Jendela Buku

Kisah sang Pengelana

Sabtu, 16 September 2017 02:16 WIB Penulis: M-2

LAHIR di Sumedang, 3 September 1947, Iwan Abdurachman mulai mencipta lagu sejak usia 17 tahun, 1964.

Persahabatannya dengan alam sebagai seorang kelana menjadi tema utama lagu-lagu Abah Iwan, demikian dia sering disapa-yang digubah hingga usia 61 tahun.

Menurut Abah, selama ini manusia cenderung banyak bicara dan ingin didengarkan hakikat sebagai seorang manusia yang tidak toleran terhadap perbedaan dan berubah menjadi makhluk tanpa empati.

Lewat lagu-lagunya, Abah mengajak kita kembali belajar menyimak segala isyarat lirih dan kelembutan alam.

"Mari mengamati sinar mentari pagi. Mari mendengar gemericik air yang mengalir, burung berkicau, dan embusan angin yang menyelinap di antara dedaunan. Alam seolah sedang berbicara dengan hatinya yang suci. Jadikanlah alam sebagai gurumu," ujar Abah.

Mentari sang Kelana merupakan kisah tentang kelana yang hatinya penuh rasa cinta pada alam dan manusia.

Lagu-lagunya bukan sekedar untuk menghibur, melainkan menyegarkan jiwa-jiwa yang mulai kering.

__________________________________

Judul: Mentari sang Kelana

Penulis: Arie Malangyudo

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Terbit: September 2017

Tebal: 284 Halaman

Komentar