MI Muda

Fesyen itu Kerja Keras

Sabtu, 16 September 2017 23:46 WIB Penulis: Iis Zatnika

Dok. Pribadi

Desain dirayakan di panggung peragaan busana serta bazar produk fesyen, desain interior, desain media digital, fotografi, hingga make-up artistik. Selama 10 hari, Creative Week 2017, diselenggarakan LaSalle College Jakarta di Food Society, Kota Kasablanka Mall (Kokas), Jakarta, 9 hingga 20 Agustus.
Para mahasiswa kampus LaSalle College Jakarta berkolaborasi memperkenalkan pengalaman desain pada kaum urban Jakarta. Tentunya, sembari memperkenalkan karya dan bisnis mereka. Sebagian tampil dalam aneka pertunjukan yang digelar silih berganti dan ada pula yang fokus menjual produknya.
Anak-anak muda dari semua program, mulai desain feyen, bisnis fesyen, desain interior, desain media digital, fotografi, hingga make-up artistik, eksis di sini.
Muda mewawancarai Natasha Putri Mentari, production manager Bureaucrat, salah satu dari 10 merek fesyen yang eksis di sana.

Ceritakan dong tentang Bureaucrat?
Mereka ini adalah salah satu tugas akhir dari kampus aku, LaSalle College Jakarta, seperti skripsi. Kami ditugaskan mencari konsep sampai akhirnya berproduksi untuk ditampilkan dalam Creative Week 2017.
Sebenarnya Bureaucrat ini tugas berkelompok, anggotanya tiga orang. Saya buat konsep officeware, merek lokal kan masih jarang yang benar-benar fokus di sana.
Namanya sendiri, jika dibahasa-Indonesiakan, artinya birokrat. Kami memang cari nama yang benar-benar dekat dengan dunia kantor. Jadi ketika orang menyebut Bureaucrat, pasti langsung kepikiran itu tentang baju kantor.

Jadi fokus ke baju untuk perempuan karier?
Kami fokus untuk kantoran yang formal, tapi enggak boring, biasanya baju kantoran kan identik dengan desain yang membosankan. Kami coba modifikasi dengan pemilihan bahannya semiwol, tetap formal tapi juga fashionable.

Jenis desain dan karakternya?
Basic, diusahakan tidak yang terbuka tapi tetap feminin. Karena mau mewakili citra perempuan kantoran, yang punya power.

Produksi kalian sudah berapa banyak?
Yang sudah terjual 150-an buah, modelnya ada 25. Kisaran harganya sekitar Rp250 ribu sampai Rp650 ribu.

Bureaucrat akan diteruskan sebagai bisnis serius?
Kami masih ada tugas kuliah yang perlu dikerjakan, untuk kedepannya mungkin mau di arahkan ke sana.

Pembelajaran yang didapat selama menggarap Bureaucrat?
Pastinya sih team work, karena ini kan kerja bareng. Saya di bagian produksi, juga ada yang bertugas di laporan marketing. Saya juga belajar soal teknik mengelola waktu, kejar target dalam waktu 3 sampai 4 bulan.

Seberapa penting Creative Week itu?
Kami peroleh banyak pengalaman dari Bureaucrat, benar-benar membangun dari nol. Cari sendiri vendor-vendornya, penting banget buat pengalaman ke depannya.

Omzet Bureaucrat?
Omzet penjualan selama 2 minggu di lokasi sekitar Rp30 juta sampai Rp35 juta.

Pendapat kalian tentang Creative Week?
Sebenarnya LaSalle setiap tahun mengadakan acara Creative Week, namanya saja yang berbeda-beda. Menurut saya acara ini sangat membantu karena kami benar-benar harus menjualnya sendiri, bertemu customer, face to face dengan mereka.

Bagaimana dengan field trip yang kalian lakukan?
Sejauh ini pernah ke Bandung, Museum Batik, terus ke Yogyakarta dan Solo.

Pelajaran yang di dapat?
Lebih ke melihat-melihat cara pembuatan, dalam hal ini batik. Melihat langsung karya fesyen itu dihasilkan sehingga tahu detail pembuatannya.

Pembelajaran paling penting selama kuliah?
Kami diajarkan aneka software terkait dengan dunia desyen, termasuk juga teknik foto shoot, poster. Semua pelajaran membantu, tapi yang paling penting itu.

Pesan untuk anak-anak muda yang ingin bergelut di dunia fesyen?
Harus mau kerja keras, karena untuk mencapai sesuatu harus ada kerja kerasnya. (*/M-1)

Komentar