Humaniora

Bercita-cita Dirikan Rumah Move On

Kamis, 14 September 2017 01:15 WIB Penulis: (Riz/M-4)

MI/SUMARYANTO

DALAM berbisnis selai ataupun sambal, Nani tidak sekadar berjualan. Di tiap kemasan produknya, ia menyematkan nomor telepon untuk media komunikasi bagi siapa pun yang ingin mencurahkan hatinya (curhat) akan masalah hidup mereka kepada dirinya. "Saya terima curhat. Di selai maupun sambal ada nomor telepon yang saya cantumkan di kemasan. Saya terima sharing karena saya tahu, di luar sana itu banyak orang yang senasib dengan saya, cuma mereka tidak tahu harus ke mana, bagaimana memulai menyelesaikan masalah, dan ke mana bercerita ke orang yang tepat," jelasnya.

Kebanyakan yang curhat, kata Nani, ialah para janda. Biasanya mereka aktif curhat pukul 21.00-01.00 WIB via Whatsapp. "Ada yang cuma curhat ingin didengar, ada yang curhat karena sudah mentok, ada yang butuh saran, ada yang kontinu, dan ada juga yang cuma sekali saja," imbuhnya. Setelah menerima curhatan itu, Nani bercita-cita mendirikan Rumah Move On.

Di rumah itu, orang-orang bisa curhat kepada dirinya dan bangkit untuk maju. "Jadi kalau sekadar curhat saja kan biasa, tapi kalau move on, orang kan ada perubahannya juga, dari kondisi yang terpuruk setidaknya ada pencerahan," tambahnya. Sementara itu, dalam mendidik anak, Nani sejak usia dini sudah mengajari anak-anaknya untuk mandiri dan saling menjaga.

Anak sulungnya saat ini berusia 11 tahun dan yang bontot berusia 3 tahun. "Pagi tetap saya urusi mereka mulai sarapannya dll, tapi memang ada pekerjaan yang saya mulai bagi tugas. Contohnya anak-anak saya tugasi menyapu, buang sampah, cuci baju, jemur baju ramai-ramai, kalau sore lipat masing-masing dan masukkan ke lemari masing-masing. Jadi untuk pekerjaan seperti itu sudah saya bagi dan mereka harus saling jaga," pungkasnya.

Komentar