Olahraga

Wisma Atlet Selisihi Target

Kamis, 14 September 2017 06:25 WIB Penulis: Dwi Apriani

ANTARA/NOVA WAHYUDI

TINGGAL setahun lagi jelang pelaksanaan multiajang Asian Games 2018, Indonesia Asian Games Organizing Committee (Inasgoc) sebagai panita penyelenggara mengaku khawatir dengan pembangunan wisma atlet atau athlete village yang berjalan lambat.

Ungkapan kekhawatiran itu disampaikan Sekretaris Jenderal Inasgoc, Eris Herriyanto, saat dia mengunjungi sejumlah venue yang bakal menjadi arena pertandingan sejumlah cabang olahraga Asian Games 2018 di kawasan Jakabaring Palembang, Sumatra Selatan, kemarin.

"Yang menjadi catatan kami, untuk wisma atlet ini cukup dikhawatirkan," ujar Eris. Kekhawatiran Aris sangat beralasan karena wisma atlet ditarget rampung dan bisa digunakan pada Maret tahun depan. Namun, pelaksanaan pembangunan wisma atlet justru baru dimulai.

Kendati pembangunan wisma atlet lambat, Eris masih merasa yakin proyek itu bisa selesai pada waktunya. "Proses pengerjaan sangat memakan waktu. Kami meyakini bisa selesai, tetapi waktunya sangat mepet," katanya.

Eris memang memprediksi pembangunan wisma atlet bakal rampung. Namun, dia masih memiliki kekhawatiran lain.

"Ini kan gedung baru, kita mengkhawatirkan apakah ini akan berfungsi atau tidak, ini kan butuh waktu juga," tuturnya.

Namun, di tengah kekhawatiran soal pembangunan wisma atlet, Eris mengaku sangat gembira dengan pembangunan sejumlah arena di kawasan sekitar Jakabaring, Palembang.

Secara keseluruhan pembangunan arena-arena untuk ajang Asian Games 2018 berjalan sesuai dengan harapan.

"Untuk venue cabang bow-ling dan voli pantai bagus," kata Eri yang tampak gembira setelah melakukan inpeksi ke beberapa arena.

"Secara keseluruhan pelaksanaan pembangunan venue tidak ada kendala berarti. Ini tanggung jawab kita dan nanti kita lihat apa yang harus dilengkapi."

Dana sponsor

Untuk bisa menutupi kekurangan anggaran Asian Games 2018, Inasgoc harus melakukan terobosan.

Salah satunya ialah dengan mendapatkan dana dari luar APBN atau dengan menggaet sponsor.

Demikian disampaikan Deputi Keuangan Inasgoc Gatot S Dewa Broto yang juga menjabat Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga di Jakarta, kemarin.

"Tapi, dana sponsor itu harus dibagi dua dengan Dewan Olimpiade Asia (OCA). Peturannya memang begitu. Nah, Pak Erick Thohir selaku Ketua Inasgoc sedang mencoba untuk negosiasi dengan OCA agar persentasenya tidak 50:50," kata Gatot.

Saat ini, menurut Gatot, Inasgoc sudah mengusulkan permohonan dana kepada Kemenpora sebesar Rp300 miliar. Dana itu telah diajukan Kemenpora kepada Komisi X DPR selaku mitra dan masih dibahas.

Dengan dana hanya Rp300 miliar, Inasgoc masih menghadapi kekurangan dana kurang lebih Rp1,1 triliun.

"Kekurang-an itulah sebisa mungkin ditutup oleh dana sponsor," tambah Gatot.

Inasgoc sendiri sebelumnya hanya disediakan Rp4,5 triliun untuk pelaksanaan Asian Games 2018.

Sebagian dana itu telah dipakai untuk biaya promosi. (DW/Bhm/Beo/R-4)

Komentar