Humaniora

Pemanfaatan Energi Baru masih Minim

Kamis, 14 September 2017 06:58 WIB Penulis:

ANTARA/RIVAN AWAL LINGGA

PEMANFAATAN energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia masih jauh dari target. Karena itu, sulit mengharapkan EBT bisa berperan signifikan dalam upaya menekan emisi gas rumah kaca dan dampak perubahan iklim di Indonesia.

Ketua Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim KLHK Sarwono Kusumaatmadja mengatakan, berbeda dengan beberapa negara di dunia, tren perkembangan EBT Indonesia berjalan lambat. Belum ada aturan ketat yang dibuat untuk mendukung pemanfaatan EBT dan untuk menekan emisi.

“Kalau tren dunia, kecepatan atau akselerasi penggunaan EBT meningkat. Beberapa negara Eropa telah melarang penggunaan kendaraan bermotor berbasis bensin,” ujar Sarwono di acara Pojok Iklim di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) di Jakarta, kemarin.

Indonesia, kata Sarwono, masih sangat jauh untuk dapat mencapai kondisi seperti negara-negara maju tersebut. Padahal, dampak perubahan iklim terus dirasakan semakin parah, terutama akibat emisi kendaraan bermotor dan pembangunan. “Banyak sekali potensi yang bisa dimanfaatkan di Indonesia. Geotermal, surya, angin.”

Tercatat, sampai akhir 2016, konsumsi EBT baru mencapai 7,7%, padahal targetnya 10,4%. Jumlah tersebut harus terus dikejar agar dapat memenuhi target pemanfaatan EBT mencapai 23% dari keseluruhan penggunaan energi pada 2025 mendatang.

Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian LHK Nur Masripatin mengatakan pihaknya melakukan berbagai upaya menekan emisi, antara lain dengan restorasi lahan gambut, reboisasi hutan, dan pencegahan deforestasi. (Pro/H-3)

Komentar