Humaniora

Potensi Pandemi Influenza Tetap Diwaspadai

Kamis, 14 September 2017 06:47 WIB Penulis: Indriyani Astuti

ANTARA/MUHAMMAD IQBAL

MESKI kasus flu burung belakangan mereda, potensi pandemi influenza dinilai tetap ada dan perlu diwaspadai. Hal itu disebabkan kasus flu burung secara sporadis terus terjadi.

Selain itu, virus flu burung terus bermutasi sehingga dikhawatirkan muncul virus flu burung jenis baru yang bisa menular dari unggas ke manusia.

Dalam menghadapi pandemi influenza tipe baru itulah, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan melakukan simulasi dalam framework kebencanaan nasional. Lokasi simulasi ditetapkan di Tangerang, Provinsi Banten, dan berlangsung pada 19-20 September.

“Simulasi diperlukan untuk mengukur latihan kesiapsiagaan agar dapat melakukan mitigasi, dampak, serta pengendalian kedaruratan yang melibatkan banyak unsur dari tenaga kesehatan, TNI, kepolisian, dan masyarakat,” kata Ketua Program Kedaruratan perwakilan WHO di Indonesia Kwan Il-rim pada diskusi terkait tentang kesiapan menghadapi pandemi influenza jenis baru di Kantor Kemenkes, kemarin.

Ia menambahkan pandemi dapat berdampak pada aspek ekonomi dan sosial negara yang terserang. “Misalnya menurunnya sektor pariwisata, bahkan embargo. Aktivitas ekonomi menjadi terganggu,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Penanggulangan Penyakit Menular Langsung Kemenkes Wiendra Waworuntu menjelaskan pandemi influenza tidak bisa diprediksi, termasuk kasus flu burung yang pernah menjadi perhatian dunia dan kekhawatiran global.

Ia mengatakan hingga tahun ini kasus flu burung masih ada dan terdiri dari bermacam-macam tipe. Secara global, sampai 15 Juni lalu total kasus flu burung H5N1 pada manusia di 16 negara mencapai 859 kasus dengan 463 kematian. Sementara itu, kasus flu burung N7N9 pada manusia ditemukan di Tiongkok mencapai 1.557 kasus dengan 605 kematian.

“Sirkulasi virus flu burung masih berlangsung. Risiko transmisi virus dari unggas ke manusia juga masih dimungkinkan terjadi karena virus flu burung yang terus bermutasi. Jika transmisi dari unggas ke manusia itu terjadi, risikonya timbul pandemi influenza,” terangnya.

Menurutnya, di Indonesia belum dilaporkan adanya kasus flu burung jenis H7N9 pada unggas ataupun manusia. Namun, risiko tersebut tetap ada, sebab pandemi influenza dapat terjadi karena adanya mutasi adaptif atau perubahan genetis karena penyesuaian virus.

Virus yang semula menular dari binatang kemudian dapat menular antarmanusia akibat reassortment atau pertukaran gen antara virus flu burung dan virus influenza manusia.

Pertama ditemukan
Pemilihan Tangerang sebagai lokasi yang akan digunakan untuk simulasi menghadapi pandemi influenza baru, antara lain, disebabkan Tangerang menjadi daerah pertama kali ditemukannya virus flu burung pada 2005. Tangerang juga pernah menjadi pilot project penanganan flu burung sepanjang 2007-2012.

Sebelumnya Indonesia pernah melakukan simulasi pandemi pada 2008 di Bali dan pada 2009 di Sulawesi Selatan. (H-2)

indriyani@mediaindonesia.com

Komentar