Features

Berburu Koin di Sumur Pusentasi

Kamis, 21 September 2017 22:17 WIB Penulis: Retno Hemawati

ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah

TERIAKAN riang bocah-bocah kecil telah terdengar dari kejauhan. Berulang-ulang juga terdengar suara air kecipak air. Puluhan anak-anak dan remaja, baik perempuan maupun laki-laki sedang bersenda gurau berenang di pusat laut dalam bahasa lokal setempat pusentasi yang tampilannya lebih merupakan sebuah sumur alami berukuran raksasa, berisi air asin. Sumur itu terletak di Desa Towale, Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Sumur yang berjarak sekitar 30 meter dari pantai itu berair dengan kadar asin yang berkurang dari pantainya.

Melongok ke dalam area dengan sumur sedalam 10 meter itu terlihat masih alami dengan diberi pagar buatan dari semen untuk pengaman. Di pinggiran, para pengunjung yang jumlahnya relatif sedikit mesti menghadapi permintaan anak-anak itu agar melempar uang.

"Koinnya! Koinnya! Lempar!" pinta mereka tidak sabar sambil berusaha tetap mengambang. Satu dua pengunjung melempar koin dan anak-anak itu berebut mendapatkannya sebelum sampai tenggelam ke dasar.

Seorang gadis kecil berkulit gelap, terlihat kedinginan di pinggiran atas kolam. Tangannya diletakkan di dada, sambil jemarinya diberi hembusan nafas hangat. Badannya menggigil karena basah dari ujung rambut hingga ujung kaki. Namanya Nina.

"Saya setiap hari ke sini, setelah pulang sekolah," kata anak kelas tiga sekolah dasar itu. Dia merupakan salah satu penduduk setempat, Towale. Ayah ibunya tidak bekerja, sementara dirinya mampu menghasilkan uang hingga Rp75 ribu per hari. "Uangnya diberikan bapak dan ibu buat sekolah," ceritanya. Saat itu dia sedang menunggu giliran untuk nyebur ke sumur karena saking padatnya.

Sering-sering basah dan kedinginan, Nina sering mengalami pusing kepala. "Paling minum obat yang dibeli di warung," ungkapnya seraya menyebutkan salah satu merek.

Lain Nina, lain lagi cerita Imam dari Dusun Simbe, Limboro. Dia juga salah satu pemburu koin di Sumur Pusentasi itu. Bedanya dia hanya narik, demikian istilah sebutan darinya, hanya saat akhir pekan atau libur.

"Biasanya sudah sibuk di sekolah, saya main rupa-rupa permainan bola," tutur remaja yang duduk di bangku SMP itu. Imam yang bercita-cita menjadi polisi mengaku hanya mendapatkan Rp50 ribu sekali narik, itupun paling banyak. Dia narik dari pukul 09.00 hingga Magrib tiba.

Pengunjung di tempat wisata itu masih tergolong jarang. Padahal harga tiket masuk hanya Rp2.500 dan biaya parkir yang tidak kalah murahnya. Fitri salah satu pedagang makanan kecil mengeluhkan sepinya pengunjung.

"Pengunjung sepi dan jarang jajan. Mereka biasanya bawa air mineral sendiri, paling laku kalau mau minum air hangat," kata perempuan 24 tahun itu.

Meski sepi dan ada beberapa pedagang, tidak membuat kerukunan mereka terganggu. Mereka dan juga para memburu koin berbaur menjadi satu menikmati makanan khas daerah setempat, labi-labi. "Ini segar dari laut, rumput laut yang sudah dibersihkan pakai air tawar, air jeruk, dan cabai. Kami biasa makan labi-labi pakai sagu dan singkong. Nikmatnya tiada tara!" tutup Fitri yang dulu semasa remaja juga akrab dengan Sumur Pusentasi. (OL-4)

Komentar