Humaniora

Berjaga Mengikuti Gerak Matahari

Kamis, 14 September 2017 11:05 WIB Penulis: Siswantini Suryandari

MI/Siswantini Suryandari

DUA orang berdiri di samping sebuah gardu. Di tangan mereka ada lembar kertas. Setiap bus lewat masuk ke sebuah pos perhentian, kedua orang ini menandai nomor bus di lembar kertas. Seperti petugas timer di terminal bayangan di Indonesia.

Kemudian bus-bus yang masuk ke pos itu mendapatkan satu karton berisi makanan ringan dan jus buah yang dibagikan kepada para penumpang, yang seluruhnya adalah jemaah. Di pos, ada satu orang yang berjaga juga mencatat bus yang masuk tersebut.

Kemudian saat keluar ada tiga petugas di pojokan pintu keluar pos mencatat bus yang keluar. Tidak lama, salah satu petugas melaporkan ke pos sektor bahwa bus nomor sekian sudah melewati pos.

Itulah kesibukan di Terminal Hijrah yang memantau kedatangan bus-bus yang membawa jemaah haji dari Mekkah ke Madinah, mulai 12-21 September.

"Kita pantau pergerakan bus yang masuk ke Terminal Hijrah ini untuk segera dilaporkan ke lima sektor yang ada di Madinah. Laporan ini manfaatnya agar masing-masing sektor bisa mempersiapkan diri menyambut kedatangan para jemaah haji di masing-masing hotel. Termasuk distribusi katering untuk jemaah," kata Sekretaris Sektor Khusus Bir Ali dan Terminal Hijrah, Letkol TNI AD Syafruddin Tanjung, saat ditemui di Terminal Hijrah, Rabu (13/9).

Untuk di Terminal Hijrah ini, dikerahkan 15 orang terbagi dalam dua shift. Satu shift bekerja dari pukul 09.00 hingga keesokan harinya pukul 02.00. "Sistem shift, satu hari masuk besoknya libur. Begitu seterusnya. Di sini personel yang berjaga dari TNI dan Polri. Semula ada anggota perempuan, tapi ditarik ke sektor karena medan di Terminal Hijrah sangat berat," kata Syafruddin yang sehari-harinya bertugas di Kostrad Gambir, Jakarta

Sebab di Terminal Hijrah ini tidak ada pos-pos yang dibangun permanen. Bila ada pos permanen, petugasbisa duduk di pos sekaligus berteduh. Tahun lalu masih ada pos-pos di Terminal Hijrah, kemudian dibongkar oleh pemerintah Arab Saudi.

Kondisi ini berbeda dengan pos di Bir Ali. Untuk Bir Ali ini, bus dari Madinah wajib berhenti di pos tersebut sebelum memasuki Kota Mekkah. Sebab para jemaah haji wajib melaksanakan miqat untuk niat umroh. Di pos Bir Ali ada petugas haji perempuan. "Di BIr Ali selain ada masjid Bir Ali cukup besar, posko-posko juga ada. Kalau di Pos Hijrah tidak ada. Medan wilayah di Hijrah lebih berat untuk perempuan," tambahnya.

Para petugas pun harus menyesuaikan pergerakan matahari. "Kemana arah matahari bergerak, posisi kami duduk atau berdiri sebisa mungkin harus menghindari paparan matahari," sambung Udung Nurrahman, salah satu anggota seksi khusus Bir Ali dan Terminal Hijrah, yang sedang berjaga di pintu keluar.

Puncak panas di Terminal Hijrah pada pukul 12.00-14.00, ketika suhu udara rata-rata mencapai 42 derajat Celcius. Bila malam tiba, terkadang angin membawa uap panas dan debu pasir menerpa para petugas. Apalagi di sekitar Terminal Hijrah adalah kawasan pegunungan batu dan gurun pasir. "Tengah malam kami hadapi angin panas. Maka antisipasi agar tidak sakit cukup minum, makan teratur dan istirahat teratur," kata Udung.

Di tengah bertugas, para petugas sering juga menghadapi kendala. Salah satunya adalah bila stiker nomor yang ditempel di bus mengelupas dan hilang karena terkena terpaan angin.

Di dalam stiker itu berisi informasi kloter dan embarkasi jemaah. "Kalau stiker tidak ada, kami mencegat bus dan langsung menanyakan kepada pimpinan rombongan. Kloter ini perlu diketahui untuk pelaporan di sektor," sambung Syafruddin.

Setiap hari rata-rata 20 kloter jemaah haji Indonesia diberangkatkan dari Mekkah menuju Madinah. "Ada sekitar 187 bus setiap harinya yang masuk ke Terminal Hijrah. Saat bus pertama masuk ke Terminal Hijrah itu terpenting. Sebab bus-bus berikutnya yang masuk rata-rata 20 menit setelahnya," pungkas Syafruddin. (OL-3)

Komentar