Tifa

Bingkai Kehidupan Benyamin Sueb

Ahad, 17 September 2017 12:45 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

MI/ABDILLAH M MARZUQI

MUKA Kampung Rejeki Kota. Kalimat itu barangkali sering dipakai untuk membalas ejekan ataupun cemooh canda dalam ­keseharian. Kalimat itu boleh jadi sangat akrab dengan telingga. Namun, bagaimana jika kalimat itu diangkat ke panggung pertunjukan?

Ternyata kalimat itu bukan sekedar kalimat balas untuk ejekan dan celaan seperti dasar muka kampung. Lebih dari itu, kalimat itu menjadi sebuah bukti dari kecerdasan dan ketangkasan dalam bersilat lidah. Melumpuhkan pengejek tanpa harus membalas dengan umpatan.

Menang tanpa merendahkan. Kalimat itu ialah ungkapan terkenal dari tokoh multitalenta Benyamin Sueb.

Kalimat itu pula lalu menjadi tajuk dalam konser teatrikal Teater Abang None (Abnon) yang berjudul Babe, Muka Kampung Rejeki Kota di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta, pada 15-16 September 2017. Pementasan yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation itu diproduseri Maudy Koesnaedi dan disutradarai Agus Noor.

Benyamin Sueb bukanlah sekadar nama. Ia sosok seniman multitalenta yang menggema karena kejenakaannya. Banyak celoteh satir dilontarkan lelaki kelahiran Kemayoran 5 Maret 1939 itu. Celoteh itu lalu menjadi akrab dan bersahaja di kehidupan sehari-hari, sebut saja Muke Lu Jauh, Kingkong Lu Lawan, ataupun Makdikipe.

Konser musikal
Pementasan ini bermula dari Maudy Koesnaedi yang ingin membuat pementasan tentang tokoh Benyamin. Pementasan itu juga sebagai wujud apresiasi kepada sang legenda yang wafat di Jakarta pada tanggal 5 September 1995. Gayung bersambut, Maudy mendapat izin dari pihak keluarga Benyamin. Maudy Koesnaedi mendapati inspirasi dari buku biografi tentang perjalanan hidup Benyamin Sueb berjudul Muka Kampung Rejeki Kota karya Ludhy Cahyana dan Muhlis Suhaeri pada 2005. Ia lalu membuat pertunjukan tentang Benyamin Sueb dengan konsep konser musikal.

Konsep ini dipilih karena dianggap bisa mewakili sosok seniman asli Betawi tersebut. Ia merupakan legenda di dunia perfilman dan seni tarik suara Indonesia. Benyamin juga merupakan sosok yang memopulerkan gambang kromong.

Berbincang tentang Benyamin memang tidak bisa lepas dari lagu-lagu yang di­bawakannya. Karya-karyanya tak lekang oleh zaman dan masih bisa kita nikmati sampai sekarang. Misalnya, lagu Hujan Gerimis, Kompor Meleduk, Sang Bango, dan Bang di Sini aje Bang.

“Ya karena gak bisa lepas dari lagu-lagunya Benyamin. Apa yang bisa kita angkat kalau bukan dalam konsep musikal? Saya membuat formatnya adalah konsep ­teatrikal. Bukan hanya dinyanyikan saja, tapi juga diberikan pengadeganan dideskripsikan secara koreografi dan juga gesture,” terang Maudy.

Gelaran itu terbagi menjadi lima babak cerita. Semua sketsa babak bersusun menjadi gambaran dari proses kehidupan Benyamin, dari kecil hingga menjadi aktor. Setiap babak terdapat kurang lebih lima lagu yang dibawakan. Sketsa pertama bercerita Benyamin kecil yang ngamen bersama kakak-kakaknya. Sketsa kedua tentang badala Benyamin muda. Ketiga tentang Benyamin ketika menapaki popularitas. Keempat bercerita tentang Benyamin bangkit demi keluarga, karya, dan budaya. Sketsa terakhir tentang Benyamin yang memberi nyawa pada sinetron Si Doel.

“Menurut saya ini adalah format yang paling tepat yang bisa menggambarkan lagu-lagunya Benyamin dan perjalanan hidupnya,” tegasnya.
Karena alasan tersebut, Teater Abnon memilih konsep ­teatrikal dengan mengaransemen lagu-lagu yang pernah dipopulerkan Benyamin menggunakan orkestra berkolaborasi dengan gambang kromong.

Diaransemen ulang
Mengiringi pertunjukan, lebih dari 30 lagu yang pernah populer mengiringi perjalanan hidup seniman legendaris ini dibawakan dan diaransemen ulang oleh Ifa Fachir dan Imam Firmansyah, sedangkan tata gerak digawangi Atien Kisam dan Sofura Maulida.

Konser teatrikal Babe, Muka Kampung Rejeki Kota juga didukung para pemain, seperti Tommy Tjokro, Indra Bekti, Imam Wibowo, Ayumi Astriani, Astry Ovie, dan abang none Jakarta.

Sepanjang pertunjukkan dimulai penonton yang hadir pun dibuat terpingkal menyaksikan tingkah pemain di atas panggung. Pementasan itu banyak menghadirkan kejutan pada tiap adegan. Itu penonton tertawa lepas sembari bertepuk tangan. Seperti ketika pemain ketakutan mendengar suara gonggongan anjing, teta[i ternyata itu hanya boneka anjing kecil yang tidak sebanding dengan suaranya atau ketika pemain berbadan tinggi besar muncul di atas panggung dengan menaiki sepeda anak-anak.

Terlebih ketika guyonan yang dibawakan Indra Bekti dan Astry Novita Sutono yang berperan sebagai Abang Jantuk dan Mpok Jantuk.

Peran mereka tidak hanya memecah suasana dengan guyonan segar mereka, lebih dari itu peran mereka sangan penting sebagai pembawa cerita. Abang Jantuk dan Mpok Jantuk sukses mengantar penonton untuk lebih mudah memahami setiap babak yang dipentaskan. Mereka memberi pengantar cerita dengan guyonan panggung dengan kesan spontan.

Tajuk konser musikal nampaknya cukup sukses ditampilkan dalam pentas ini. Seluruh garapan musik dan koreografi dapat dengan mudah dinikmati penonton. Sembari berkenang ria dengan lagu-lagu lawas, penonton bisa merasakan kebaruan dalam setiap aransemen.

Paduan antara dramaturgi, gerak, busana, dan artistik panggung menjadikan pementasan ini tampil dalam sebuah kesatuan utuh. Semua unsur pertunjukan ditampilkan apik tanpa harus saling mengesampingkan. (M-2)

abdizuqi@mediaindonesia.com

Komentar