Jendela Buku

Sebuah Proses Jurnalisme Penuh Risiko

Sabtu, 16 September 2017 02:31 WIB Penulis: Rani Andriani Koswara

BELUM lepas dari ingatan kita bagaimana buron yang paling dicari dua negara--Timor Leste dan Australia--hidup atau mati, bisa hadir dalam sebuah talk show televisi.

Penampilan Mayor Alfredo di Kick Andy pada 24 Mei 10 tahun silam cukup menjadi berita besar.

Sosok yang dicari karena makar atas insiden penembakan dan percobaan pembunuhan Ramos Horta itu begitu blakblakan saat ditanya host Kick Andy, Andy F Noya.

Mayor Alfredo diduga sebagai dalang berbagai aksi kerusuhan 2006, yang tidak saja menewaskan banyak orang, tapi juga memaksa ribuan orang mengungsi dari Dili, Timor Leste.

Kabar isu pemberontakan tersebut banyak dibicarakan di media massa, termasuk di Indonesia.

Bahkan, pasukan keamanan khusus Australia diminta pemerintah Timor Leste untuk menangkap pria kelahiran 11 November 1968, hidup atau mati.

Dalam posisinya sebagai buron, Mayor Alfredo malah muncul dalam sebuah talk show di stasiun televisi Indonesia.

Tak ayal, pemerintahan Timor Leste seperti kebakaran jenggot.

Pun, petinggi pemerintah Indonesia merasa kecolongan.

Bagaimana mungkin ia bisa hadir di Kick Andy.

Berbagai pertanyaan kemudian muncul.

Siapa yang memulai ide mengangkat Mayor Alfredo? Kenapa harus di Kick Andy?

Apakah hubungan Andy F Noya sebagai host dengan pria keturunan Portugis tersebut?

Bagaimana tim Kick Andy bekerja dalam serbamisterius?

Apa dampak dari tayangan tersebut?

Semua itu terjawab dalam buku yang ditulis sang produser senior Kick Andy, Agus Pramono.

Ia memberikan detail bagaimana seseorang menghubungi Kick Andy dan menawarkan Mayor Alfredo untuk tampil di acara talk show ini.

Tim harus bekerja serbarahasia, serbamisterius untuk mengangkat tema ini.

Bukannya apa-apa, isu sensitif tersebut menyangkut hubungan diplomatis Indonesia-Timor Leste.

Agus menyatakan kerja jurnalistik yang dilakukannya dan tim tidak lain untuk menyajikan suatu peristiwa, suatu kejadian, dengan cara yang tidak biasa dan tanpa pretensi.

Dengan begitu, Kick Andy dapat menjadi sebuah tayangan talk show yang memberi makna, inspirasi, sekaligus motivasi bagi siapa pun yang menontonnya.

Mendatangkan narasumber bukan perkara mudah.

Banyak proses berat yang harus dilakukan. Tidak sekadar telepon lalu narasumber hadir.

Agus bahkan harus melakukan perjalanan jauh hingga ke pelosok-pelosok.

Salah satu contohnya ialah saat harus mendatangkan narasumber mantan tahanan politik, Apotnalogolik Enos Lokobal.

Produser Kick Andy ini harus terbang hingga ke ujung Nusantara, Papua.

Hampir kehilangan nyawa

Dalam prosesnya mendatangkan narasumber dari pedalaman Papua, Agus bahkan hampir kehilangan nyawa.

Proses negosiasi awal di Jakarta yang berjalan mulus ternyata berbanding terbalik dengan kondisi di lapangan.

Medan perjalanan ke Wamena, Papua, yang tidak mudah, ditambah kesulitan komunikasi membuat Agus waswas.

Di saat situasi sulit itu, dukungan sahabat sekaligus host Kick Andy, Andy F Noya membuat Agus semakin kuat, yakin dapat membawa narasumber ke Jakarta.

Andy F Noya di mata Agus bukan sekadar host yang baik.

Ia juga teman yang memberikan dukungan penuh kala Agus menghadapi banyak kesulitan di lapangan.

Tengok saja cerita dalam bab Mereka Memanggilku Monster.

Adalah bukan perkara mudah menghadirkan seorang korban luka bakar yang telah menjalani 17 kali operasi plastik.

Namun, Andy F Noya tak ragu untuk turun tangan langsung membantu tim Kick Andy yang kala itu kesulitan dalam bernegosiasi.

Akhirnya, Lisa, sang narasumber, tidak ragu hadir di layar kaca ditemani tim dokternya.

Rahasia di Balik Layar Kick Andy ini mengajarkan mengubah yang biasa menjadi luar biasa itu ialah hal lumrah.

Namun, mengubah yang tidak biasa menjadi luar biasa, itu baru menarik.

Setiap tema yang diangkat, diperlukan pemikiran atau penggalian ide yang berbeda.

Tengok saja dalam episode Singa dari Negeri Jiran.

Menengahkan pejabat penting dalam sebuah talk show ialah peristiwa yang biasa.

Namun, menengahkan pejabat penting dari negara tetangga, Malaysia, Anwar Ibrahim, ternyata menjadi suatu tayangan yang menarik.

Selain kisah Anwar Ibrahim, pembaca bisa menemukan kisah inspiratif Andrea Hirata dalam Inspirasi Laskar Pelangi, Gus Mus dalam Membuka Pintu Langit, atau perjuangan para pangeran Nusantara di Studio Diganggu Hantu.

Narasumber yang pernah hangat-hangatnya menjadi pembicaraan media seperti Susno Duadji dan Aa Gym juga dibahas khusus.

Dalam buku ini, Agus yang sudah hampir 12 tahun menggawangi program Kick Andy terpanggil untuk mengungkapkan cerita-cerita di balik layar Kick Andy yang selama ini belum pernah diungkapkan ke publik.

Bagaimana sukaduka sebagai produser dalam mengejar narasumber hingga dapat menghasilkan tayangan yang selalu dinanti-nantikan masyarakat?

Bagaimana talk show yang digarap bukan untuk menghakimi narasumber?

Buku ini juga menceritakan kejelian Andy F Noya dalam melontarkan pertanyaan yang menggelitik, kadang sensitif, menohok, dan nge-kick sang narasumber.

Setiap tamu yang diwawancara tak ragu untuk bicara blakblakan sehingga penonton baik di studio maupun di rumah tidak saja terhibur, tapi juga menjadi terinspirasi dan termotivasi.

Agus meyakini sebuah kerja keras tim yang solid dan pantang menyerahlah yang akhirnya mampu menghasilkan tayangan talk show bermutu.

Betapa buku ini mengajari kita untuk tidak gampang menyerah, terus berpikir kreatif, dan mengerjakannya dengan sepenuh hati.

Dan, yang paling penting ialah menyaksikan Kick Andy dengan hati sebab hati biasanya lebih jujur.

(M-2)

_________________________________

Judul: Rahasia di Balik Layar Kick Andy

Penulis: Agus Pramono

Penerbit: Transmedia Pustaka

Cetakan: I/September 2017

Tebal: xiv + 426 halaman

Komentar