Laporan Dari SJS 2017

Memudarnya Pengaruh Gereja Katolik di Filipina

Kamis, 21 September 2017 16:03 WIB Penulis: Usman Kansong

Ist

LAPORAN DARI 2017 SJS (9)

KARDINAL Jaime Sin adalah Uskup Agung Filipina yang bisa dikatakan paling tersohor sepanjang masa . Dia menjadi tokoh penting dalam gerakan massa yang disebut People Power di Filipina.

Gerakan tersebut sukses menumbangkan Ferdinand Marcos pada 1986 dan Presiden Erick Estrada pada 2001. Kardinal yang lahir di Washington, Amerima Serikat, merupakan salah satu tokoh yang berani secara terang-terangan memprotes peran militer setelah Marcos menetapkan status darurat militer pada 1972.

Peran besar Kardinal Sin tersebut lantas dicatat sebagai betapa besarnya pengaruh Gereja Katolik dalam perpolitikan Filipina. Berbagai survei secara konsisten menempatkan gereja Katolik sebagai lembaga yang paling dipercaya, melampaui lembaga pendidikan dan sektor swasta, bahkan pemerintah. Apakah pengaruh politik gereja Katolik itu masih berlangsung?

"Jika orang melihat pengaruh Kardinal Sin dalam politik dan menganggap itu sebagai pengaruh besar gereja Katolik dalam politik, pengaruh itu sekarang tidak ada lagi," tutur Rommel F. Lopez, konsultan media Konferensi Uskup Katolik Filipina. Jurnalis peserta 2017
Senior Journalists Seminar (2017 SJS) berdiskusi dengan Rommel di Filipina, Selasa (19/9).

Gereja Katolik lewat surat pastoral yang dibacakan dalam kutbah gerejawi Febuari silam memang mengutuk kebijakan perang terhadap bandar narkoba yang dilakukan Presiden Rodrigo Duterte. Sikap itu memunculkan anggapan gereja adalah opisisi terdepan terhadap Duterte.

Namun, itu ternyata tak cukup menggerakkan publik Filipina untuk ikut serta mengutuk kebijakan tersebut. Malah sebagian publik setuju dengan kebijakan yang telah menewaskan 7.000 orang hingga Februari 2017 itu.

Duterte malah berulang kali menyerang gereja Katolik. Duterte, misalnya, pernah menyebut gereja biang korupsi dan menyebabkan jumlah penduduk Filipina berkembang pesat.

Filipina ialah negara yang mayoritas penduduknya atau 80,5% dari total populasi memeluk agama Katolik. Itu pula yang melahirkan pemikiran bahwa Gereja Katolik memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sosial politik masyarakat Filpina. Gereja memandu moral dan etika publik.

Jaringan, organisasi, serta sumber daya gereja Katolik sangat besar. Gereja Katolik menyelenggarakan kutbah atau ceramah di, sekolah-sekokah serta memberikan bantuan di seluruh negeri. Gereja Katolik juga memiliki media cetak, penyiaran, serta online untuk menjangkau khalayak dari berbagai tingkat pendidikan dan tersebar secara geografis.

Apakah betul demikian, bahwa gereja Katolik berperan dalam menjaga moral dan etika publik? "Tentu saja, gereja berpengaruh dalam kehidupan sosial masyarakat Filipina," kata Enki San Jose. "Tapi pengaruhnya mulai berkurang terutama di kalangan generasi mileneal," tambah aktivis mahasiswa itu saat berdiskusi dengan peserta SJS di Politeknik Negeri Filipina di Manila, Senin (18/9).

Salah satu indikatornya ialah semakin bebasnya kehidupan sosial di Filipina, terutama di kota besar semacam Manila. Alat kontrasepsi,
sebagai contoh, kini tersedia secara bebas di swalawan atau di klinik. Indikator lain ialah semakin sedikitnya orang yang beribadah ke gereja.

Pada Selasa (19/8), peserta SJS 2017 mendatangi salah satu gereja tertua di Manila dan menyaksikan pengunjung terbilang sedikit dibanding kapasitas gereja. Namun, ketika peserta 2017 SJS mengunjungi gereja lain, pengunjung terlihat lebih ramai meski sebagian besar mereka ialah orang dewasa atau lanjut usia.

"Berapa banyak sih orang Filipina yang masih ke gereja? Ini tantangan bagi Gereja Katolik," kata Rommel. (OL-3)

Komentar