak 2000 tahun silam.

Dia pun mengajukan pensiun dini, menjadi iblis pertama dalam sejarah kerajaan tersebut yang meminta pensiun dini.

Menurutnya, tugasnya sebagai iblis semakin mudah saja dan kurang tantangan.

Bersama pasukannya, dia telah merasuki pemimpin-pemimpin dunia untuk mencetuskan peperangan dan melahirkan begitu banyak penderitaan bagi umat manusia, membuat jutaan manusia tewas mengenaskan.

"Pembunuhan demi pembunuhan begitu mudah terjadi karena perbedaan ras, suku, agama, gender. Bukankah itu kemenangan yang manis?" paparnya di hadapan para hakim yang akan menentukan apakah permintaan pensiun dini yang diajukannya akan dikabulkan.

Lucifer mengakui bahwa dia dan pasukannya pernah kalah.

Namun, setiap hari pasukannya semakin kuat, semakin lihai, semakin licin.

Lalu kemudian tiba masa ketika semua berjalan secara otomatis, benih keburukan yang mereka tanam sudah tumbuh dengan sempurna.

Karena pekerjaannya sebagai iblis makin gampang, anak buahnya bahkan sudah banyak yang menganggur.

Argumentasi iblis bintang lima tersebut tidak begitu saja diamini para hakim.

"Tiap hari jutaan anak manusia lahir, membawa harapan baru akan kebaikan, dunia yang lebih beradab, lebih damai, lebih adil. Pekerjaan iblis takkan pernah selesai," kilah hakim.

Meski mengakui kebenaran hal itu, Lucifer tetap menekankan betapa semakin lama tugasnya makin membosankan, mudah ditebak, dan terlalu sederhana.

Dia mencoba meyakinkan bahwa bahkan sepeninggal dirinya, semua akan tetap berjalan semulus biasanya.

"Lihat saja di dunia, sebentar lagi akan terjadi perang nuklir. Sedikit lagi, dan kita akan memetik kemenangan. Manusia dan nafsu kekuasaan mereka membuat kita sebetulnya tak perlu bekerja terlalu keras! Justru semakin keras kita berusaha, semakin sedikit peran manusia. Itu bukan kerja cerdas namanya! Biarkan manusia berpikir bahwa semua adalah kehendak mereka sendiri!" tandasnya.

Setelah perdebatan yang panjang dalam sidang, hakim akhirnya memutuskan menangguhkan masa pensiun dini Lucifer, tapi memberikannya misi yang berbeda selama waktu yang akan diputuskan kemudian.

Hal ini melecut kemarahan iblis berprestasi tersebut.

"Menetapkan, segera mengirim Lucifer ke dunia untuk menjadi manusia," putus hakim.

Dia akan menjadi manusia, hidup dan menjalankan peran sebagai manusia, lantas berhadapan dengan pasukannya sendiri yang telah dibina selama ratusan ribu tahun.

Hal ini untuk menguji apakah benar mereka sudah setangguh dan sedahsyat yang dikatakan Lucifer.

Tak lama dari itu, Lucifer lantas tak sadarkan diri. Dia merasa tubuhnya diguncang-guncang dan ketika membuka mata, ia merasa silau oleh cahaya.

"Kanjeng Kiai... Kanjeng baik-baik saja?"

Di sekitarnya ada beberapa orang bersorban dan berkopiah.

Mereka membantu menegakkan badannya, menjelaskan bahwa ia sempat jatuh pingsan seusai salat duha.

Sudah banyak jemaah menantinya, dia diharapkan menyampaikan ceramah.

Meski sempat bingung dan khawatir, dia pun melakukan apa yang mereka minta, tampil di hadapan lautan manusia berbaju putih yang duduk tertib dengan khusyuk.

Kehadiran sang kiai saja sudah membahagiakan lautan manusia itu.

"Kulafalkan ucapan salam, selawat, dan doa-dooa yang aku sendiri tak mengerti bagaimana aku ternyata dapat begitu fasih mengucapkannya. Jemaah mendengungkan amin dan selawat, khusyuk, perlahan menuju langit, menembusnya. Mereka bisa kusuruh apa saja." (halaman 92)

Sarat kritik

Kisah Lucifer, iblis yang ingin pensiun dini, hanyalah salah satu dari 19 cerita yang dituangkan Feby Indirani dalam buku yang diluncurkannya 17 Juli 2017, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Membaca buku Bukan Perawan Maria, pembaca bisa menakar seberapa santai mereka menanggapi isu-isu agama dan proses pembelajaran untuk memahami nilai-nilai keberagamaan.

Lihat saja kisah Lucifer, andai tidak dibaca dengan santai dan pikiran terbuka, mudah saja cerita pendek tersebut menyulut kemarahan lantaran sosok kiai yang memiliki banyak jemaah ibarat serigala berbulu domba karena tak lain adalah iblis yang tampil sebagai pemuka agama.

Di sisi lain, ide-idenya banyak yang berangkat dari hal sederhana yang mungkin mewakili pertanyaan banyak orang, semisal soal suara azan atau penutupan jalan saat salat Jumat yang mengganggu hak orang lain.

Salah satu ceritanya yang kemudian diambil menjadi judul tersebut Bukan Perawan Maria, mengisahkan Maria, seorang perempuan yang bukan perawan, tetapi hamil tanpa persetubuhan dengan lelaki mana pun.

Membaca buku Feby Indirani tersebut, Inayah Wahid yang hadir dalam diskusi buku tersebut (15/7) mengekspresikannya dengan berkata, "Ini ngeri-ngeri sedap."

Lebih lanjut, menurut salah seorang putri almarhum Gus Dur ini, buku itu memang tepat dihadirkan di masa seperti sekarang di saat intoleransi terasa makin mengkhawatirkan dan mengancam kebebasan berpendapat.

"Selalu ketakutan bahwa sesuatu akan terjadi sama kita itu tidak menyenangkan banget," komentarnya soal maraknya insiden terhadap orang-orang yang menyampaikan pendapat berbeda di media sosial.

Padahal, bagi perempuan dari keluarga Nahdlatul Ulama (NU) itu, kehidupan beragama yang dikenalnya amat santai.

Banyak kiai di kampung-kampung yang penuh dengan selera humor dan autokritik terhadap perilaku umat beragama, bukanlah sesuatu yang terlarang.

Teringat langkah Gus Dur yang dulu menghapuskan badan sensor, Inayah mengatakan, "Masyarakat yang berdaya harusnya tidak didikte apa yang dibaca dan dikonsumsi. Kalau sudah berdaya, nanti masyarakat yang akan memilih sendiri apa yang layak atau tidak, mereka sensor sendiri."

Hal senada juga disampaikan Salman Aristo, penulis skenario film Ayat-Ayat Cinta dan sederet film lainnya.

Membaca Bukan Perawan Maria membuatnya bernostalgia ke masa kanak-kanak di saat kehidupan beragama dan bermasyarakat di Indonesia terasa sangat santai.

Dia mengambil contoh bagaimana dulu ada seorang temannya keturunan Tionghoa yang sering berutang di warung.

Oleh pemilik tokonya temannya itu suka disindir, "Lu tiap hari ngutang mulu, kayak pribumi saja!"

Percakapan semacam itu dulu dianggap biasa saja, hanya bercanda. Namun andai dilontarkan di masa sekarang, hampir dipastikan dianggap sebagai penghinaan dan menyulut amarah.

Baginya, buku Feby satu ini harus dibaca orang yang benar-benar sedang relaks agar pesannya sampai, yakni bahwa beragama pun sebenarnya bisa dilakukan dengan tenang dan santai.

Di sisi lain, buku ini perlu juga dibaca dengan cerdas.

"Jangan sampai jadi menggampangkan beragama," cetusnya.

Saat ini, Bukan Perawan Maria sedang dalam proses penerjemahan ke dalam bahasa Inggris untuk bisa dinikmati kalangan pembaca yang lebih luas.

Sebelum dibukukan, sebagian cerita Feby ini sebenarnya pernah dipublikasikan di berbagai media dan blog.

Terbiasa menulis novel, ini menjadi buku pertamanya yang berisi kumpulan cerita.

Lewat bukunya, dia juga mengampanyekan relaksasi beragama, gerakan kampanye agar semua pihak berhenti sejenak dari pusaran rutinitas mereka dalam beragama untuk menjadi lebih rileks dan berempati dalam menanggapi pihak lain yang berbeda pemahaman.

"Kita sudah pernah kok berada di kondisi beragama yang lebih baik," tekannya sembari berharap Indonesia kembali kondisi yang lebih baik.

Nah, sudah mampukah Anda beragama dengan santai tanpa menyakiti dan merugikan orang lain?

(M-2)

______________________________________

Judul : Bukan Perawan Maria

Penulis : Feby Indirani

Penerbit: Pabrikultur

Tebal : 204 halaman

Komentar