Laporan Dari SJS 2017

Diskriminasi Diam-Diam di Filipina

Selasa, 19 September 2017 13:03 WIB Penulis: Usman Kansong

AFP/Ted ALJIBE

HAIDEE Ampatuan seorang muslimah Filipina. Dia berjilbab. Suaminya anggota Angkatan Darat Filipina berpangkat kolonel. "Tidak ada diskriminasi di tentara. Sesuai dengan aturan, muslim mendapat jatah 10% di tentara," ujar Direktur Perencanaan Komisi Nasional Muslim Filipina itu kepada jurnalis peserta 2017 Senior Journalist Seminar (2017 SJS).

Saya dan jurnalis peserta 2017 SJS yang diorganisasi East-West Center tiba di Manila, Filipina pada Minggu (17/9) setelah selama 10 hari mempelajari sistem politik dan pemerintahan serta kehidupan beragama di Washington dan Minneapolis. Senin (18/9), para jurnalis bertandang ke kantor Komisi Muslim Filipina (National Commission of Muslim Filipinos).

Selain Haidee Ampatuan, para jurnalis juga ditemui Leman M. Piang, Direktur Biro Kebudayaan Muslim Komisi Nasional Muslim Filipina. Bukan cuma di tentara, menurut Leman, sejumlah muslim menduduki jabatan di pemerintahan. "Muslim menjadi gubernur di provinsi mayoritas muslim. Muslim juga menjabat di eksekutif, legislatif, dan yudikatif, meski jumlahnya belum signifikan," katanya.

Pemerintah Filipina, lanjut Leman, menyubsidi ongkos naik haji, tidak secara individual, tetapi secara organisasional melalui Komisi Nasional Muslim Filipina. Pemerintah juga mendanai musabaqah tilawatil quran atau lomba baca Alquran. "Intinya pemerintah menyokong kegiatan ibadah kaum muslim," ucap Leman.

Konstitusi Filipina menjamin kebebasan beragama di Filipina. Bab 5 Piagam 1997 antara lain menyatakan ibadah dan perayaan keagamaan dijamin undang-undang, tanpa diskriminasi dan preferensi.

Apakah pemerintah Filipina menjamin kebebasan beragama karena konstitusi menuntut seperti itu? Bagaimana dengan hubungan antarpenganut agama di negara yang mayoritas penduduknya Katolik itu? Apakah ada silent discrimination? Saya mempertanyakan semua itu kepada Leman dan Haidee.

Filipina yang terdiri dari 7.100 pulau berpenduduk 103,9 juta jiwa. Sensus penduduk Oktober 2015 yang dilakukan Badan Statistik Filipina mencatat 80,58% penduduk Filipina beragama Katolik Romawi, 10,8% Protestan, 5,57% muslim, dan selebihnya Yahudi, Buddha Mahayana, Hindu, Sikh, dan animisme.

Sebelum ke kantor Komisi Nasional Muslim Filipina, para jurnalis berkunjung ke Politeknik Negeri Filipina di Manila untuk berdiskusi dengan para mahasiswa. Seorang mahasiswa mengatakan ada silent discrimination di Filipina. "Kita akui ada diskriminasi diam-diam di Filipina yang mayoritas penduduknya Katolik," ujar Enki San Jose, aktivis mahasiswa di sana.

"Ya, kami mengalami diskriminasi diam-diam," aku Leman. Leman mencontohkan anak bungsunya yang perempuan dan berjilbab sering mendapat perlakuan buruk di sekolah umum. "Teman-temannya berkata kepada anak saya 'Kalau kamu besar pasti menikah dengan Islamic State' atau 'Kamu lebih cantik kalau rambutmu tampak.'"

Haidee mengaku anak laki-lakinya yang bersekolah di sekolah katolik juga sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan di sekolah. "Anak laki-laki saya sering di-bully sebagai teroris. Saya khawatir ini berpengaruh pada perkembangan jiwanya," kisah Haidee.

Leman dan Haidee lebih suka menempuh jalan dialog untuk mengurangi diskriminasi diam-diam itu. "Saya laporkan perlakuan tidak menyenangkan terhadap anak saya ke kepala sekolah," ujar Haidee. "Kami tidak ingin bertengkar," ucap Leman. (OL-7)

Komentar