Humaniora

Nani Kurniasari Berjuang Bangkit dengan Selai dan Sambal

Kamis, 14 September 2017 01:01 WIB Penulis: Rizky Noor Alam

SUMARYANTO

HIDUP sebagai seorang janda bukanlah hal mudah dan mampu dihadapi setiap perempuan. Apalagi menjanda dengan utang miliaran rupiah dan harus mengurus empat anaknya, butuh perjuangan yang luar biasa. Semua itu harus dihadapi Nani Kurniasari. Status dan utang yang melilitnya hampir membuatnya ingin mengakhiri hidupnya. Namun, berkat dukungan berbagai pihak, ia berhasil bangkit dan menata hidupnya.

Hebatnya lagi ia berhasil menyelesaikan semua masalahnya satu per satu dan membangun bisnisnya. Aura optimisme dan ketegaran terpancar dari wajah Nani saat Media Indonesia bertandang ke kediamannya di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (22/8). Sambil menanti anaknya pulang sekolah, ia menceritakan pengalaman hidupnya yang pahit ataupun manis. "Awalnya dulu saya bisnis katering, tapi bangkrut pada 2010 dan meningalkan utang Rp2 miliar," ungkap Nani membuka percakapan.

Utang akibat kesalahan manajemen keuangan menjadi awal masa suramnya. Di tengah masalah keuangannya, keterpurukannya bertambah saat ia bercerai dengan suaminya pada 2013. "Saya drop, anak-anak saya titipkan ke rumah ibu, saya berdiam diri di rumah dan tidak mau melakukan apa-apa," imbuhnya. Nani pun mengunci dirinya di dalam rumah.

Ia mengalami trauma saat mendengar suara mobil atau telepon karena takut dengan para penagih utang. Bisnis kateringnya tersebut melibatkan dana investasi dari berbagai pihak seperti teman-temannya.

"Saya sempat mau bunuh diri, jedotin kepala ke tembok, pakai tali, karena para penagih itu mulai kasar. Titik balik itu karena anak, jadi di kondisi yang sudah enggak keruan, saya sempat berpikir lebih baik mati saja, lalu anak saya, waktu itu anak ketiga saya berumur 3 bulan menangis minta menyusu, jadi masih diselamatkan," lanjutnya.

Life coaching
Pascaperceraian, ia mulai memberanikan diri membuka Twitter untuk mencari informasi mengenai life coaching. Padahal, sebelumnya, ia memanfaatkan media sosial berlogo burung biru itu untuk stalking informasi mengenai mantan suaminya. Upayanya mencari informasi di internet tersebut pun membuahkan hasil. Nani bertemu dengan Irma Rahayu yang membantunya dan membimbingnya untuk menyelesaikan beragam masalah hidup yang dihadapinya.

"Saya bertemu dengan Irma Rahayu, dari situ setelah saya ikut kelas life coaching-nya, saya putuskan untuk ikut kelasnya. Dari sana hidup saya mulai terarah, bagaimana caranya membayar utang dan lain-lain mulai diselesaikan satu per satu, dan saya ikut kelas itu sekarang sudah lebih dari dua tahun," jelasnya. Di awal mengikuti kelas life coaching, Nani mengaku sulit. Ia harus menghubungi semua orang yang memiliki sangkutan utang dengan dirinya.

"Mereka ada yang marah luar biasa, ada juga yang mengikhlaskan karena awalnya sudah untung dan sekarang merugi namanya juga bisnis, ada yang marah-marah minta langsung dibayar, dan yang bisa dicicil, dll," kenangnya. Di bulan ketiga kelas pelatihan itu, sekitar 2015, Nani diberi tugas membuat selai. Ia pun dipacu membuka usaha kecil-kecilan dari selai signiture-nya.

"Bulan ketiga itu saya ditugasi untuk membuat selai karamel, dari situ saya mulai buat dan saya tes rasa ke beberapa orang. Awalnya rasanya enggak enak pahit. Modal awalnya itu Rp200 ribu dan hasilnya menjadi 10 botol selai, saya jual dan tidak ada yang beli," kata dia. Meskipun begitu, Nani pun tidak menyerah untuk menemukan resep yang pas untuk selai karamelnya.

Setelah mendapatkan resep yang pas, ia mulai mengikuti bazar. "Dari sana (bazar) mulai setiap minggu ada yang beli. Sekarang lumayan, seminggu bisa ada 100 botol, dijual daring. Jadi saya buat sesuai dengan pesanan saja dengan sistem pre-order. Satu botol selai harganya Rp50 ribu," imbuhnya.

Sambal
Sukses dengan bisnis selai, Mei 2017 ia mulai merambah membuat sambal. Waktu yang sama saat ia mendengar kabar mantan suaminya akan menikah lagi. Sambal yang dijualnya tersebut diberi nama Sambal Janda. Upayanya itu bagian dari terapi agar dapat menerima status jandanya. "Saya beri nama Sambal Janda karena bagian dari terapi saya untuk menerima status saya sebagai janda. Ditambah waktu itu mantan suami mau menikah jadi semakin tersadar status saya janda, jadi insecure dengan masa depan, terutama soal anak. Jadi saya tuangkan semua perasaan itu pada sambal. Secara finansial saya terbantu dan emosional saya juga terilis," jelasnya.

Nani mengaku resistan dengan status janda. Belum lagi stigma yang terkandung dalam kata itu. Stigma itu pun yang mendera dirinya. "Pernah dapat (stigma), kadang serbasalah. Kadang justru laki-laki yang sudah beristri yang terkadang malah menggoda dan itu membuat saya terganggu, ada yang ingin poligami dan itu cukup membuat saya terhina dan risih, padahal saya sudah berusaha menjaga diri, tapi ada saja yang seperti itu," jelasnya.

Sambal dijual secara daring dengan mekanisme pre-order dengan sistem paketan. Satu paket yang dijual seharga Rp135 ribu tersebut ada empat botol macam sambal, yaitu sambal cumi petai, sambal bawang bangka, sambal jambal, dan sambal jengkol. Uniknya sambal-sambal itu dulunya favorit mantan suaminya. Selain berbisnis selai dan sambal, Nani merintis bisnis pakaian muslim berinisial NK yang didesainnya dan bekerja sama dengan beberapa penjahit.

Namun, bisnis fesyennya bersifat musiman, seperti menjelang Lebaran, pesta pernikahan, dan musim haji. Ragam usahanya itu mendapatkan dukungan dari orangtua Nani. Pendapatannya digunakan mencicil utangnya sebesar Rp2 miliar. Kini tersisa Rp600 juta yang harus dilunasi. (M-4)

Komentar