Jeda

Siasat Penulis agar Tetap Sintas

Ahad, 17 September 2017 06:15 WIB Penulis: Hera Khaerani

Klik gambar untuk memperbesar

SEPEKAN terakhir masalah pajak penulis menjadi perhatian publik. Bahkan Dirjen Pajak Ken Dwijugiasteadi, Menteri Keuangan Sri Mul­yani Indrawati, dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, sengaja menggelar Dialog Perpajak­an bersama penulis dan pekerja seni di Jakarta, pekan ini.

Di balik gemerlapnya buku best seller yang mereka jual, masih banyak masalah yang tersembunyi. Dewi Lestari mengaku, selama 16 tahun menjadi penulis, ia mendengar banyak keluh kesah, seperti kasus penulis yang dikadali penerbit, penulis mencari pekerjaan samping­an untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Setali tiga uang, bagi Kirana Kejora, buku menjadi modal menjalin relasi dan membuka peluang penghasilan lain. “Orang berpikir kalau penulis bukunya sudah best seller lalu jadi film, kita (penulis) jadi miliarder, mereka tidak tahu berapa hak cipta kita dibeli oleh PH (production house). Orang berpikir ratusan juta, oh tidak. Paling hanya sepertiga dari honor artisnya,” ung­kap Kirana.

Melakukan diversifikasi usaha menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan bagi penulis. Kirana tidak hanya membuat novel. Ibu dua anak itu membuka diri jadi pembicara dalam pelatihan kepenulisan, menulis biografi, menjadi penulis skrip, menulis buku untuk proyek pemerintah, bahkan menjadi ghostwriter. “Penting untuk penulis paham soal writerpreneur,” pikirnya.

Dengan latar belakang keilmuannya dari jurusan perikanan, dia juga menerima pekerjaan sebagai konsultan dan periset untuk proyek pemerintah di berbagai daerah. Saat ke berbagai pelosok Nusantara itu, ia menggali materi untuk novel atau tulisan lainnya.

Kondisi itu sangat berbeda dengan penulis asing, seperti JK Rowling.­ Penulis buku Harry Potter itu, berdasarkan survei Forbes, meraup keuntungan US$95 juta atau Rp1,2 triliun pada 2016 hingga 31 Mei 2017 dari penjualan buku, e-book, dan audio. Di samping itu, bukunya menjadi film yang sukses di seluruh dunia.

Totalitas
Untuk menghasilkan sebuah karya, penulis butuh banyak dana untuk riset yang cukup besar. Seperti Dewi Lestari, yang mengaku melakukan riset yang kadang mengharuskan ke luar kota hingga ke luar negeri.

“Jadi, semua relatif. Bahkan ada juga buku saya yang mengharuskan saya mengambil kursus di luar negeri karena berkenaan dengan bidang dalam tulisan saya. Namun, ada juga buku yang bisa saya buat di rumah saja tanpa harus ke mana-mana,” kenangnya.

Menurut Dewi, pengeluaran penulis secara umum ialah biaya riset, biaya pemeliharaan profesi (manajemen, website, komunikasi ke pembaca, promosi yang di­seleng­garakan pribadi, dsb), biaya penulisan pribadi yang semuanya tidak bisa dihindarkan oleh para penulis.

“Biaya itu sudah tidak bisa dihindarkan. Yang jelas selama menulis, entah itu tiga bulan atau setahun, pengeluaran hidup berjalan terus, sementara kalau penulis tersebut mengandalkan sepenuhnya dari royalti, dia harus bertahan hidup (bersintas) dari royalti buku sebelum-sebelumnya karena bukunya yang baru hanya akan bisa dinikmati hasilnya bulanan kemudian,” jelas Dewi. (Rio/M-4)

hera_khaerani@mediaindonesia.com

Komentar