Humaniora

Jumlah Jemaah Wafat Lampaui Tahun Lalu

Kamis, 14 September 2017 10:57 WIB Penulis: Siswantini Suryandari

ANTARA

JEMAAH haji Indonesia yang wafat di Arab Saudi terus bertambah. Tercatat sampai dengan 13 September 2017, sudah 438 jemaah yang wafat. Lima jemaah wafat di Jeddah, 309 wafat di Makkah, 37 wafat di Madinah, 20 wafat di Arafah, serta 67 jemaah wafat di Mina. Sebanyak 18 orang dari jumlah yang wafat adalah jemaah haji khusus.

Kasi Penghubung Kesehatan Daker Makkah dr. Ramon Andrias mengatakan bahwa jumlah ini sudah melewati total angka kematian pada tahun lalu (2016). “Bahkan, jumlah ini juga sudah melewati angka kematian tahun 2015, di luar korban jatuhnya crane dan musibah Mina,” terang Ramon di Mekkah, Rabu (13/9).

Angka kematian pada musim penyelenggaraan haji 2015 mencapai 491, namun sudah termasuk lebih dari seratus jemaah wafat korban crane dan musibah Mina. Sementara angka kematian pada 2016 berjumlah 342.

Tingginya angka kematian jemaah juga disebabkan kuota haji tahun ini lebih besar dibanding empat tahun terakhir. Sejak 2013 – 2016, kuota haji negara pengirim jemaah dipotong 20%, efek renovasi Masjidil Haram. Kuota haji Indonesia pun berkurang menjadi 168.800.

“Sampai saat ini dari 438 kematian, 342 itu kematian di atas umur 60 tahun. Memang sudah risiko tinggi (risti) dari risti umur mungkin ditambah lagi dengan risti penyakit,” imbuhnya.

Menurut Ramon, cuaca tahun ini juga lebih panas menjadi faktor pendukung. Sepekan ini, suhu di Makkah berkisar 43 - 46 derajat Celcius dengan riil feel bisa mencapai 50-52 derajat. Sedangkan di Madinah bisa lebih panas, sementara kelembaban juga rendah.

Pada bagian lain Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI) menekankan pentingnya istitha'ah (mampu) kesehatan haji.

Dr Abidin Syah dari sub kesehatan KPHI meminta para dokter di puskesmas tingkat kecamatan harus aktif memantau kondisi kesehatan calon jemaah haji Indonesia.

Padahal ada waktu 6 bulan bagi jemaah haji untuk mempersiapkannya. "Sebab yang kami temui saat di Mekkah maupun Madinah, banyak buku kesehatan haji yang kosong. Tidak ada catatan medis si jemaah. Saat jemaah sakit di Arab Saudi, dokter yang bertugas di sini bingung karena tidak ada petunjuk riwayat kesehatan si pasien," kata Abidin di Madinah, Rabu (13/9).

Padahal pemerintah kabupaten/kota sudah melantik dokter-dokter puskesmas yang menanangi jemaah haji, untuk memproses kesehatan calon haji.

Menurutnya sesuai dengan peraturan Menkes, setiap calon haji diperiksa kesehatannya. Dokter akan melaporkan kondisi kesehatan di dalam catatan medis haji. Saat jemaah sudah mendapatkan jatah terbang dan pengelompokan terbang, mereka wajib memeriksakan kesehatan di tingkat kabupaten/kota atau provinsi. Catatan dari puskesmas ini menjadi pertimbangan.

"Hasil pemeriksaan di puskesmas, apabila jemaah ini berpotensi hipertensi, selama masa tunggu pembagian kloter jemaah harus diobati sampai sembuh. Saat pemeriksaan di tingkat atas, bisa dipantau perkembangan lebih lanjut. Catatan kesehatan ini diserahkan ke Embarkasi. Bisa berangkat atau tidaknya jemaah itu kewenangan Embarkasi yang ditangani Kementerian Agama," jelasnya.

Namun hal semacam itu belum berjalan semestinya. Padahal antara Menteri Agama dengan Menteri Kesehatan telah melakukan kerja sama untuk persyaratan calon jemaah haji pada 2015.

Dia berharap apabila hal-hal yang telah disepakati oleh kedua kementerian bisa dijalankan di jenjang paling bawah, maka faktor-faktor risiko kesehatan yang dibawa jemaah haji saat di Arab Saudi bisa dikendalikan.

Dengan cuaca yang cukup panas, jemaah haji tergolong berisiko tinggi mampu mengukur diri sendiri agar penyakitnya tidak kambuh. Para jemaah yang berisiko tinggi biasanya membawa obat sendiri dari Tanah Air. "Bila itu berjalan, insya allah angka kematian bisa dikendalikan," harapnya. (OL-3)

Komentar