Laporan Dari SJS 2017

Trump dan Civil Religion

Senin, 18 September 2017 16:50 WIB Penulis: Usman Kansong

AFP/Alex Wong

"KITA akan memperkuat aliansi lama dan membentuk yang baru serta mempersatukan dunia beradab untuk melawan terorisme Islam, yang akan benar-benar kita hapuskan dari muka bumi...."

Begitu salah satu penggalan pidato pelantikan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat.

Bandingkan dengan pidato pelantikan Barack Obama: "Apa yang dibutuhkan dari kita saat ini ialah era baru bagi tanggung jawab, pengakuan sebagai bagian orang Amerika bahwa kita punya tugas bagi diri kita sendiri, negara, dan dunia. Ini menjadi sumber keyakinan kita, kesadaran bahwa Tuhan menyeru kita untuk menentukan nasib kita sendiri. Inilah makna kebebasan dan iman kita."

Bandingkan pula dengan pidato pelantikan George W Bush: "Selama berabad-abad, takdir Amerika dalam kebebasan dan demokrasi laksana karang di tengah laut bergelombang. Kini seperti benih yang terbawa angin, ia menyebar ke banyak negara. Takdir demokrasi kita lebih besar daripada keyakinan akan negara kita. Ia merupakan harapan yang tumbuh dari kemanusiaan kita, sesuatu yang ideal yang kita emban tetapi tidak kita miliki, kepercayaan yang terus kita miliki."

Membandingkan ketiga pidato, Christopher Chapp, menyebut pemerintahan Trump tidak berpihak pada civil religion. "Pemerintahan Trump sejauh ini tidak menganut civil religion, melainkan cenderung lebih sektarian," ujar Profesor Ilmu Politik pada Saint Olaf College, AS, itu.

Chaff mempresentasikan hasil penelitiannya tentang retorika bernuansa religius dalam politik Amerika Serikat kepada wartawan peserta 2017 Senior Journalist Seminar yang diorganisasi East-West, di Macalister University, Minneapolis, Minnesota, AS, pekan lalu.

Civil religion merupakan istilah yang diintroduksi sosiolog Robert N Bellah. Bellah mendefinisikan civil religion sebagai sekumpulan keyakinan sakral yang terlembagakan tentang negara Amerika.

Bentuk-bentuk civil religion yang diyakini orang Amerika antara lain 'sebagai orang Amerika kita diberkahi kesempatan khusus', 'Amerika sebagai negara memiliki kekuasaan khusus yang lebih tinggi', 'kontitusi Amerika merupakan dokumen sakral', 'Presiden ialah jabatan sakral'. Dengan perkataan lain, civil religion erat kaitannya dengan identitas nasional Amerika. Dalam konteks Indonesia, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI bisa dikatakan civil religion.

Survei memperlihatkan sebagain besar orang Amerika atau lebih dari 70% percaya sebagai orang Amerika mereka diberkahi kesempatan khusus, sekitar 55% percaya jabatan presiden bersifat sakral, sekitar 50% percaya menjadi orang Amerika merupakan tanggung jawab sakral.

Berdasarkan penelusuran Christopher Chapp, pidato para Presiden Amerika Serikat yang terkait agama sebagian besar menyinggung civil religion. Pidato para presiden Amerika sebelum 2016, masih menurut penelitian Chapp, bernada optimistis.

Namun, tradisi positif itu berubah di tangan Trump. "Apakah Trump menyimpang dari tradisi civil religion?" tanya Chapp.

Pertanyaan Chapp bersifat retoris. Berdasarkan analisis isi yang dilakukan Chapp terhadap pidato Trump, pidato presiden dari Partai Republik itu memang menyimpang dari tradisi civil religion.

Indikatornya ialah pidato pelantikan Presiden Obama, hanya sekali menyebut "muslim", sedangkan pidato pelantikan Trump lima kali menyebut kata "Islam", "Islami", atau "muslim." Celakanya, Trump menyinggung Islan dalam pidato pelantikannya dengan konotasi negatif, salah satunya terorisme Islam.

Trump dalam pidato kampanyenya juga berjanji melaramg muslim memasuki AS. Ketika menjabat presiden ia membuktikannya dengan melaramg muslim dari Somalia, Libia, Iran, Sudan, Suriah, dan Yaman, memasuki negeri Paman Sam itu. "Sungguh kebijakan diskriminatif," ucap John Keller, Drektur Eksekutif Pusat Bantuan Hukum Imigran, Minneapolis, Minnesota kepada jurnalis peserta 2017 SJS di Macalister University, Minnesota, pekan lalu.

Itulah sebabnya, survei Pew Research Center Februari-April 2017 mengungkap sebagian besar muslim Amerika atau 68% khawatir dengan Trump, 48% marah. Hanya 26% muslim Amerika yang masih berharap Trump dan 17% senang dengan Trump.

Trump dalan pidatonya seringkali mengutip Bibel. "Padahal sesungguhnya Trump bukan orang yang religius," kata Frank Newport, Pemimpin Redaksi Gallup, sebuah lembaga survei. Newport berdiskusi dengan jurnalis peserta 2017 SJS di kantir Gallup di Washington dua pekan lalu.

Barangkali itulah sebabnya Chapp dalam salah satu kesimpulan penelitiannya mengatakan bahasa agama cenderung digunakan untuk menghadirkan manfaat politik. (X-12)

Komentar