Katalog Belanja

Lebih Asyik lewat Jastip

Jum'at, 22 September 2017 07:45 WIB Penulis: Ghani Nurcahyadi

ANTARA/DEWI FAJRIANI

WAKTU yang terbatas saat berkunjung ke pusat penjualan furnitur IKEA di Serpong, Tangerang, tahun lalu, membuat Karmila, 27, warga Tanjung Laut, Bontang, Kalimantan Timur, tidak puas. Ia pun segera mengalihkan hasratnya ke media sosial mencari katalog produk IKEA.

Bukan hanya katalog produk yang ia dapatkan, melainkan juga akun Instagram milik Retna Nurhayati, yang menyediakan jasa penitipan pembelian furnitur IKEA, Informa, dan Ace Hardware. Tak butuh waktu lama, Karmila yang juga wiraswasta dan ibu rumah tangga itu pun menjadi pengguna jasa titip (jastip) yang disediakan Retna.

“Memang ada biaya tambahan dari jasa dan biaya pengiriman, tapi saya rasa worth it karena IKEA kan tidak ada di Kalimantan. Pakai jasa titip ini juga enak karena responsnya cepat dan penyedia jasa juga ramah,” kata Karmila dalam perbincangan dengan Media Indonesia, kemarin.

Ketersediaan produk perabot dengan merek tertentu yang tidak bisa didapatkan di daerah juga menjadi alasan Rakhmawati Sri Utami, 35, warga Pandanaran, Semarang, Jawa Tengah, menggunakan layanan jastip.

Ia pun memaklumi bila harus mengeluarkan biaya tambahan untuk jasa titip dan ongkos pengiriman yang harus ditanggungnya demi mendapatkan furnitur idaman. Namun, Rakhmawati mengingatkan, perlu juga selektif memilih penyedia jastip untuk menghindari penipuan. Terlebih, banyak yang mensyaratkan untuk mentransfer dahulu biaya pembelian barang.

“Saran saya, beli saja dulu barang yang kecil-kecil. Kalau sudah terbangun kepercayaan, baru coba beli barang lebih besar. Untuk penyedia jasanya, pilih yang cepat merespons dan juga meresponsnya pun bukan hanya jawaban standar saja, tapi seperti mencoba membangun hubungan personal dengan kita,” kata Rakhmawati.

Iseng
Bisnis jastip furniture diakui Retna menjadi alternatif sumber pendapatan. Bukan hanya dari IKEA, ia juga menawarkan jastip belanja furnitur di toko-toko ternama lain, seperti Informa.

Awalnya, ibu rumah tangga yang tinggal di wilayah Serpong itu hanya iseng mengikuti tren jastip. Tak disangka, kesibukan yang ia lakoni sejak 2015 itu kini bisa mendatangkan order hingga senilai Rp150 juta sebulan. Konsumennya pun berasal dari berbagai wilayah, dari Aceh sampai Papua.

Retna menetapkan tarif jastip maksimal 10% dari harga barang, di luar biaya pengiriman barang. Ia pun tidak membatasi jumlah titipan. Untuk barang yang tergolong laris, biasanya Retna membeli lebih banyak untuk disimpan sementara di rumahnya.

“Saya belanja tiga kali dalam seminggu. Selasa, Kamis, dan Sabtu atau Minggu. Dasarnya saya senang belanja, saya senang-senang saja menjalaninya. Kadang capai juga bawa barang, tapi selama ini suami selalu membantu,” ungkap perempuan yang juga sedang merintis usaha bantal bikinan sendiri tersebut.

Senada dengan Retna, Jihan Ahmad, 30, juga mengawali bisnis jastipnya dari keisengan belaka, sejak akhir tahun lalu. Layaknya katalog, akun media sosial pribadi Jihan kini ia manfaatkan untuk menawarkan produk-produk IKEA.

“Awalnya iseng, karena IKEA kebetulan dekat rumah. Eh, peminatnya ternyata banyak, dari Jakarta juga luar kota, seperti Lampung dan Makassar. Lumayan juga untungnya, sekali belanja bisa Rp700 ribu,” terang ibu dua anak itu. (Mut/S-2)

gani@mediaindonesia.com

Komentar