Tifa

Memadu Kawat dan Kata

Ahad, 17 September 2017 13:00 WIB Penulis:

MI/ABDILLAH M MARZUQI

KAWAT-KAWAT itu berkelindan. Memang tidak saling bertumpukan, tetapi seolah mereka bisa berbaris rapi dalam komando. Mereka berlekuk, bertekuk, dan berjalin menjadi satu. Jika terpukau dengan hasil anyaman bambu ataupun rotan, karya Agus Kama Loedin tentu akan membuat terperanga.

Dalam Trans-Form #3, Agus Kama Loedin menggunakan teknik anyam rotan dan bambu untuk karya seni­nya. Namun, ia tidak menggunakan rotan ataupun bambu, justru ia menggunakan bahan kawat. Jadilah kawat-kawat itu seolah menyusup dan menimbul di balik satu dan lainnya.

Kawat-kawat itu seolah menurut. Agus Kama Loedin seakan mampu memerintahkan kawat untuk ­membentuk diri sesuai kemampuan Agus. Itulah yang tampak dalam pameran tunggal bertajuk ­Trans-Forms #3 pada 6 September sampai 2 November 2017 di Artotel Thamrin Jakarta.

Dalam Trans-Form #3, Agus Kama Loedin menggunakan teknik anyam rotan dan bambu untuk karya seni­nya. Namun, ia tidak menggunakan rotan ataupun bambu, justru ia menggunakan bahan kawat. Jadilah kawat-kawat itu seolah menyusup dan menimbul dibalik satu dan lainnya. Agus juga menggabungkan teknik anyam bambu dengan teknik tali temali ala pramuka.

“Kalau yang luarnya itu banyak dari bambu dan rotan, tapi kalau konstruksi banyak terpengaruh dari tali-temali,” terang Agus.

Agus memamerkan bentuk-bentuk tak lazim dari binatang-binatang. Hampir semua karyanya memakai bentuk intuitif dan imajinatif tentang binatang. Setidaknya itu tergambar dari judul karyanya seperti dalam karyanya berjudul Kebo Geger Lintang, Kerang Kobra, Kerang Kembar Siam, dan Burung Ekor Panjang.

Perubahan iklim
Menurut Agus, konsep utama dalam karyanya ialah tentang perubahan iklim. Ia memvisualkan makhluk-makhluk hidup yang harus bertahan hidup di tengah gempuran lingkungan yang semakin tak bersahat. Pada akhirnya, mereka akan bermutasi dan menjadi bentuk baru yang sangat berbeda dari bentuk sebelumnya. Namun, ternyata Agus tidak hanya menyasar pada bentuk. Lebih jauh ia merangsek pada kognisi setiap makhluk yang ada dalam karyanya.

“Visualnya pun sebetulnya lebih jauh daripada yang dituliskan oleh ahli-ahli climate change. Kalau di sini saya sampai aspek kognitif juga sampai berubah,” terang Agus.

Dalam karyanya berjudul Mlungsungi Lan Milih, misalnya, Agus memberi penekanan pada aspek berfikir. Makhluk itu diberi kesempatan untuk ganti kulit. Pada proses pergantian kulit, tangannya menjadi empat, kakinya menjadi empat. Setelah proses ganti kulit selesai, dia harus memilih tangan mana yang dia gunakan, kaki mana yang dia gunakan untuk bisa bertahan dalam perubahan iklim.

“Semua intinya untuk survival of the fittest,” tegasnya.

Selain itu, ada yang menarik dalam pemilihan judul karya yang digunakan. Agus banyak mendapat pengaruh dari membaca karya tulis ketika ia menempuh pendidikan jurusan arkeologi. Itu membuatnya senang mengutak-atik kata. “Saya seneng bermain dengan kata-kata,” terang Agus. (Abdillah M marzuqi/M-2)

Komentar