Khazanah

Roh dari Ragam Tenun Sumba

Ahad, 17 September 2017 06:01 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

MI/Ebet

MEMANG awalnya kain hanya sebagai penutup badan. Selanjutnya kain tidak hanya sebagai pelindung dari panas dan dingin. Kain mulai menjadi seolah punya makna tersendiri bagi pemakainya. Bahkan, teknik pembuatannya pun berkembang sesuai dengan kompleksitas pemikiran manusia. Kain juga bisa menjadi pengingat tentang jati diri. Ia bisa menjadi pengingat yang memuat nasihat dari nilai adi luhung.

Kain-kain berukuran besar disampirkan memanjang ke bawah. Seolah menjadi dinding baru yang menutup tembok lama. Tiga meter panjangnya sudah cukup menutup menutup celah. Dominasi warna merah dari kain-kain itu menjadikan suasana semarak. Kebanyakan dari kain-kain itu berumur lebih dari 40 tahun, angka yang cukup besar untuk sebuah kain. Yang menjadi beda, meski kain itu sudah berumur, warnanya tetap tajam. Padahal itu adalah hasil pewarna alami.

Setidaknya itulah sekelumit dari rangkaian helatan The Soul of Sumba. Acara itu terdiri dari pameran foto, kain tenun, sketsa, dan talk show bertema Tenun dan perhiasan Sumba. Acara yang diprakarsai Rumah Asuh itu dihelat di HAP Enterprise Bintaro pada 15-16 September 2017.

Menurut keterangan Budayawan Sumba Robert Ramone, pewarnaan alami sudah jarang sekali didapati. Hanya beberapa tempat yang masih mempertahankan tradisi pewarnaan kain seperti Sumba Timur. Kain dibuat secara tradisional. Masyrakat setempat menyebutnya hinggi kombu atau kain kombu. Biasanya untuk menghasilkan satu lembar kain memakan waktu satu atau dua bulan.

Kombu adalah pohon yang menghasilkan warna merah. Warna itu diperoleh dari akar. Dalam pameran kain sumba itu dijumpai ragam hias, motif, dan corak Sumba. Semua memiliki nilai yang tinggi, seperti hinggi (kain) kombu kanatang yang berusia 60 tahun asal Kanatang Sumba Timur. Kain itu ditenun dengan teknik hondu kapit dan hita serta menggunakan pewarna alami. Hinggi kombu kanatang merupakan kain yang khusus untuk penasihat raja. Kain itu bercirikan motif hita kanatang pada pinggiran kiri dan kanan. Hinggi itu termasuk jenis tenun yang sangat spesial karena mengabungkan dua teknik, yakni teknik ikat dan pahikung.

Lalu, masih ada hinggi kawura bara padua yang berusia 40 tahun. Kain ini menggunakan teknik hondu kapit. Hingga kini merupakan tenun khusus karena dipakai raja. Cirinya polos putih, tetapi kadang warna merah atau biru polos. Teknik pahikung pada pataduku. Dalam kain ini, kekuatan raja disimbolkan dengan motif naga parara mata mandung.

Hinggi kombu pahikung padua berusia 60 tahun. Kain yang menggunakan teknik hondu kihil (ujung atas dan bawah berbeda) ini punya motif udang yang melambangkan reinkarnasi.

Udang terkenal dengan ungkapan kurra hillu jullu yang berarti udang tak pernah mati hanya berganti kulit.

Optimistis terhadap masa depan

Kain kombu pahikung padua juga mencerminkan pepatah bijak sumba, yakni ambu kurna laku dalung ambu kambouku lindi pinung yang berarti jangan seperti udang yang berjalan mundur dan jangan pula seperti gabus yang melayang di atas air. Secara harfiah para tetua mengajarkan kaum muda untuk optimistis terhadap masa depan tetapi tetap membumi dan bersikap jujur dalam kehidupan.

Ada pula kain yang bermakna kebangsaan dan nasionalisme. Kain itu ialah hinggi kombu garuda yang memakai teknik hondu kapit, yakni ujung atas bawah sama. Lahirnya motif garuda tidak terlepas dari kunjungan Presiden Soekarno ke Sumba pada 1960. Sejak itu, garuda sebagai simbol dan lambang ngara mulai ditenun pemenun sumba sebagai lambamg kesadaran akan kebangsaan dan nasionalisme.

Hinggi lain yang bermakna khusus lain ialah kombu andung berusia 40 tahun. Andung bermakna pohon kemenangan. Pohon itu punya posisi terhormat di Sumba. Andung hanya ditanam di depan rumah yang ditempati raja di kampungnya. Kain corak ini bercerita tentang pemakaman raja. Proses dimulai dari rumah hingga permakaman. Tubuh raja ditunggangkan pada kuda terbaik. Selain itu, kekhususan kain terletak pada pataduku yang pada umumnya diletakkan di bagian tengah kain. Namun, pada kain ini justru diletakkan di bawah. Sementara itu, bagian tengah (pataduku) kembali dengan motif andung yang dapat diartikan sebagai kemenangan raja yang bersifat mutlak.

"50 lembar, raja atau permaisuri setelah dimandikan dibungkus dengan kain itu," terang Robert Ramone Budayawan Sumba yang kala itu juga hadir sebagai pembicara.

Pesan dalam rangkaian acara ini berpesan bahwa berdirilah di atas budaya sendiri. Pendiri Rumah Asuh Yori Antar mengungkapkan bahwa produk yang dihasilkan masyarakat Indonesia tidak kalah dengan produk luar negeri. Apalagi jika menyangkut soalan budaya, Indonesia sudah bisa dipastikan keluar sebagai pemenangnya. "Siapa bilang kita kalah bersaing dengang produk-produk luar negeri," tegas Yori Antar.

Sebagai contoh kain tenun sumba adalah kualitas terbaik, terbukti dengan usia rata-rata kain yang melebihi angka 40 tahun. Itu pun tak tampak pudaran warna pada kain itu. Terlebih lagi, menurut Yori, kain tenun bisa untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.

"Kain tenun itu bisa untuk memberdayakan masyarakat. Orang Indonesia tidak perlu miskin selama produk-produnya dipakai oleh kita sendiri. Masyarakat tidak perlu miskin. Kuncinya hanya satu. Maindset-nya diubah mencintai produk dalam negeri," pungkas Yori. (M-2)

Komentar