Foto

Roda Perubahan di Kampung Warna-warni

Sabtu, 16 September 2017 23:31 WIB Penulis: Susanto/M-3

MI/Susanto

SEEKOR T-REX seolah keluar dari tembok sebuah rumah. Matanya melotot marah, ­sedangkan lehernya terjerat tambang. Potret kejadian ini bukan penggalan film fiksi, melainkan di kampung warna-warni, yakni sebutan untuk Kampung Jodipan, Tridi, dan Kesatrian di Malang, Jawa Timur.

Gambar-gambar menarik yang seolah tampak hidup menghias banyak rumah di kampung itu. Bukan itu saja, hampir semua bagian kampung dicat warna-warni. Bahkan hingga genteng rumah, tangga kampung dan tiang-tiang jembatan rel kereta api yang melintas di sana. Tampilan yang semarak itu pun membuat kampung jadi magnet wisata, terutama kaum penggila foto dan selfie.

Padahal, hingga pertengahan tahun 2016, kedua kampung yang dipisahkan Sungai Brantas tersebut tidak berbeda dengan kampung padat penduduk lainnya. Malah, keduanya dikenal kotor.

Transformasi kampung itu berlangsung berkat inisiatif dari sejumlah mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang yang tergabung dalam kelompok Guyspro. Mereka terinspirasi dari rumah kotak-kotak warna-warni di Desa Favela, Rio de Janeiro, Brasil.

Ide para mahasiswa ini kemudian disambut ­salah satu produsen cat di Malang dan pengecatan dilakukan masyarakat dengan bantuan tentara pada Juni 2016.

“Kalo meriah begini, harapannya bisa ­mewakili hati kami yang ceria. Sekaligus menunjukkan keanekaragaman di Indonesia” Ungkap Hartoyo, salah satu warga, yang rumahnya juga tak luput jadi sasaran warna-warni cat.

Dampak gerakan itu pun telah bergulir jauh. ­Dengan menjadi tujuan wisata, kesadaran lingkungan masyarakat berangsur tumbuh. Biaya tiket masuk Rp2.000 per pengunjung juga digunakan untuk perawatan lingkungan. Tidak hanya itu, ­kesadaran akan pentingnya sanitasi kian kuat.

Kampung Jodipan, Tridi dan Kesatrian menjadi contoh perubahan yang terus bergulir bak roda. Berawal dari tampilan, perubahan yang lebih besar bisa tercipta berkat keikutsertaan masyarakat. (M-3)

Komentar