Laporan Dari SJS 2017

Memerangi Ekstremisme di Kalangan Anak Muda

Kamis, 14 September 2017 12:13 WIB Penulis: Usman Kansong

Ilustrasi

LAPORAN DARI 2017 SJS (5)

USIANYA baru 18 tahun. Namun, pemuda yang tinggal di Maryland, Amerika Serikat itu berperan merekrut 40-50 orang untuk berangkat ke Suriah bergabung dengan Islamic State. Dia melakukan ini dari basement rumahnya dengan menggunakan internet. Dia pun gemar menyebar ujaran kebencian.

Dua pekan lalu, pemuda tersebut datang ke masjid yang dikelola All Dulles Area Muslim Society (ADAMS) Virginia, AS. "Dia ketika itu baru pertama kali ke masjid. Dia tidak pernah ke masjid sebelumnya," kata Abur Raffa Quertani, imam masjid. Imam Abur Raffa menceritakan kisah pemuda itu kepada jurnalis peserta 2017 Senior Journalists Seminar yang diorganisasi East-West Center yang berkunjung ke kantor ADAMS, pekan lalu.

Yang lebih mencengangkan, anak-anak perempuan berusia 14 dan 16 tahun dari Denver, Kolorado, AS, juga mencoba bergabung dengan IS. "Di masa lalu kita pikir mereka yang terlibat terorisme berusia 18-35 tahun. Saya pikir bahkan 35 tahun terlalu tua. Sekarang kita lihat bagaimana anak-anak muda berusia 13, 14, 15 tahun direkrut menjadi teroris," kata Irfan Said, Direktur Badan Kontra Kekerasan dan Ekstremisme Biro Kontra Terorisme dan Kontra Kekerasan dan Ekstremisme Kementerian Luar Negeri AS. Jurnalis peserta 2017 SJS berdiskusi dengannya di Gedung Kementerian Luar Negeri di Washington, Senin (11/9).

Masjid ADAMS terlibat dalam upaya mengurangi radikalisme di kalangan anak muda muslim di AS dengan menyediakan konsultasi bagi mereka. "Kami terlibat aktif memerangi pandangan ekstrem di kalangan anak muda muslim," kata Imam Abur Raffa.

Apakah fenomena pemuda berusia 18 tahun yang tak pernah menginjakkan kaki di masjid menunjukkan radikalisme yang menjadi cikal bakal ekstrimisme dan terorisme cenderung menjangkiti mereka yang tidak bersentuhan dengan ajaran agama? Tidak sesimpel itu mungkin.

Akan tetapi, dalam konteks Asia Tenggara, di negara-negara yang sebagian besar penduduknya muslim, ekstremisme tidak terjadi. Sekurang-kurangnya di negara berpenduduk muslim ekstremisme tidak seheboh di negara berpenduduk bukan muslim.

"Di Indonesia dan Malaysia yang berpenduduk sebagian besar muslim relatif tidak ada ekstremisme sebagaimana di Filipina Selatan atau Thailand Selatan, juga Myanmar," kata Peng Koon Heng, Asisten Profesor School of International Service, American University. Peng Koon Heng berdiskusi dengan jurnalis peserta 2017 SJS di Washington, Senin (11/9).

Yang pasti penanganan dan pencegahan radikalisme, ekstremisme, dan terorisme harus komprehensif, menyeluruh. Irfan Saeed menjelaskan kontra terorisme semestinya meliputi lima aspek, yakni riset, pencegahan, intervensi, rehabilitasi atau integrasi, serta strategi penyampaian pesan.

"Melalui riset kita mengidentifikasi siapa, mengapa, dan bagaimana mereka terlibat ekstremisme supaya kita bisa melakukan pencegahan. Pencegahan mesti melalui intervensi. Mereka yang telanjur terlibat dalam ekstremisme dan terorisme kemudian direhabilitasi dan diintegrasikan dan ini mensyaratkan reformasi penjara," tutur Saeed.

Penanganan dan pencegahan radikalisme, ekstremisme dan terorisme, lanjut Saeed, juga mesti melibatkan semua pihak, seperti lembaga swadaya masyarakat, masyarakat sipil, orang tua, dan guru. "Kita semua harus sama-sama menyuarakan pesan-pesan toleransi dan antikekerasan," kata Saeed.

Yang tak kalah penting ialah peran penyedia layanan media sosial. "Apa yang terjadi sekarang ialah Islamic State mengatakan, 'Kita kini memiliki sarana yang aman, yakni online, kita akan melakukan rekrutmen secara online, dan kalian bisa bertindak di mana pun tanpa harus datang ke zona konflik di luar negeri," kata Saeed.

Perusahaan raksasa digital, seperti Facebook, Microsoft, Twitter, dan YouTube, berkumpul pada Juni 2016 untuk membentuk Global Internet Forum for Counterterrorism. Facebook dan Twitter bahkan secara aktif telah mengembangkan kecerdasan buatan untuk menelusuri konten berisi pesan ekstremisme dan menghapusnya secara otomatis. (OL-3)

Komentar