MI Muda

Agar Start Up Melompat Lebih Jauh

Ahad, 17 September 2017 05:01 WIB Penulis: Hilda Julaika/M-1

Dok. Pribadi

INDONESIA ternyata juara lo soal perusahaan rintisan ini. Negeri ini tercatat sebagai negara dengan jumlah start up terbanyak di kawasan Asia Tenggara.

Jumlahnya mencapai sekitar 2.000. Angka ini diprediksi bakal bertumbuh terus hingga sekitar 5 hingga 6,5 kali lipat menjadi sekitar 13 ribu pada 2020.

Potensi-potensi tersebut menarik GnB Accelarator sebagai sebuah program kolaborasi dengan perusahaan IT Jepang, Infocom Corporation, dan Fenox Venture Capital dari Silicon Valley. GnB merupakan akselerator pertama di Indonesia yang didedikasikan untuk kemajuan dan inovasi yang menyatukan masyarakat, dana, dan mitra yang mendorong kecepatan bisnis.

Mengusung semangat start up menuju big hit milestone dalam entrepreneur journey, GnB yang telah memasuki batch ketiga tahun ini mengantar sebanyak 6 start up terpilih mengikuti program GnB Accelerator selama September hingga November 2017 ini.

"Kami bangga dan bersemangat untuk kali ketiga dalam memulai program GnB Accelerator terpilih di Indonesia. Dengan dukungan ekosistem korporasi global yang kami miliki, mereka memiliki kesempatan untuk bertemu dengan jaringan investor dan perusahaan multinasional di beberapa negara," kata Kentaro Hashimoto selaku Program Manager, GnB Accelerator.

Enam perusahaan rintisan

Keenam start up yang berhasil terpilih di antaranya, Sticar, Sistem Akademik (SIKAD), PanenID, MedikaApp, SimpliDots, dan Plomo. Pada 2017 ini, beragam start up muncul dari latar belakang dan budaya yang berbeda dengan produk yang unik dan model bisnis yang menantang.

GnB memberikan fasilitas berupa funding (pendanaan), mentorship (bimbingan), support (dukungan), dan training (pelatihan) dari para mentor dan ahli baik yang berasal dari dalam dan luar negeri.

Salah satu start up yang akan dikembangkan melalui GnB Accelerator ini yakni, Sticar merupakan aplikasi yang menghubungkan pengemudi dengan perusahaan yang akan memasang iklan di mobilnya. Lokasi mobil dapat terlacak melalui sistem mereka sehingga iklan dapat dengan mudah diukur dan menjangkau daerah yang sulit dijangkau billboard. Sementara itu, pengemudi bisa mendapat penghasilan tambahan dari tiap kilometer yang dia tempuh.

I Gede Rio Harta Damarwan selaku CEO Sticar menjelaskan, latar belakang berdirinya start up yang bergerak di bidang periklanan ini. Menurutnya, latar belakang bisnisnya sederhana, adanya iklan billboard yang dianggap merusak tatanan ruang kota untuk masyarakat umum. Papan iklan pun berisiko pada keselamatan warga kota.

"Selain itu, harga billboard misalnya di Jakarta sendiri terhitung mahal, tarifnya bisa sampai Rp150 juta hingga Rp200 juta per bulannya. Sedangkan kalau menggunakan jasa kita, bisa dikonversikan menjadi sekitar 200 mobil" tambahnya.

Saat ini pengguna jasa Sticar ini sudah mencapai 4.000 driver. Aplikasi Sticar sudah terdapat di Appstore dan sudah diunduh hingga 17 ribu lebih. Hadir sebagai media pengganti iklan tradisional (billboard), Sticar menyatakan kehadirannya, mengubah cara pandang pengiklan mengenai media iklan saat ini. Artinya, tantangan datang dari bagaimana meliterasi konsumen dalam hal ini pengiklan dalam menggunakan jasa iklan yang sudah memasuki ranah digital.

Aplikasi distribusi

Ada pula aplikasi yang bergerak dalam bidang distribusi, yakni SimpliDots. Melalui sistem ini, perusahaan distributor dapat mengelola aktivitas mulai pemesanan dan proses jual-beli, manajemen persediaan, hingga data mining dan visualisasi data. Semua ini dapat dilakukan dengan mudah melalui sistem SimpliDots yang dapat diakses melalui desktop, tablet, bahkan mobile (Android dan Ios).

"Iya jadi SimpliDots ini menghubungkan distributor. Tujuannya untuk mempermudah distributor dalam melakukan pengelolaan perusahaan distribusi. Mulai dari menangani pembelian penjualan, utang piutang, dan monitoring posisi karyawan yang sedang bertugas di lapangan," ujar Jowan Kosasih sebagai Co-founder dan CEO SimpliDots.

SimpliDots sejak launching sudah berdiri selama 7 bulan dan sudah memiliki 9 distributor tetap. Tantangan yang muncul dalam merintis start up ini menurut Jowan ialah bagaimana merubah mindset dari bisnis tradisional ke bisnis digital. Namun, menurutnya generasi sekarang lebih mulai memahami dan menerima digital. Ke depannya peluang bisa lebih besar.

Program GnB Accelerator merupakan program akselerasi yang mendukung pembinaan start up. Selama mengikuti program singkat tiga bulan tersebut, setiap start up peserta akan mendapatkan investasi sebesar US$50 ribu (sekitar Rp666 juta), fasilitas co-working space, serta bimbingan dari para mentor yang berasal dari dalam dan luar negeri. Tahun depan, daftar ya! (M-1)

Hilda Julaika

Jurusan Jurnalistik

Universitas Padjadjaran

Komentar